
Lili terus saja menunggu Kei hingga bocah cilik itu keluar dari sekolahnya. Bahkan tak lagi terlihat tatapan aneh dari ibu-ibu di sana karena berkat panggilan Kei terhadapnya itu. Paling tidak, mereka berpikiran kalau memang Lili ini adalah tante dari Kei. Lili pun tak mempermasalahkan bahkan terkesan acuh saja dengan ibu-ibu kepo di sana.
"Ante, ayo ulang" seru Kei setelah keluar dari kelasnya.
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Kei segera saja mengajak Lili agar segera pulang karena ternyata hari pertama sekolahnya begitu melelahkan. Walaupun ia sebenarnya senang karena banyak teman, namun tak dipungkiri kalau ia kelelahan. Lelah bermain bersama dengan yang lainnya.
"Ayo. Mari ibu-ibu, kami pulang dulu" ucap Lili yang kemudian berpamitan pada ibu-ibu di sana yang juga menunggu anaknya.
"Iya, silahkan" jawab salah satu ibu-ibu mewakili.
Lili segera menggandeng tangan Kei dengan membawakan tasnya. Sepertinya Kei keberatan membawa tasnya yang berisi banyak makanan. Hari ini ada beberapa ibu-ibu yang memang membagikan makanan ringan kepada anak sekelasnya. Tentu saja Kei langsung menerimanya dan memasukkan asal dalam tasnya.
"Ante, tolong bilanin cama papa buwat bawain teman-teman Kei matanan ya. Bial tita dantian kacih-kacih matananna. Macak tadi hampil cemuana badi-badi matanan, eh Kei ndak bawa apa-apa" ucap Kei yang mengadu tentang kejadian di kelasnya tadi.
Ini juga bukan salah dari Kei karena tidak membawa makanan untuk dibagikan. Pasalnya memang tidak ada aturan dari sekolah untuk bagi-bagi makanan pada temannya yang lain. Ini hanya inisiatif dari para orangtua agar semua anak-anaknya akrab dengan teman sekelasnya. Bukan sogokan, hanya untuk agar seseorang berani memberikan sesuatu pada yang lainnya.
"Baiklah. Mungkin papa lupa membeli makanan untuk Kei dan teman-teman yang lain. Kan masih ada hari esok juga. Kalau semuanya bawa makanan hari ini, bisa-bisa nih tas Kei nggak muat buat taruh itu semua" ucap Lili sambil terkekeh pelan.
Lili mencoba menenangkan dan menghibur Kei agar tidak sedih lagi. Apalagi Kei sepertinya kecewa karena sang papa tak mengetahui kebiasaan saat anak-anak awal masuk sekolah. Untuk bekal saja, harus Lili yang membawakannya. Kei mengetahui itu karena saat di mansion tadi tidak ada papanya membawa bekal makanan untuknya.
"Nah... Kita sudah sampai nih di kampus. Kei mau langsung ke ruangan papa atau ke kantin untuk makan siang?" tanya Lili.
"Ke tantin dulu, ante. Kei cudah lapal" jawab Kei sambil mengelus perut kecilnya.
__ADS_1
"Baiklah" ucap Lili yang langsung menggandeng tangan Kei menuju kantin.
Keduanya tadi memang berjalan kaki dari sekolah Kei karena jaraknya dengan kampus sangat dekat. Mereka menuju kantin kemudian sesampainya di sana langsung saja Lili memesankan makanan untuk Kei. Kei pun mengedarkan pandangannya kearah kantin yang memang ramai karena sudah mulai memasuki jam makan siang.
"Papa..." seru Kei sambil melambaikan tangannya saat melihat papanya itu memasuki area kantin.
Aldo yang mendengar seruan dari suara anaknya pun langsung mengedarkan pandangannya. Ia tengah melihat Kei melambaikan tangan padanya sambil tersenyum antusias. Aldo yag tadinya ingin membeli jus buah untuk dibawanya ke ruangan dosen itu pun memilih untuk mendekati anaknya.
