
Arlin telah berhasil masuk dalam mobilnya diikuti oleh Aldo. Sedangkan pengacaranya sedang berkoordinasi dengan beberapa pihak kepolisian setelah berhasil mengamankan clientnya. Beberapa awak media dan massa masih terus ricuh hingga menghakimi dua orang pelaku yang kini menjadi dalang atas keributan ini.
Sedangkan Melinda, kini ia bingung harus melakukan apa. Pasalnya jika mobilnya ia dekatkan dalam kerumunan massa, sudah pasti akan dirusaknya. Apalagi massa dan awak media begitu banyak dengan beberapa polisi yang kuwalahan. Namun jika ia tak segera membantu kedua orangtuanya, ia yakin kalau mereka akan babak belur.
"Semoga aja ini bisa berhasil" gumam Melinda meyakinkan diri.
Tin... Tin... Tin...
Suara klakson mobil membuat semua orang yang tengah berkerumun itu langsung mengalihkan pandangannya. Semua mata mereka membelalak kaget karena ada mobil yang sudah siap menghantam semua orang yang ada didepannya. Apalagi mobil itu sebentar lagi akan melaju dengan kencangnya dari area belokan.
"Minggir semua..." teriak salah satu awak media yang panik.
Semua pun langsung pergi dari area sana kecuali kedua orangtua Arlin. Beberapa polisi pun lebih memilih menyingkir daripada nanti malah terkena imbasnya. Mereka akan menangkap pemilik mobil itu setelah kendaraan itu lewat.
Brumm... Brum... Brumm...
Cittt...
Suara gesekan ban mobil dengan lantai yang ada didepan gedung pertemuan itu begitu memekakkan telinga saat kendaraan itu berhenti mendadak. Mobil itu kini sudah berada didekat dua orang paruh baya yang sedang meringkuk ketakutan sambil saling memeluk erat. Pengemudi mobil itu adalah Melinda yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat penampakan dari kedua orangtuanya.
"Buruan masuk mobil sebelum mereka mendekat lagi" seru Melinda.
__ADS_1
Sontak saja dua orang itu segera saja mengangkat kepalanya kemudian matanya berbinar cerah melihat adanya Melinda. Keduanya segera berdiri kemudian masuk dalam mobil itu. Melinda yang melihat beberapa massa mulai kembali mendekat pun langsung saja mengegas mobilnya dalam-dalam.
Brum... Brum... Brum...
Beberapa massa dan awak media mengejar mobil itu saat melihat orang yang tadi mereka beri pelajaran ternyata sudah tidak ada. Mereka yakin kalau mobil itu yang membawanya. Bahkan mereka tak segan-segan melempari mobil itu dengan telur dan tomat. Walaupun mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, namun lemparan massa itu ternyata bisa tepat sasaran.
Mereka belum puas saat tadi melempari keduanya telur, tepung, dan tomat. Saking banyaknya orang, tentunya lemparan itu ada yang meleset karena berdesak-desakkan. Mereka juga meringkuk dan saling memeluk untuk menghindari bagian wajah agar tak terkena lemparan.
"Astaga... Ini badan kalian bau busuk banget sih" ucap Melinda sambil sebelah tangannya menutup hidungnya.
Pasalnya telur dan tomat yang mereka lemparkan itu sudah busuk sehingga baunya lumayan menyengat. Bahkan Melinda yang berada satu mobil dengan mereka rasanya ingin muntah saja. Perutnya mual dan ingin sekali memuntahkan semua isi perutnya walaupun sebenarnya hanya pakaian saja yang kena lemparan benda-benda itu.
Papa Madin dan Mama Irene langsung mengambil tisue kemudian membersihkan pakaiannya. Walaupun sebenarnya ini takkan mengurangi bau yang menguar dari pakaiannya itu. Mereka sebenarnya juga merasa jijik dan ingin muntah, namun ditahan karena tak mau semakin mengotori mobil.
