Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Kondisi


__ADS_3

"Tolong... Tolong... Papa tolongin Nadeline. Mama Lili, tolong. Kei, kakek, nenek..." teriak Nadeline sambil terus menggelengkan kepalanya.


Mata Nadeline masih terpejam namun teriakannya itu membuat pagi itu rumah menjadi heboh. Bahkan Kei yang tak tahu jika Nadeline sudah ditemukan pun langsung berlari menuju kamar tamu. Para orang dewasa juga langsung berlari ke sana.


Memang tadi Nadeline tak ada yang menjaga karena masih tertidur pulas. Lili pun mempersiapkan suaminya untuk berangkat bekerja dan Kei yang akan sekolah. Baby Della ia titipkan sebentar pada Mama Nei yang kemudian ia ikut ke kamar tamu.


"Nak, bangun yuk. Di sini ada papa dan Kei juga lho" ucap Brama yang mengusap dahi anaknya yang berkeringat.


"Nanad, bangun. Ngapain tidur sampai teriak-teriak gitu sih. Ayo buruan bangun" ucap Kei yang langsung menggoyangkan lengan tangan Nadeline.


"Brama, minggir dulu. Biar Lili kasih stimulan buat Nadeline. Dia harus ditenangkan dalam kondisi seperti ini" ucap Aldo meminta Brama segera menyingkir dari samping Nadeline.


Bahkan Aldo juga langsung menggendong Kei yang tak sabar melihat Nadeline bangun. Brama menyingkir dari samping Nadeline kemudian Lili berbaring di sisi bocah cilik itu. Punggungnya diusap lembut dan Lili juga mengucapkan kalimat penenang.


"Mama Lili sayang Nadeline. Papa Brama dan Papa Aldo juga. Kei dan Baby Della juga sangat menyayangi Nadeline. Jangan takut, ada kami semua yang menyayangi Nadeline" bisik Lili.


"Mama Lili, tolong Nadeline. Mau dibawa sama wanita jahat dan preman..." teriak Nadeline yang menangis tergugu dalam pelukan Lili.


"Nggak ada yang akan bisa membawa Nadeline dari Mama Lili dan lainnya. Nadeline harus yakin kalau papa takkan membiarkan Nadeline dibawa oleh orang-orang jahat. Percaya pada kami, asalkan kamu juga menurut apa kata kami" ucap Lili sambil terus memeluk erat Nadeline.


Nadeline menganggukkan kepalanya dalam tidurnya itu. Selang beberapa menit hanya terdengar suara isakan lirih dan dengkuran halus. Hal itu tentu saja membuat semua yang ada di sana tersenyum lega. Mereka menantikan Nadeline tenang.


"Kei, kamu berangkat sekolah diantar Nenek Ningrum ya. Nadeline hari ini nggak berangkat, dia harus istirahat" ucap Aldo pada anaknya yang berada di gendongannya itu.


"Nggak mau, papa. Kei mau jagain Nadeline saja. Kasihan Nadeline kalau Kei nggak ikutan jaga di sini" ucap Kei sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


"Nadeline sudah ada yang menjaga yaitu papanya dan Mama Lili. Nadeline pasti baik-baik saja. Nanti Nadeline merasa bersalah lho sama kamu kalau karena menunggunya jadi nggak berangkat sekolah" ucap Aldo memberi pengertian.


"Mama..." rengek Kei meminta bantuan mamanya agar ia tidak sekolah hari ini.


Lili tersenyum kearah Kei yang tengah menatapnya penuh harap. Namun harapan itu sirna ketika Lili menggelengkan kepalanya. Kei harus masuk sekolah dan disiplin dengan peraturan. Apalagi terlalu sering membolos juga tak baik.


"Untuk saat ini, mama setuju dengan papa. Kei harus tetap berangkat sekolah. Kei kan sudah besar. Lagian Nadeline juga masih tidur dan tak bisa diganggu dulu. Jadi Kei segera bersiaplah untuk ke sekolah" ucap Lili dengan lembut.


"Mama ndak asyik. Nggak belain Kei" ucap Kei sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


Lili hanya mengedikkan bahunya acuh. Aldo segera membawa Kei keluar begitu juga Brama. Tak mungkin Brama bersama dengan Lili dalam kamar tanpa ada orang dewasa di sana. Setidaknya ia sudah mengetahui bagaimana kondisi Nadeline saat ini.


