
"Bela terus tuh anaknya. Udah tahu salah, malah dibela terus" ucap Aldo yang kemudian memilih pergi dari taman.
Aldo langsung pergi menuju mobilnya itu. Bahkan tanpa mengucapkan terimakasih pada Ageng yang telah menyelamatkan Kei. Wajahnya pun datar dan terkesan ketus. Hal ini membuat Lili hanya bisa menghela nafasnya pasrah.
"Padahal ini anaknya dia. Napa jadi anak gue?" gumam Lili pelan sambil geleng-geleng kepala.
Kei terlihat takut dan khawatir karena papanya marah dengan dia. Apalagi wajah Aldo yang menatapnya dengan tajam itu membuat semua anak-anak di sana juga ketakutan. Lili langsung menundukkan kepalanya sejajar dengan tubuh Kei.
"Kei nggak usah khawatir tentang papa yang marah. Biasa, papamu kan memang kurang obat" ucap Lili sambil terkekeh pelan.
Kei hanya menganggukkan kepalanya. Jika nanti papanya marah, ia akan pulang ke rumah Lili saja. Lili segera menegakkan tubuhnya kemudian tersenyum kearah Ageng dan anak-anak Panti Asuhan yang lainnya.
"Terimakasih sudah menjaga dan menolong Kei. Ini ada sedikit untuk kalian beli jajan" ucap Lili yang langsung menyerahkan beberapa lembar uang yang tadi diambil dari tasnya.
Bahkan Lili langsung saja mengambil tangan Ageng agar mau menerima uang yang diberikannya itu. Ia memberikan uang itu bukan karena kasihan melihat penampilan anak-anak ini yang sedikit lusuh, namun sebagai ucapan terimakasih.
Bahkan Ageng yang tadi diam karena bingung harus menerima atau tidak, begitu tertegun dengan aksi Lili. Bahkan tangan Ageng menggenggam erat beberapa lembar uang kertas yang terlihat tebal itu. Tangannya gemetaran karena baru pertama kalinya memegang uang sebanyak ini.
"Ya Allah... Ini banyak sekali, tante. Ini kebanyakan kalau buat kami jajan" ucap Ageng yang segera mengangsurkan uang itu pada telapak tangan Lili.
Lili langsung saja menolak dengan halus. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada pertanda menolak uang itu. Apalagi ia tahu kalau mereka pasti takut membawa uang itu.
"Kalian harus menerimanya. Itu jajan buat beli permen" ucap Lili sambil tersenyum.
"Bisa satu karung besar itu permennya kalau beli pakai uang ini" ucap Ageng dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Beberapa anak Panti Asuhan yang tahu kalau kakaknya telah diberikan yang banyak oleh Lili pun langsung memeluk gadis itu. Mereka malah menangis dalam pelukan Lili. Lili menyambut mereka dengan pelukan hangatnya. Sedangkan Ageng memeluk Kei yang kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Terimakasih. Akhirnya kami bisa makan nasi lagi" seru anak-anak kecil itu.
Lili begitu tertegun mendengar ucapan dari anak-anak kecil itu. Padahal ia sering membuang atau menyisakan nasi saat makan, namun anak-anak ini justru membutuhkan itu. Sungguh ia sangat berdosa dengan orang-orang di luaran sana yang ternyata membutuhkan sesuatu yang ia makan.
Memang Panti Asuhan itu tak mempunyai donatur tetap sehingga untuk makan mengandalkan hasil gaji dari Ageng atau pengelolanya. Untuk makan anak-anak jumlah banyak pun mereka harus berusaha irit. Apalagi di sana ada bayi yang memang membutuhkan susu formula yang harganya lumayan mahal.
"Kalian memangnya mau makan nasi? Mau lauk ayam atau ikan?" tanya Lili dengan suara seraknya.
"Apa saja boleh. Yang penting ada nasinya" ucap salah satu dari mereka dengan antusias.
Lili hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Mereka langsung digiring Lili untuk duduk di kursi taman. Lili sama sekali tak mengingat kalau Aldo kini tengah menunggunya di dalam mobil. Mengingat hari masih pukul 10 pagi, tentu Lili santai saja kalau nanti pulang sendirian. Ia juga sudah hafal area tempat ini.
