
Pagi ini Lili bangun dari tidurnya dengan semangat baru. Pasalnya beban pikirannya mengenai skripsi setidaknya sedikit berkurang. Walaupun caranya mendapatkan acc dari Aldo itu sedikit salah dan bisa dikatakan curang, namun itu tak terlalu ia pikirkan. Pasalnya memang salahnya Aldo yang seperti menjahili Lili saat sedang konsultasi.
Walaupun melalui orang dalam seperti Mama Nei agar bisa menaklukkan Aldo, namun baginya itu tantangan besar. Apalagi ia juga tak enak hati dengan Mama Nei karena harus membantunya dalam menyelesaikan skripsinya. Namun karena sekarang Mama Nei yang memintanya agar selalu berbicara kepadanya jika butuh sesuatu, tentu Lili takkan melewatkannya.
"Semangat banget pagi ini, nak" tegur Mama Ningrum yang melihat anaknya tersenyum saat turun dari tangga lantai 2 rumah.
"Iya dong. Pagi ini Lili mau ke rumah sakit untuk melanjutkan penelitianku karena tertunda akibat kecelakaan waktu itu. Apalagi ini beberapa bab sudah di acc sama dosen Lili" ucap Lili dengan antusias menceritakan semuanya.
Apalagi semalam Lili langsung masuk dalam kamarnya karena terlalu lelah sehingga tak sempat bercerita. Mama Ningrum begitu antusias mendengarkan cerita dari anaknya itu. Bahkan Mama Ningrum langsung menarik lembut tangan Lili agar segera duduk di ruang makan saja.
Akhirnya mereka malah berbincang seru dengan membicarakan tentang skripsi Lili. Padahal makanan di atas meja makan semuanya sudah siap di sana. Namun malah seakan tak dihiraukan oleh keduanya. Saat keduanya tengah asyik berbincang, tiba-tiba saja Papa Dedi datang dengan raut penasarannya.
"Duh asyiknya yang ngobrol tanpa peduli sama makanan di depannya. Bahkan papa udah duduk di sini sedari tadi malah nggak dihiraukan sama sekali" sindir Papa Dedi pada dua orang perempuan yang sangat berarti untuknya itu.
Sontak saja Mama Ningrum dan Lili segera mengalihkan pandangannya. Keduanya malah cengengesan melihat Papa Dedi yang seakan penasaran dengan apa yang keduanya bicarakan.
"Ngobrolin apa sih, ma?" tanya Papa Dedi.
"Ini lho, pa. Anak kita ini skripsinya udah lanjut ke bab selanjutnya. Bahkan ini penelitiannya juga akan segera berlanjut di rumah sakit. Mama sungguh tak sabar buat datang dan menyaksikan Lili wisuda" ucap Mama Ningrum dengan antusias.
"Wah benarkah? Akhirnya... Semoga lancar terus ya, nak. Kami ingin sekali melihatmu di acara prosesi wisuda. Kan waktu SMA kita tidak mendampingimu. Untuk kali ini, papa dan mama ingin mendampingimu" ucap Papa Dedi dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Papa Dedi dan Mama Ningrum ingin sekali untuk menyaksikan prosesi wisuda anaknya itu. Moment beberapa tahun sekali setelah anaknya lulus di jenjang pendidikannya, namun baru kali ini mereka akan menyaksikannya. Sebelumnya mereka sama sekali tak peduli dengan hal itu karena hanya memikirkan biaya pendidikannya saja.
Sedangkan Lili yang mendengar ucapan dari orangtuanya itu sontak saja merasa terharu. Ia tak menyangka kalau wisudanya kali ini begitu dinantikan oleh orang yang ia sayangi. Bahkan kini mata Lili sudah berkaca-kaca karena merasakan begitu diinginkan oleh orangtuanya.
"Lili berjanji akan bersemangat untuk menyelesaikan skripsi ini walaupun banyak rintangan yang menghadang. Do'ain Lili ya ma, pa" ucap Lili yang langsung berdiri dari posisi duduknya.
Bahkan Lili langsung berjalan mendekat kearah orangtuanya dan langsung memeluk keduanya. Ia sungguh bahagia. Walaupun belum menyelesaikan skripsinya, namun moment sidang dan wisudanya sudah dinantikan oleh kedua orangtuanya. Ia merasa begitu didukung atas semua pilihannya.
