
"Baguslah kalau anda masih bahagia berada disini. Semoga nantinya kalau diberi hukuman diatas 20 tahun penjara juga masih bisa merasakan bahagia juga ya" ucap Arlin sambil terkekeh sinis.
Tentunya raut wajah yang sombong tadi langsung luntur seketika. Padahal sebelumnya ia yakin kalau bisa dengan mudah lolos dari hukuman penjara. Ia akan melakukan segala cara agar bisa meloloskan diri terlebih dengan uang sisa donasi yang masih lumayan banyak. Namun ternyata Arlin lebih mengetahui tentang isi pikiran dari Papa Madin yang tentunya sudah merencanakan sesuatu yang tidak baik.
Setelah mengatakan hal itu dan Papa Madin terdiam juga tertunduk wajahnya, Aldo segera saja mendorong kursi roda Arlin untuk pergi dari sana. Ia tak mau sampai istrinya ini terluka oleh kalimat-kalimat yang diucapkan oleh papa mertuanya itu. Pasalnya Papa Madin itu mempunyai tabiat tidak mau mengalah dan berucap pedas.
"Tunggu..." seru Papa Madin membuat Aldo menghentikan laju kursi roda istrinya.
Tanpa membalikkan badan dan memutar kursi roda istrinya, mereka lebih memilih membelakangi laki-laki paruh baya itu. Mereka masih kesal dengan ucapan Papa Madin yang sombongnya membuat keduanya muak. Apalagi tidak ada terucap kalimat maaf kepada mereka membuat keduanya kini semakin mati rasa.
"Mamamu pasti akan kecewa kalau kamu melakukan hal seperti ini kepada papamu dan sahabatnya. Kalian harusnya merendahkan egomu untuk melepaskan kami dan memaklumi perbuatan kami. Toh kami seperti ini juga karena kamu yang sebagai anak terlalu pelit dan tidak mementingkan kami" ucapnya tanpa perasaan.
Aldo yang mendengar ucapan menyakitkan dari bibir Papa Madin pun langsung mengepalkan kedua tangannya. Sedangkan Arlin langsung terdiam mematung seakan tak percaya dengan sikap papanya yang malah menyalahkan dirinya itu. Padahal sudah jelas kalau mereka yang bersalah namun malah kini seakan playing victim.
__ADS_1
Mama Irene memang dulunya adalah sahabat dari mamanya Arlin. Hubungan ketiganya sangat baik bahkan mamanya Arlin selalu membantu wanita paruh baya itu dengan bekerja di perusahaannya. Arlin masih ingat saat mamanya itu dengan senang hati menjadi Mama Irene sebagai orang kepercayaannya di perusahaan. Namun setelah satu tahun berjalan, ternyata wanita paruh baya itu mengkhianati kepercayaan mamanya Arlin.
Mama Irene melakukan penggelapan kerjasama. Semua proyek kerjasama dilaksanakan sesuai prosedur menggunakan uang perusahaan namun dilaporkan oleh Mama Irene kalau semua itu tak berjalan dengan lancar. Bahkan dengan teganya, ia bermain dibelakang mamanya Arlin sehingga membuat beliau shock. Mama Irene menjalin hubungan dengan Papa Madin bahkan sampai wanita itu hamil namun pada akhirnya keguguran.
"Justru mama akan bangga padaku karena dia bisa menghukum dua orang yang berkhianat padanya. Tak ingatkah engkau pak tua, anda itu melakukan hubungan terlarang dengan wanita gatal itu sehingga mamaku jatuh sakit. Ini tak seberapa dengan apa yang kalian perbuat pada beliau. Aku Arlin, menyatakan dengan ini kalau akan terus membuat hidup kalian sengsara demi mama" ucap Arlin dengan mata lurus menatap kedepan.