***


"Apa perlu panggil psikolog buat nangani Nadeline? Saya malah takut kalau tiba-tiba Nadeline panik dan histeris kaya tadi" tanya Brama pada Aldo.


Brama menganggukkan kepalanya setuju. Dipastikan dulu jika kondisi Nadeline sehat, barulah nanti pemeriksaan psikisnya. Brama duduk sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. Semalam ia tak bisa tidur karena memikirkan anaknya itu.


"Jadinya kau mau melaporkan mantan istrimu itu ke polisi atau kita tangkap sendiri?" tanya Aldo pada Brama yang memilih diam.


"Aku akan menemuinya hari ini. Aku akan pura-pura untuk tak mengetahui keberadaan Nadeline saat ini. Aku akan menjadi seperti orang bodoh yang menanyakan keberadaan anakku di hadapannya" ucap Brama.


"Bagus. Aku dan papa akan mengawasi dari jauh. Ponselmu jangan lupa arahkan untuk merekam semua kejadian dan pembicaraan ini" ucap Aldo menambahi.


"Iya, aku tahu. Setelah mendapatkan bukti cukup dan tahu tujuan perempuan itu membawa Nadeline, kita bisa langsung menjebloskannya ke penjara. Apalagi ini sudah menyangkut tentang keamanan anakku" ucap Brama bergidik ngeri.

__ADS_1


Brama tak bisa membayangkan jika tak bertemu dengan anaknya lagi. Ia pasti akan menyesal dan merasa bersalah dengan Nadeline. Apalagi Nadeline adalah harta yang paling berharga yang ia punya. Brana rela melakukan apapun demi kebahagiaan Nadeline.


"Benar. Tak ada toleransi untuk manusia sejenis mantan istrimu itu. Oh tak lupa... Kita harus mencari tahu orang yang ada di belakang istrimu. Tak mungkin kalau ia melakukan ini tanpa ada orang di belakangnya" ucap Aldo membuat Brama menganggukkan kepalanya mengerti.


***


Papa Tito berhasil menemukan keberadaan Ajeng di sebuah apartemen mewah di kota. Kini Papa Tito, Brama, dan Aldo segera menuju ke apartemen itu untuk menemui Ajeng. Lebih tepatnya membuat sebuah drama seperti tak sengaja bertemu.


"Om yakin dia tinggal di sini? Suaminya saja tak punya kekuasaan apa-apa lho. Dia hanya orang biasa" ucap Brama sambil mengernyitkan dahinya heran.


Yang Brama tahu, suami atau laki-laki yang bersama istrinya itu hanyalah orang biasa. Dulunya memang punya kekuasaan sedikit di saat Brama terpuruk. Namun jika untuk mempunyai apartemen semewah ini sepertinya tidak mungkin.


"Kamu itu mencari informasinya kapan? Lagian setiap tahunnya, orang dan kekuasaan bisa berubah lho" ucap Papa Tito.


"Sudah lama sih, om. Sudah bertahun-tahun" ucap Brama dengan tawa canggungnya.


"Punya perusahaan besar itu ku kira bosnya pintar, tapi apa ini? Astaga..." ledek Aldo pada Brama.


Brama menatap sinis kearah Aldo yang meledeknya. Ia memang tak mengetahui apapun mengenai mantan istrinya saat ini. Ia mana mau mencari informasi tentang orang yang sudah menyakitinya.


"Kita jalan agak jauhan. Situ masuk sana dan cari informasi mengenai Ajeng. Pura-pura aja nggak tahu tentang kamarnya nomor berapa" ucap Aldo.


"Kalau tanya nomor kamar Ajeng, itu artinya disengaja buat ketemu. Ini kan kita lagi pura-pura jadi pengunjung. Lagian aku juga sudah tahu nomor kamar Ajeng dari Om Tito. Pemilik rumah sakit yang cabangnya banyak ternyata yang punya nggak pintar" ucap Brama yang malah balik meledek Aldo.


"Stop... Kalian ini malah kaya anak kecil. Buruan sana masuk ke dalam" seru Papa Tito yang kesal dengan perdebatan keduanya.

__ADS_1


Papa Tito kesal dengan tingkah keduanya yang seperti anak kecil. Keduanya langsung terdiam mendengar seruan Papa Tito itu. Brama segera keluar dari mobil dan menyiapkan ponselnya sambil berjalan masuk kearah apartemen itu.


__ADS_2