
"Papa, napa tamu ndak tacih mama ucapan celamat cama hadiah? Mama cudah belajal telas demi lulus tuliah. Tapi papa ndak tacih apa-apa. Peyit cekali. Kei caja tacih boneta dan buna lho cama mama, ya wayopun patek uangna oma dan opa cih" ucap Kei menagih hadiah Lili pada papanya.
Saat ini Kei sudah pulang ke rumahnya dengan diantar oleh Pak Yono. Lili masih tidur saat Kei pulang. Ia minta tolong pada Mama Ningrum dan Papa Dedo agar diantar pulang ke rumahnya. Tapi mereka pagi ini sedang sibuk, alhasil Mama Ningrum minta tolong Pak Yono untuk mengantar Kei pulang.
"Kei... Kok kamu udah pulang? Diantar siapa? Mana Mama Lili?" tanya Aldo yang langsung mencari keberadaan calon istrinya.
"Ish... Papa lom dawab pelatanaan Kei, napa malah nana balik" ucap Kei dengan kesal karena pertanyaannya tak dijawab oleh papanya.
Aldo dan kedua orangtuanya sedang berada di meja makan. Rencanannya Aldo akan ke rumah Lili untuk menjemput Kei dan gadis itu pergi ke sekolah. Namun ia dikejutkan oleh kepulangan Kei yang tiba-tiba.
"Papa belum sempat beli hadiah buat mama, Kei. Kamu nggak usah berteriak gitu juga papa ingat kok kalau belum kasih hadiah" ucap Aldo menjawab pertanyaan anaknya.
"Sekarang papa tanya, mama mana? Kei pulang ke sini sama siapa?" tanya Aldo yang langsung menggendong anaknya.
Terlihat jelas kalau anaknya ini baru bangun tidur dan langsung ke sini. Apalagi Kei masih mengenakan piyama dan belum mandi. Sedangkan tangannya membawa tas yang ia yakini berisi seragam sekolahnya.
"Mama macih tidul. Kei ulang diantal cama Pak Nono. Mama capek, tidulna pulas cekali" ucap Kei.
Ia yakin Lili tidur begitu nyenyak hingga tak menyadari kalau Ke tak disampingnya itu karena kemarin tak bisa istirahat. Apalagi Mama Ningrum bercerita kalau Lili tak bisa tidur akibat terlalu memikirkan sidang skripsinya. Aldo pun memakluminya.
"Kalau begitu, oma mandikan Kei yuk. Terus kita berangkat sekolah" ucap Mama Nei yang sedari tadi hanya diam.
"Kei ndak mau cekolah. Kei hali ini libul cekolah dulu ya, oma. Mau temani papa beli hadiah buwat mama" ucap Kei sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Ladian mama macih tidul. Ntal capa yang temani Kei di cekolah?" lanjutnya sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
"Emm... Biar oma saja yang temani Kei di sekolah ya. Masa iya kemarin Kei udah nggak berangkat eh sekarang tidak masuk lagi. Lagian nanti papa mau cari hadiah buat mama sendiri. Katanya mau bikin surprise rahasia" ucap Mama Nei sambil memberi kode pada anaknya lewat lirikan mata.
Mama Nei ingin cucunya berangkat sekolah. Apalagi kemarin Kei sudah tidak berangkat. Setidaknya untuk kali ini, mereka harus mencoba membiasakan diri agar Kei bersekolah tanpa kehadiran Lili. Pastinya Lili setelah ini juga akan sangat sibuk dengan kegiatan pendidikannya di rumah sakit.
"Iya, papa mau kasih sesuatu yang sangat rahasia buat Mama Lili. Jadi Kei sekolahnya sama oma ya. Nanti opa juga ikutan antar kok" ucap Aldo ikut membujuk anaknya.
"Opa akan antar sekolah Kei untuk pertama kalinya. Jadi Kei berangkat sekolah ya" ucap Papa Tito.
Kei terdiam mendengar semua bujukan yang dilontarkan oleh oma, opa, dan papanya itu. Kei menatap ketiganya saling bergantian. Apalagi melihat Mama Nei yang sangat berharap bisa mengantar Kei. Akhirnya Kei menganggukkan kepalanya pasrah karena tak tega melihat sang oma.