"Do'a kami selalu menyertaimu, nak" ucap Papa Dedi sambil tersenyum tulus.
Kedua pipi Lili dicium lama oleh Papa Dedi dan Mama Ningrum. Lili seperti anak kecil yang pipinya selalu diciumi oleh kedua orangtuanya itu. Setelah adegan pelukan yang mengharukan itu, segera saja mereka melakukan sarapan.
Hari sudah beranjak siang dan Lili juga Papa Dedi harus segera memulai aktifitasnya. Setelah sarapan, Lili segera keluar rumah kemudian masuk dalam mobilnya. Di sana sudah ada Pak Yono yang telah siap berdiri di samping mobilnya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang untuk menuju ke rumah sakit, tempat Lili melakukan penelitian.
"Selamat pagi, dok" sapa Lili sambil tersenyum setelah duduk di depan meja kerja dokter yang membimbingnya dalam penelitian ini.
Setelah sampai di rumah sakit, Lili segera saja keluar dari mobilnya kemudian berjalan masuk. Sedangkan Pak Yono memilih untuk menunggu di kantin. Pak Yono memang sudah diminta oleh orangtua Lili agar tak meninggalkan gadis itu.
"Akhirnya kamu kembali lagi ke sini. Para pasien kamu dulu yang kamu jadikan responden pada menanyakan kamu lho. Mereka rindu sama calon dokter muda Lilian ini" ucap dokter itu sambil terkekeh pelan.
Penelitian Lili kali ini memang sasarannya adalah anak kecil. Hal ini berkaitan tentang tindakan medis yang cocok diterapkan pada anak-anak agar tak mepengaruhi kondisi psikologisnya. Tentu saja Lili mengadakan survey dengan anak-anak yang sedang menderita suatu penyakit tertentu.
__ADS_1
"Mereka masih dirawat di sini?" tanya Lili penasaran.
Pasalnya sudah satu bulan lamanya mereka tak berjumpa. Hal ini tentu bisa saja membuat mereka lupa dengannya. Namun ternyata anak-anak itu sama sekali tak melupakannya. Hal itu tentu membuat Lili senang dan bersemangat.
Apalagi anak-anak ini merupakan pasien khusus yang memang membutuhkan tindakan medis yang banyak. Mereka juga merupakan anak-anak yang terkena sakit yang lumayan parah. Sehingga segala tindakan medis akan berpengaruh pada kesehatan mental mereka.
"Masih dong. Bahkan ada beberapa yang dikirim ke luar negeri karena tak ada perubahan sama sekali. Tapi itu hanya sebagian kecil saja, mereka masih di sini dan di rawat di gedung sebelah" ucap Dokter Yuni.
Lili hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Pasalnya saat sebelum kecelakaan itu terjadi, Lili sempat mendengar kalau orangtua pasien ada yang berencana merawat mereka di rumah atau luar negeri.
Lili pun segera saja keluar ruangan bersama dengan Dokter Yuni. Mereka segera menuju gedung sebelah untuk menemui para pasien yang dimaksud. Tentu saja itu atas inisiatif dari Lili sendiri untuk menemui mereka. Lili juga rindu dengan mereka.
"Apakah sudah ada yang dinyatakan sembuh, dok?" tanya Lili dengan tatapan penasaran.
"Amira sudah sembuh. Bahkan sekarang dia sudah tidak merasakan sakit lagi" ucap Dokter Yuni dengan tersenyum sendu.
Lili mengernyitkan dahinya heran. Pasalnya kalau memang Amira itu sudah sembuh, namun wajah Dokter Yuni berkata lain. Bahkan senyum sendunya itu membuat Lili mengartikan ada maksud lain pada ucapannya itu.
"Syukurlah kalau Amira sudah sembuh" ucap Lili dengan singkat.
"Amira sudah tenang di sana. Ia sudah dipanggil oleh Tuhan" ucap Dokter Yuni dengan senyumannya.
__ADS_1
Lili pun hanya bisa mengalihkan pandangannya kearah lain. Tentu saja Lili harus bisa menyembunyikan kepedihannya dibalik senyumnya itu. Kini Lili hanya bisa berusaha tegar kareba bagaimanapun Amira itu adalah sosok anak yang dekat dengannya.