"Baiklah. Kita akan makan nasi sama-sama hari ini. Ageng, ini uang untuk beli nasi padang. Hitung semua anak-anak yang ada di Panti Asuhan sama pengelolanya juga ya. Lauknya mending ayam goreng saja, kuah dan sambalnya dipisah. Biar yang nggak bisa makan pedas nanti juga ikut menikmatinya" ucap Lili sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada Ageng.
"Nggak papa. Itu uang buat beli beras dan sayur untuk besok-besok. Yang sekarang, kita makan sama-sama. Sekalian tambahin dua porsi ya untuk kakak dan Kei. Lauknya ayam saja, sama dengan kalian. Nanti kita makan di tempat kalian" ucap Lili yang kekeh dengan keinginannya.
Ageng pun dengan pasrah menerima uang yang diberikan oleh Lili. Ageng pun segera pergi dari sana untuk membeli nasi padang sesuai dengan keinginan Lili. Sedangkan Lili dan Kei menuju ke Panti Asuhan untuk nantinya makan di sana.
***
"Lama sekali sih ini orang. Pada ngapain juga di sana?" gerutu Aldo yang sedari tadi melihat kearah sekitar mobilnya.
Hampir 15 menit dirinya menunggu Lili dan Kei di mobil. Namun dua orang itu sama sekali tak muncul batang hidungnya. Aldo kesal bukan main bahkan ingin sekali menjitak Lili dan Kei yang membiarkannya menunggu seperti ini. Tak berapa lama, Aldo melihat seseorang yang tadi bersama Kei kini tengah menyeberang jalanan di dekat mobilnya.
__ADS_1
"Oiii... Kei kemana? Kenapa Kei dan si Lili nggak ke sini?" seru Aldo yang niatnya ingin memanggil Ageng namun tak tahu namanya.
Ageng yang merasa ada seseorang yang mengajaknya berbicara pun langsung menunjuk dirinya sendiri dan menatap kearah Aldo. Aldo pun menganggukkan kepalanya pertanda memang benar ia mengajak dirinya berbicara.
"Kei dimana?" tanyanya sekali lagi.
"Kei sedang berada di Panti. Ini saya mau beli nasi padang di sana karena perintah kakak tadi" jawab Ageng dengan jujur.
"Buat apa nasi padang?" tanya Aldo dengan mengernyitkan dahinya heran.
"Buat dimakan sama-sama. Kami berniat makan sama-sama di Panti" jawab Ageng dengan hati-hati.
Aldo meraup wajahnya dengan kasar. Tak menyangka kalau akhirnya ia juga harus menunggu keduanya lama. Ia pikir setelah bertemu Kei, mereka akan segera ke kampus. Aldo pun memberi kode pada Ageng agar mendekat kearahnya.
"Ayo masuk. Biar saya bawakan nasi padangnya nanti" ucap Aldo pasrah.
Dengan ragu, Ageng masuk dalam mobil yang belum pernah ia naiki. Bahkan ia memasukinya dengan hati-hati agar tak kotor dan lecet mobilnya. Setelah memastikan Ageng masuk, Aldo melajukan mobilnya menuju warung nasi padang. Sesampainya di sana, Ageng langsung memesan 38 bungkus ditambah 3 lagi karena ada Aldo yang ikut.
"Letakkan di kursi penumpang" ucap Aldo memberi perintah pada pegawai warung nasi padang yang membantu.
"Ini buat bayar" ucapnya yang memberikan uang pada Ageng.
"Sudah diberikan oleh kakak tadi" ucap Ageng sambil memperlihatkan uang yang ada di tangannya.
"Itu buat kalian beli makanan lain saja. Bayar pakai ini" ucap Aldo dengan tegasnya.
__ADS_1
Ageng pun mau tak mau harus menggunakan uang itu. Apalagi tatapan tajam Aldo yang membuatnya sedikit takut. Ageng hanya pasrah saja karena hari ini dipaksa menerima semua pemberian orang.