"Kei sudah pulang sekolah kok nggak langsung ke ruangan papa?" tanya Aldo dengan tatapan penasarannya.
"Lalu dimana Tante Lili?" lanjutnya bertanya.
"Tuh Ante Lili lagi cibuk pecan matanan" ucap Kei yang langsung menunjuk kearah penjual bakso yang memang sangat ramai.
"Adi Kei ditawalin cama Ante Lili buat ke luanan papa atau tantin. Kei pilih ke tantin coalna lapal. Papa cih ndak bawatan Kei betal matanan kayak yang lainna. Adi di cekolah cemuana badi-badi matanan, Kei yang diam cendili kalna ndak puna apa-apa" ucap Kei yang langsung kesal jika mengingat itu semua.
"Astaga... Kan nggak ada peraturan harus bawa atau bagi makanan seperti itu, Kei. Papa juga mana tahu kalau harus bawa bekal" ucap Aldo yang tak mau disalahkan.
"Matana papa tuh halus kleatif tayak ibu-ibu yang ladi antal nanak cekolah" ucap Kei yang juga tak mau kalah dari Aldo.
Aldo yang memang tak mempunyai pengalaman apapun mengenai mengantar anak sekolah pun tentu hanya memberangkatkan seadanya saja. Tentu saja yang penting anaknya memakai seragam, membawa buku, dan sampai sekolah dengan selamat. Bahkan dulunya dia juga tak dibawakan bekal makanan karena ada uang saku, bisa jajan.
"Kan kamu bisa beli jajanan. Papa bawain kamu uang saku lho" ucap Aldo yang terus membela dirinya.
__ADS_1
"Tan matananna halus cehat, tayak cayul dan buah ditu. Untung Ante Lilu bawain Kei betal matanan" ucap Kei.
"Ya udah sih, kan udah ada Tante Lili yang bawain. Kok malah marah sama papa" ucap Aldo dengan acuh.
Kei kesal bukan main dengan papanya itu. Bahkan Aldo tampak acuh saja karena memang ia tak mempunyai pengalaman apa-apa. Sedangkan Kei kesal karena papanya tidak peka sama sekali dengan kemauannya. Tak berapa lama, Lili datang dengan membawa dua mangkok bakso di atas nampan yang dibawanya.
"Kok mukanya pada tegang dan kaya marah-marahan gitu?" tanya Lili setelah meletakkan mangkok itu di atas meja.
Keduanya hanya diam saja, tak menjawab apapun pertanyaan Lili. Bahkan Aldo langsung mengambil satu mangkok yang ada di depan Lili kemudian memakannya dengan lahap. Sontak saja Lili menatap kesal pada Aldo yang seenaknya makan baksonya. Ia sudah mengantri lama namun malah diambil oleh Aldo.
Bahkan mangkok berisi bakso yang ada di depan Kei juga langsung dimakan oleh bocah kecil itu. Lili semakin dibuar bingung oleh tingkah dua laki-laki berbeda usia itu. Sungguh dirinya yang kelaparan itu dibuat bersungut-sungut oleh Aldo.
"Bapak Aldo yang terhormat, itu bakso punya saya. Saya itu lapar ya, mana ngantri itu bakso lama sekali. Main diambil aja baksonya" kesal Lili sambil menatap nanar baksonya.
"Ya udah sini biar saya suapin, kita makan berdua. Mau nggak?" tanya Aldo dengan raut wajah tengilnya sambil menaikturunkan alisnya.
"Ogah... Kena jigongnya bapak itu bikin alergi" ucap Lili sambil bergidik ngeri.
"Jangan salah, mulut saya itu bau wangi. Nih coba aja cium" ucap Aldo yang langsung memonyongkan bibirnya kearah Lili.
Lili yang melihat itu langsung saja mengambil mangkok kecil berisi sambal. Kemudian diambilnya sendok kecil dan langsung mengarahkannya pada mulut Aldo. Aldo yang tak sempat menghindar langsung berlari mencari air minum apalagi rasa pedasnya sampai masuk dalam mulutnya.
"Rasain..." seru Lili.
__ADS_1
Hahahaha...