
"Dasar nggak gaul dan update banget sih jadi dosen. Saya minta duit buat ganti rugi waktu, tenaga, dan juga beliin mainan Kei" ucap Lili sambil berkacak pinggang.
"Kau tak ikhlas merawat dan membelikan mainan anakku?" tanya Aldo sambil menaikkan sebelah alisnya.
Tentu saja Aldo berpikiran kalau Lili ini tidak ikhas dititipi Kei. Hal ini membuat Aldo langsung berpikir negatif tentang Lili. Apalagi baru kali ini Lili merasa keberatan Kei bersamanya. Dulu waktu masih menjadi dosen pembimbingnya, Lili selalu mau saja berdekatan dengan Kei.
Bahkan Lili tak meminta bayaran apapun. Tentu saja Aldo langsung berpikir kalau dulu memang Lili sengaja dekat dengan Kei karena ingin memanfaatkannya. Memanfaatkan Kei dan keluarganya agar proses pembuatan skripsinya itu lancar.
"Ikhlas, pak. Ikhlas sekali. Tapi saya sekarang lagi nggak punya uang buat jajan. Makanya saya minta uang ganti" ucap Lili dengan wajah memelasnya.
Bukannya merasa kasihan, justru Aldo hanya bisa menahan tawanya. Akting Lili ini sungguh tidak meyakinkan. Bahkan Aldo pikir kalau Lili tengah berdrama di depannya. Sedangkan Lili kini tengah berusaha keras agar mendapatkan uang ganti rugi dari Aldo.
"Berapa sih emangnya? Paling cuma 100 ribu kan? Toh anakku ini nggak akan minta aneh-aneh. Udah ikhlasin aja" ucap Aldo yang tak mau mengganti uang Lili.
Lili memelototkan matanya tak percaya kearah Aldo. Bukan hanya jajanan dari Kei saja yang membuat dompetnya terkuras, namun juga belanjaan Fina. Ia sengaja meminta ganti rugi mengenai belanjaan Fina karena Kei yang terus merengek ingin pergi ke banyak toko di mall.
"Lebih dari 100 ribu, pak. Ayolah ganti. Setengahnya saja juga tidak apa-apa. Butuh banget nih buat makan" ucap Lili sambil mengelus perutnya seakan kelaparan.
"Butanna Ante Lili adi cudah calapan di lumah? Tok jam cedini cudah lapal ladi" ucap Kei tiba-tiba.
Lili meringis tak percaya dengan Kei yang malah membongkar kenyataan yang ada. Padahal itu hanyalah drama saja, namun Kei malah ikut nimbrung. Aldo sendiri sudah menahan tawanya melihat Lili yang seakan mati kutu dengan ucapannya sendiri.
"Tuh kan... Tadi kamu tuh sudah sarapan. Jam segini kok sudah lapar. Itu perut apa tong sampah?" ucap Aldo dengan sedikit menyindir.
__ADS_1
Namun tak ayal, Aldo juga langsung mengeluarkan dompetnya. Aldo terlihat menghitung beberapa uang kertas yang ada di dompetnya. Lili pun sudah merasa senang karena setidaknya akan diberi uang lebih dari seratus ribu. Aldo langsung mengambil uang itu kemudian meletakkannya pada telapak tangan Lili.
"Nih buat makan. Oh ya... Jangan lupa berikan Kei makanan yang enak dan bergizi. Saya tinggal mengajar dulu" ucap Aldo dengan sedikit senyumannya.
Aldo pun langsung beranjak pergi dari hadapan Lili setelah mencuri ciuman pada pipi anaknya. Sedangkan Lili hanya menganggukkan kepalanya dan menuruti perintah Aldo. Ia segera saja membuka telapak tangannya yang terasa tebal dengan antusias.
Saat melihat uang kertas yang ada di tangannya itu, mata Lili langsung melotot tak percaya. Bahkan Lili langsung menghitung dan memeriksa beberapa lembar uang kertas yang ada di tangannya itu. Total uang itu dua puluh ribu. Uang kertas seribuan berjumlah dua puluh membuatnya terasa begitu tebal.