Melinda hanya pasrah saja dan menganggukkan kepalanya. Akhirnya Melinda langsung melajukan mobilnya kearah pinggiran kota. Ia tahu satu tempat yang jarang sekali dilewati oleh warga dan kemungkinan itu adalah tempat yang paling aman untuk mereka sembunyi.
Tanpa mereka ketahui, ada beberapa polisi yang tengah mengikuti mobil Melinda. Tentunya denga jarak lumayan jauh dan sudah berkoordinasi dengan beberapa pos kepolisian agar tak kehilangan jejak. Pasalnya orang yang ingin mereka tangkap ini begitu lihai dalam melarikan diri.
***
Sedangkan kini kericuhan terjadi di rumah sederhana yang dibeli oleh Papa Madin dan Mama Irene. Beberapa organisasi kemanusiaan dan massa langsung menyerbu rumah itu setelah tahu alamat lengkapnya dari pengacara Arlin. Pak Lion sengaja memberitahunya agar hidup Papa Madin dan Mama Irene dalam ketidaktenangan.
__ADS_1
Ia yakin sekali kalau mereka bisa kabur untuk saat ini walaupun nantinya akan tertangkap juga. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau mobil membawa mereka pergi dan satu-satunya cara agar hidup keduanya tak tenang itu dengan menghadirkan massa di rumahnya.
"Kayanya rumah ini kosong. Kata tetangga sebelah, pemiliknya sedari pagi pergi dengan mobil" ucap salah satu massa yang baru saja bertanya pada orang sekitar.
"Berarti memang itu waktu mau konferensi pers tadi. Hah... Gimana ini? Harusnya tadi itu jangan buat kericuhan dulu, tapi tagih duit donasinya dulu" ucap salah satu anggota organisasi.
Mereka tak bisa berbuat banyak karena ternyata orang yang dimintai pertanggungjawaban tak ada di rumah. Kemungkinan besar mereka takkan kembali ke rumah ini karena sudah menduga kalau semua orang akan menggrebeknya. Mereka hanya bisa pasrah karena mengalami kerugian yang besar.
Mereka hanya berharap kalau pihak yang berwajib dapat menangkap para pelaku agar semuanya bisa dipertanggungjawabkan. Tidak hanya di rumah ini saja, namun di kontrakan yang ada didekat tempat pembuangan sampah juga langsung ramai oleh beberapa warga. Mereka yang mendapatkan uang waktu itu merasa sedikit takut kalau nantinya akan terseret dalam masalah ini.
"Apa kita kembalikan saja uang itu? Daripada nanti terseret terus dimasukin penjara. Kalian lihat sendiri kan itu, yang difitnah saja orang kaya" ucap salah satu warga.
"Aduh... Mana duitnya udah saya pakai beli sayuran lagi" ucap warga lainnya yang pusing dengan ide yang diberikan oleh rekannya.
Kebanyakan dari mereka menganggukkan kepalanya setuju untuk mengembalikan uang itu agar tak terseret dalam masalah ini. Namun ada juga yang merasa keberatan karena uangnya sudah habis untuk membeli keperluan sehari-hari.
***
"Berhasil kabur mereka?" tanya Arlin sambil menghela nafasnya lelah.
Tadi Aldo dan Arlin yang masih berada dalam mobil melihat kendaraan yang mirip punya papanya itu melaju dengan kencangnya. Aldo ingin mengejarnya, namun tak diperbolehkan oleh Arlin. Hal ini karena sudah ada polisi yang mengurus semuanya dibantu oleh pengacaranya.
__ADS_1
Namun tetap saja ada rasa kesal yang diperlihatkan oleh Arlin karena ternyata lawannya begitu licik. Padahal sudah dikerumuni massa dna pihak yang berwajib, namun tidak ada takut-takutnya untuk kabur. Perlu Arlin beri dua jempol untuk nyali mereka bertiga.
"Iya. Tapi polisi belum kehilangan jejak mobil itu. Semoga saja mereka bisa segera tertangkap dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jangan lupa, dalang dari perencanaan sandiwara ini juga harus ditangkap" ucap Aldo sambil tersenyum menyeringai.