Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Permintaan Maaf 2


__ADS_3

Selama kurang lebih 15 menit mereka mengendarai mobil dengan diiringi oleh beberapa kendaraan dibelakangnya. Perjalanan yang seharusnya hanya membutuhkan waktu 5 menit saja, ternyata lebih dari perkiraan karena banyaknya orang-orang yang datang untuk menyaksikan konferensi pers yang berlangsung. Bahkan untuk mobil yang ingin masuk area gedung itu saja tertutup oleh banyaknya lautan manusia.


Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Aldo itu sampai didepan gedung pertemuan itu kemudian diberhentikannya kendaraan itu dipinggir jalan. Mobil sama sekali tak bisa melintas membuat Aldo dan Arlin hanya bisa menghela nafasnya kesal. Sungguh kesal mereka karena nanti pasti akan susah bagi keduanya memasuki area itu.


"Ayo, acara itu sudah mulai. Bahkan orang itu malah bikin asumsi publik kepada kamu semakin buruk" ucap Aldo sambil mengepalkan kedua tangannya.


Sedari tadi Aldo memang tersambung dengan live konferensi pers itu untuk memantau apa yang terjadi melalui ponselnya. Beberapa media yang paham kalau akan terjadi keributan saat Aldo dan Arlin datang, langsung saja membantu untuk memberikan jalan. Mereka langsung meminta orang-orang yang melihat acara itu memberikan jalan.


Aldo langsung turun dari mobil kemudian mengeluarkan kursi roda dan membantu Arlin keluar. Aldo langsung mendorong kursi roda suaminya menuju kearah konferensi pers itu dengan didampingi pengacaranya yang ternyata sudah ada disana. Kehadiran Aldo dan Arlin itu langsung saja membuat semua orang yang ada disana ricuh.


Banyak tatapan meremehkan dan merendahkan yang dilayangkan oleh orang-orang itu kepada Arlin. Namun Arlin yang acuh pun hanya menatap sinis semua orang disana walaupun telinganya terasa sakit akibat ucapan-ucapan menyakitkan itu.


"Dasar anak durhaka".


"Tak pantas dia ada di dunia ini".


"Karma akan segera berlaku untukmu".

__ADS_1


Bahkan kini konferensi pers langsung dihentikan sementara karena mendengar kericuhan itu. Aldo dan Arlin yang kini sudah berhasil keluar dari kerumunan orang itu langsung saja mendekat kearah meja konferensi pers. Melihat kedatangan dari Arlin dan Aldo, kedua orang disana langsung berwajah pucat pasi.


"Silahkan dilanjutkan konferensi persnya sampai selesai karena setelah ini kami juga akan melakukan hal yang sama. Jelek-jelekkanlah nama istri saya sampai kalian puas sampai nanti mulut kalian takkan bisa bicara lagi" ucap Aldo dengan sinisnya.


Tentu ucapan Aldo itu membuat semua orang yang ada disana langsung saja terdiam. Mereka semua merasa tersindir walaupun sebenarnya sindiran itu diperuntukkan bagi orangtua Arlin. Setelah mereka diam, konferensi pers dilanjutkan bahkan Aldo masih sigap berdiri dibelakang kursi roda istrinya itu.


"Silahkan pak, bu. Dilanjutkan ucapannya yang tadi" ucap salah satu awak media.


Namun Papa Madin dan Mama Irene hanya terdiam seakan sudah tak bisa mengungkapkan apa yang kalimat yang telah keduanya susun saat di rumah tadi. Meeka kini malah saling pandang membuat semua yang hadir menatapnya dengan tatapan penasara. Apalagi mereka terlihat gugup dan gelisah saat melihat kedatangan Arlin dan Aldo.


"Ayo dong lanjutkan. Mumpung itu anaknya ada disini, kalau mereka nanti marahin kalian maka kami akan sigap memberinya pelajaran" seru salah satu orang yang menonton konferensi pers.


