
"Sialan... Gara-gara preman nggak becus itu malah membuatku diuber-uber keluarganya Pak Aldo. Mana pekerjaanku juga jadi taruhannya lagi" gerutu seorang perempuan yang kini tengah berada di tempat persembunyiannya.
Seorang perempuan itu adalah Bu Amel yang kini tengah menepi atau sembunyi di sebuah tempat kecil. Lebih tepatnya sebuah kos-kosan yang ada di kampung kecil nan kumuh. Di sana tak ada orang yang mempunyai ponsel atau TV sehingga lumayan sulit mengetahui apa yang terjadi di luaran sana.
Bu Amel membuka ponselnya yang sudah berganti nomor. Namun ia bisa kembali membuka alamat emailnya. Di sana sudah ada surat pemanggilan dari pihak kampus. Ia yakin kalau Aldo sudah melaporkan dirinya pada pihak kampus.
"Kenapa secepat ini sih? Bahkan ini belum sampai 24 jam, tapi udah ketahuan. Padahal aku juga sudah sembunyi waktu kejadian. Apa preman-preman itu ketangkap ya? Terus memberitahu identitasku" gumamnya sambil menerka-nerka.
Bu Amel sedari awal masuk kampus sudah mengincar Aldo. Bahkan saat Aldo masih menjadi suami Arlin. Walaupun kehidupan percintaan Aldo begitu tertutup, namun Bu Amel berhasil mendapatkan informasi akurat. Aldo yang mempunyai istri namun tak mencintainya. Berhasil ia dapatkan, walaupun semua yang mengenalnya hampir tidak ada yang tahu.
Saat istrinya meninggal, saat itulah yang paling ia tunggu. Bahkan Bu Amel langsung gerak cepat mendekati Aldo. Bukannya direspons, justru Aldo malah semakin terlihat ketus. Aldo bahkan sama sekali tak menggubris dirinya yang hampir setiap hari mengirim makanan.
"Dasar laki-laki nggak tahu diuntung. Padahal aku sudah susah payah memasak dan ngirim ke ruangannya. Tapi bukannya dimakan malah dibuang di tempat sampah," gumamnya waktu itu saat melihat makanan yang diberikannya untuk Aldo ternyata berada di tempat sampah.
Bu Amel terus saja berusaha walaupun menggerutu. Namun saat melihat Aldo yang tiba-tiba dekat dengan Lili, ia kebingungan. Apalagi saat Lili terlihat dekat dengan Kei dan keluarga Aldo. Makin kebakaran jenggotlah dia.
***
"Kita temui tuh pihak kampus. Anggap saja nggak ada apa-apa kan ya? Lagian sudah dua hari juga mereka nggak cari aku. Pasti mereka juga udah lupa tentang kejadian Lili kemarin. Lagi pula kemarin aku dapat informasi kalau Lili nggak kenapa-napa. Jadi apa yang perlu dipermasalahkan?" Gumamnya mencoba meyakinkan diri.
__ADS_1
Hari ini Bu Amel berencana kembali ke kampus untuk menemui pihak kampus. Ia akan berpura-pura seperti orang polos yang tak tahu menahu. Lagi pula ia yakin kalau mereka tak mempunyai bukti apa-apa untuk menyudutkannya. Tinggal bersandiwara, maka bereslah semua. Apalagi sudah tak terdengar ramai-ramai tentang kejadian itu.
Bu Amel melajukan sepeda motornya dari kos tempatnya bersembunyi. Bahkan di lingkungan itu hanya dirinya saja yang mempunyai kendaraan bermotor. Hanya butuh waktu 2 jam untuk berkendara, sepeda motor yang dikendarainya sudah memasuki halaman kampus.
"Tuh kan... Dugaanku benar. Mereka terlihat biasa saja tuh melihat kedatanganku. Kaya nggak pernah ada apa-apa" gumamnya sambil melihat kearah sekitar.
Semua mahasiswa yang datang tampak biasa saja, seakan Bu Amel tetaplah dosen di kampus itu. Padahal dalam hati mereka, ingin sekali mencakar-cakar wajah dari Bu Amel. Namun mereka harus menahan diri agar semua sandiwara ini tak terbongkar.