"Baiklah. Ayo kita mandi dan bersiap ke sekolah. Salim dulu sama papa. Soalnya papamu sudah mau berangkat bekerja di rumah sakit" ucap Mama Nei memberi perintah pada sang cucu.
Kei menganggukkan kepalanya kemudian menyalami tangan papanya. Setelah pamit, Kei dibawa Mama Nei pergi ke kamar. Di ruang makan, tinggallah Papa Tito dan Aldo yang melanjutkan sarapannya.
"Iya, pa. Aldo pamit dulu, titip Kei" ucap Aldo yang kemudian berpamitan pada papanya itu.
***
"Nad... Nad..." seru Kei sambil melambaikan tangannya kearah temannya, Nadeline.
Nadeline yang dipanggil oleh seseorang pun membalikkan badannya. Ternyata di sana ada Kei yang tengah melambaikan tangan kearahnya. Ia juga membalas lambaian tangan itu dan tersenyum. Terlihat di sana Kei langsung berlari kearah Nadeline setelah melepaskan pegangan tangannya dari sang oma.
__ADS_1
"Tuh bocah... Kaya Aldo dulu ya, pa. Kalau lihat cewek langsung cepat" ucap Mama Nei sambil geleng-geleng kepala.
"Iya, kalau soal cewek itu Aldo memang cepat seperti Kei juga. Beda sama papa, cuma ngincarnya mama terus dari kecil sampai sudah besar" ucap Papa Tito sambil mengingatkan istrinya tentang kejadian dulu.
Mama Nei hanya melirik sinis kearah Papa Tito itu. Ia tak yakin kalau dulu suaminya itu hanya melirik kearahnya. Pasalnya sudah banyak informasi kalau Papa Tito itu sangat playboy, walaupun hatinya sudah tertaut pada Mama Nei.
Mama Nei pun segera saja pergi dari sana, meninggalkan Papa Tito yang malu sendiri. Papa Tito mengikuti sang istri dari belakang kemudian mendekat kearah Kei yang tengah berbincang dengan Nadeline. Di sana juga ada Brama yang mengantar Nadeline.
"Nad Nad, tenalin ini oma cama opa atu" ucap Kei memperkenalkan orangtua Aldo itu.
"Halo oma, opa... Aku Nadeline" ucap Nadeline memperkenalkan diri kemudian mengajak bersalaman.
"Duh... Lucunya. Pengen deh punya cucu perempuan kaya gini" ucap Mama Nei yang begitu gemas dengan bocah perempuan yang rambutnya dikuncir dua itu.
Mama Nei bahkan mencium dan memeluk Nadeline dengan lembut. Sedangkan Papa Tito langsung menyalami Brama. Papa Tito sudah mengenal Brama walaupun tidak dekat. Apalagi keduanya sering terlihat dalam pertemuan bisnis.
"Ternyata ini anak kamu? Wah... Kayanya bakalan sering dibawa istri saya buat dibawa pulang. Lihat tuh... Dah nggak mau lepas istri saya dengan anak kamu" ucap Papa Tito sambil terkekeh pelan.
"Iya, tuan. Tak apa juga kalau Nadeline dibawa istri anda. Lumayan, saya jadi nggak butuh babysitter buat jagain lagi. Irit biaya" seloroh Brama yang bercanda.
Papa Tito hanya menganggukkan kepalanya sambil terkekeh pelan. Ia tak menganggap serius ucapan Brama itu. Pasalnya ia tahu kalau Brama tengah bercanda. Lagi pula tak mungkin juga Brama mau menjadikan Mama Nei sebagai babysitter. Wanita paruh baya itu saja sibuk menemaninya bekerja.
"Kami macuk telas dulu ya, opa" pamit Kei pada Papa Tito yang sedari tadi asyik berbincang dengan Brama.
__ADS_1
"Iya. Jangan nakal dan dengarkan perintah guru ya" ucap Papa Tito memberi pesan.
Nadeline pun juga berpamitan kepada papanya. Keduanya diantar oleh Mama Nei ke kelasnya. Sedangkan Papa Tito dan Brama harus segera berangkat bekerja. Untuk hari ini, Mama Nei yang akan menjaga Kei di sekolahnya.