"Pak Aldo sialan... Masa iya kerjanya dosen, punya rumah sakit, mansion, dan perusahaan tapi di dalam dompetnya cuma ada uang seribuan sih. Mana ngasih orang buat beli makanan cuma 20 ribu. Ini mah buat makan Kei juga kurang" kesal Lili sambil mengerucutkan bibirnya.
Kei yang melihat kalau Lili sangat kesal dengan papanya pun langsung mengelus lembut pergelangan tangannya. Lili langsung melihat kearah Kei yang tersenyum kepadanya. Sedangkan Lili yang sadar kalau masih ada Kei berusaha untuk menahan kekesalannya.
"Cabal, ante. Papa tuh memang ndak puna uwang. Ending minta cama opa atau oma caja talo mau uwang" ucap Kei dengan memberikan idenya.
"Entah. Papa ndak puna uwang ato peyit muntin" ucap Kei yang langsung berpikir seperti itu tentang papanya.
Lili hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Sepertinya memang Aldo itu orangnya pelit karena tak mungkin laki-laki itu tak punya uang. Kalau memang tak mempunyai uang cash, seharusnta bisa ditransfer. Namun itu hanyalah khayalan semata karena nyatanya Aldo hanya memberikan uang sebesar dua puluh ribu saja.
Lili pun kini mengajak Kei menuju kantin kampus. Di sana dia akan menghabiskan waktu sebelum nantinya menemui dosennya. Ia juga bisa menitipkan Kei pada penjual kantin yang biasanya Aldo menitipkannya.
***
"Gimana? Dapet nggak duitnya" tanya Fina yang kini bertemu Lili di lorong kampus.
__ADS_1
"Dapat" jawab Lili singkat.
Sontak saja Fina langsung menatap dengan mata berbinarnya kearah Lili. Tentu saja Fina langsung saja berpikir kalau Lili kini sedang mendapatkan rejeki nomplok dari Aldo. Bahkan kini Fina langsung menarik tangan Lili agar segera ke kantin. Tentu saja Lili begitu terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari Fina itu.
"Mau kemana sih, Fin? Ini aku harus bimbingan dulu tahu" kesalnya.
"Bimbingannya nanti aja. Urusan perut itu lebih penting" ucap Fina.
Pasalnya Lili itu sekarang sudah jadwalnya untuk bimbingan skripsi. Namun malah bertemu Fina dan berakhir ditarik tangannya oleh gadis itu. Sedangkan kini Fina seakan tak mau mendengarkan rengekannya.
Akhirnya Lili hanya bisa pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh Fina itu. Keduanya kini berakhir di kantin dengan Kei juga langsung mendekati keduanya. Kei itu merasa penasaran karena Lili baru saja berpamitan padanya ingin menemui dosen, namun beberapa menit langsung sudah kembali.
"Lho ante tok cudah tembali ke tantin cih? Ndak dadi temu cama docenna?" tanya Kei penasaran.
"Ini semua gara-gara Tante Pina ini nih. Masa iya malah ngajak tante kembali ke kantin. Marahin Tante Pina, Kei" suruh Lili dengan kesal.
"Kei jangan marahin tante dulu. Ini tante ajak Lili ke sini buat traktir kita makan. Dia baru dapat duit banyak lho" ucap Fina dengan antusias.
Kei mengernyitkan dahinya heran. Sejak kapan Lili mendapatkan uang banyak hari ini. Padahal setahunya itu Lili hari ini malah sama sekali tak mempunyai uang karena tak diberi oleh Aldo. Sedangkan Lili hanya bisa mendengus kesal karena kesalahpahaman ini.
"Aku tuh nggak punya uang, Pin. Iya sih dapat uang dari Pak Aldo, tapi cuma 20 ribu" kesal Lili sambil menatap sinis pada temannya itu.
Fina yang mendengar ucapan Lili itu tentu tak percaya. Apalagi Aldo merupakan salah satu dosen kaya yang ada di kampus ini. Masa ganti rugi hanya memberikan uang dua puluh ribu.
__ADS_1