Tak menyangka dia, kalau hanya dengan ucapan yang belum bisa dibuktikan kebenarannya itu ternyata membuat semua orang sudah berani menghakiminya. Padahal apa yang diucapkan oleh mereka itu belum tentu benar, namun bisa-bisanya langsung menuduhnya. Arlin menghela nafasnya kasar karena emosi yang kini meletup-letup dalam dadanya.


"Emm... Baiklah. Arlin, anak papa yang cantik dan baik. Maafkan kesalahan papa dan mamamu ini ya, kami selaku yang tua minta maaf kepadamu kalau banyak salah" ucap Papa Madin dengan gugup.


"Benar Arlin. Kami minta maaf dan untuk surat somasi yang mengatakan kalau kita akan dipenjara jika tak melakukan ini, tolong sekali untuk kau urungkan niatmu" ucap Mama Irene menambahi.

__ADS_1


Jantung keduanya berdetak lebih cepat dari tadi pasalnya kini posisi mereka tengah terdesak. Sebisa mungkin mereka harus memilih kata yang umum digunakan, jangan sampai merembet ke masalah yang terjadi. Tentunya jika mereka tahu kalau permasalahan ini bermula dari keduanya, bisa hancur semuanya.


Tak lupa juga mereka menggunakan mimik wajah seakan-akan tersakiti untuk menarik simpati banyak orang. Sedangkan Arlin sendiri, hanya bisa geleng-geleng kepala dan menatap remeh kepada keduanya. Tentunya Arlin tahu kalau mereka kini tengah bersandiwara agar bisa menarik simpati semua orang yang melihat.


"Minta maaf untuk apa? Apa kesalahan kalian hingga Arlin melayangkan somasi? Bukannya setiap ucapan permintaan maaf itu pasti ada sebabnya. Didalam surat somasi sudah ada penjelasannya, apa perlu saya yang buka disini?" ucap Arlin dengan nada datarnya.


Tentunya apa yang diucapkan oleh Arlin itu membuat orangtuanya membulatkan mata. Mereka tak menyangka kalau Arlin sampai mengucapkan seperti itu, padahal keduanya sudah memberi kode untuk wanita itu mengangukkan kepala. Namun dasarnya Arlin ingin membuat keduanya malu, sehingga cuek saja dengan kode yang diberikan.


"Ini hanya salah paham. Iya kan, nak?" ucap Papa Madin yang kemudian berdiri hendak mendekati Arlin.


Namun dengan sigap, tim pengacara Arlin segera saja mencegah dan memintanya segera melanjutkan acara ini. Tim pengacara tentu saja harus melindungi clientnya yang sedang masa penyembuhan dari kelumpuhannya itu agar tak disakiti oleh kedua orang itu. Papa Madin hanya bisa mengepalkan kedua tangannya karena tak bisa sedikit saja mempengaruhi Arlin.


"Tolong segera dilanjutkan dan jawab saja pertanyaan dari client kami. Toh itu pertanyaan umum dan ada pada surat somasi. Kalau kalian lupa, bisa baca lagi itu surat somasinya" ucap pengacara Arlin.


Papa Madin dan Mama Irene sudah tak bisa berkata-kata lagi. Mulutnya kelu dan tertutup rapat karena bingung akan memberikan jawaban apa. Padahal semua kalimat telah tersusun diatas kepala, namun seakan menjadi ambyar karena kedatangan dari Arlin dan Aldo. Mama Irene memegang tangan suaminya untuk saling menguatkan jika nantinya kejadian tak terduga akan terjadi.


Mereka terlihat menarik dan menghembuskan nafasnya berulangkali untuk menenangkan diri. Arlin dan Aldo yang melihat kegugupan keduanya hanya bisa menahan tawanya. Keduanya tak menyangka jika hanya dengan seperti ini saja sudah membuat lawannya pucat pasi seperti mayat hidup.

__ADS_1


Apalagi bayang-bayang semua orang yang ada didepan keduanya saat ini akan menimpuki orangtuanya menggunakan tomat, air, dan tepung. Ya... Para pendukung dan penonton konferensi pers ini membawa barang-barang seperti itu sebagai senjata untuk dilemparkannya pada Arlin jika datang di acara itu.


__ADS_2