Bu Amel segera saja turun dari motornya kemudian berjalan menuju ruang kedisiplinan. Bahkan saat berjalan pun, raut wajahnya kelihatan sumringah. Namun entah apa yang akan terjadi nanti setelah Bu Amel memasuki ruangan kedisiplinan itu.
"Selamat pagi menjelang siang bu, pak" sapa Bu Amel dengan ramah saat sudah dipersilahkan masuk ke ruangan itu.
Klek... Klek... Klek...
"Selamat pagi menjelang siang juga, Bu Amel" sapa semuanya dengan senyum sumringah.
Bu Amel yang panik pun terus saja mencoba membuka pintu ruangan. Bahkan iaa menghiraukan sapaan balik dari orang-orang yang ada di ruangan itu. Ia tak menyangka kalau semua keadaan ini ternyata sudah direncanakan.
"Bu Amel kenapa panik gitu? Tadi kayanya tuh waktu menyapa sumringah dan semangat begitu. Apa wajah kita seperti hantu, pak?" Tanya Pak Sandy sambil berpura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Muka Pak Sandy udah kaya pocong di tengah makam" ledek Aldo yang ternyata juga ada di ruangan itu.
Mereka tadi mendapatkan informasi dari mata-mata yang dikirim ke area persembunyian Bu Amel kalau perempuan itu keluar dari kos dengan pakaian rapi. Sontak saja Aldo langsung menghubungi semuanya untuk bersiap-siap. Sebenarnya Aldo sudah mengetahui dimana tempat persembunyian Bu Amel itu. Namun ia memilih menunggu perempuan itu keluar sendiri.
Apalagi jarak antara kampus dan kos itu lumayan jauh. Bahkan mereka sudah bisa bersiap dalam waktu dua jam untuk membuat drama ini sambil menunggu kedatangan Bu Amel. Sungguh kerjasama yang bagus antara dosen dan mahasiswanya.
"Astaga... Ternyata saya baru tahu lho kalau Pak Aldo yang wajahnya sangar dan galak itu ternyata bisa melempar candaan receh" ucap Bu Ais menimpali.
Beberapa dosen dan anggota kedisiplinan kampus memang berkumpul serentak di sana. Mereka sama sekali tak menghiraukan Bu Amel yang tengah panik. Bu Amel menduga kalau berkumpulnya mereka semua itu karena dirinya yang ingin ditangkap. Apalagi ada Aldo, pasti kasus Lili yang ditusuk itu menjadi trendingnya.
"Baru tahu kan, bu? Tapi ingat, Pak Aldo kalau lagi marah atau kesal dengan oranglain menyeramkan sekali lho. Beruntung ini bisa ia tutupi, kalau enggak ya kita semua bisa dimakan" ucap Pak Sandy.
"Sudah... Sudah... Kok malah bahas Pak Aldo sih. Eh... Bu Amel, ngapain di situ? Gedor-gedor pintu. Buru-buru amat sih. Ayo sini ngumpul dulu, kita bincang-bincang seru dulu sebelum ditangkap. Eh... Maksudnya sebelum mengajar" ucap Bu Ais sambil menutup mulutnya pura-pura salah ngomong.
Bu Amel yang mendengar hal itu tentu semakin panik. Apalagi kini Aldo sudah menampakkan raut wajah datarnya. Tatapannya begitu tajam, begitu juga dengan yang lainnya. Hanya Bu Ais saja yang menampilkan raut wajah sumringahnya.
"Bu Ais ini ngomong apa ya? Saya nggak paham. Saya di sini cuma mau ketemu dewan kedisiplinan kampus. Kenapa kalian semua ada di sini?" tanya Bu Amel dengan sedikit terbata-bata.
"Wah... Pak Lukman mau ditemuin sama Bu Amel nih. Mau bincang-bincang apa sih? Kita kepo lho ini" ucap Bu Ais dengan memancing Pak Lukman, selaku ketua dewan kedisiplinan kampus.
__ADS_1