Ia tak terima masalah ini dikaitkan dengan sang mama yang sudah meninggal. Padahal sudah jelas kalau ia melakukan hal ini karena kesalahan keduanya. Bahkan mereka dengan sengaja mencemarkan nama baiknya dengan menceritakan segala sesuatu yang tidak ia lakukan. Mamanya pasti bangga pada dirinya karena bisa memberikan hukuman pada mereka. Walaupun sebenarnya hukuman ini belum sebanding dengan rasa sakit yang beliau alami.
Papa Madin sendiri kini terdiam tak berdaya setelah mendengar ucapan tegas yang keluar dari bibir Arlin. Ia tak menyangka kalau ananknya akan setegas ini dalam menyelesaikan masalah. Ia pun kini pasrah jika nanti hukuman yang diterimanya melebihi harapannya. Pasalnya kekuasaan yang dimiliki oleh Aldo dan Arlin ini lebih tinggi dibandingkan dengan uang donasi yang masih tersisa.
"Sini kalian... Aku ingin sekali menjambak rambut kalian itu" teriak seorang wanita paruh baya dari dalam sel tahanan saat Arlin dan Aldo melewatinya.
Aldo pun kembali menghentikan dorongannya pada kursi roda Arlin setelah istrinya memberi kode. Arlin mengalihkan pandangannya kearah wanita paruh baya yang berteriak kepadanya itu. Ternyata disana terlihat ada Mama Irene dan Melinda yang menatap tajam kearah Arlin karena merasa tak terima dengan nasibnya kini.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Arlin dengan raut wajah datarnya.
"Lebih baik kau segera bebaskan kami atau hidup kalian takkan pernah bisa bahagia" ucap Mama Irene dengan tatapan tajamnya.
Arlin hanya menatap sinis kearah Mama Irene itu. Kebahagiaannya sekarang hanyalah bertumpu pada Aldo yang merupakan suaminya. Ia tak peduli dengan keluarga kandung Arlin yang sama sekali tak mempedulikan dirinya. Hatinya sudah mati sejak dulu saat masih berada pada tubuh Lili. Ia akan menjadi orang acuh kepada orang-orang yang menyakiti dirinya.
Terlebih orang-orang disini sangat asing baginya. Melukai tubuhnya ini, sudah pasti ia akan cuek namun diam-diam membalasnya. Namun jika baik, ia juga akan berlaku santai hingga bisa menjadi teman atau sahabat. Seperti keluarga Aldo yang selalu ada untuknya ini.
"Kebahagiaanku bukan terletak pada sumpah orang munafik sepertimu. Tuhan tentu memilih sumpah mana yang akan dikabulkan dan mana yang tidak. Dengan kejahatan yang kau lakukan sedari dulu, aku tak yakin kalau Tuhan akan mengabulkan permohonanmu" ucap Arlin dengan nada sinisnya.
Mama Irene tentunya sedikit tak percaya mendengar ucapan bernada sinis itu, apalagi mengenai kebahagiaannya. Dulu waktu Mama Irene memberinya sedikit ancaman dan sumpah tentang kebahagiaan seseorang, pasri Arlin akan ketakutan. Namun kini semuanya terlihat tak berpengaruh apapun pada wanita itu.
"Oh iya, jangan lupa tentang hukuman anda yang mungkin akan bertambah banyak. Ingat kan kasus mengenai kecelakaanku dulu, semuanya akan aku usut tuntas walaupun pelakunya itu sedang sembunyi dalam selokan sekalipun" lanjutnya.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan apapun lagi, Arlin segera saja pergi dari sana meninggalkan dua orang perempuan itu yang masih menatapnya tak percaya. Bahkan mereka sepertinya sudah mati kutu karena tak bisa membalas ucapan pedasnya. Terlebih Mama Irene yang memang ada kaitannya dengan kecelakaan yang dialami oleh Arlin.
Arlin takkan pernah membiarkan para benalu itu hidup dengan tenang. Dengan tangannya sendiri, ia harus bisa mengungkapkan kecelakaan Arlin asli kemudian segera kembali pada tubuh aslinya. Ia juga harus segera menyelesaikan masalahnya pada raga aslinya. Ia ingin hidup tenang dan bahagia tanpa ada masalah yang membelenggunya.