Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Mual


__ADS_3

Sedari lepas shubuh, Lili berulangkali mengeluarkan cairan yang ada di dalam perutnya. Bahkan kini badannya lemas karena perutnya begitu mual. Namun saat dimuntahkan sama sekali tak ada lagi makanan atau apapun itu.


Sedangkan Aldo sendiri yang melihat istrinya hanya bisa duduk di kursi dekat pintu kamar mandi pun merasa kasihan. Ia sudah memeriksa keadaan istrinya itu dan tak ada yang aneh. Semalam juga istrinya itu makan makanan yang biasa saja.


"Semalam aku tuh kayanya makan juga normal. Nggak ada yang aneh, kok bisa ya jadi kaya gini. Lemas sekali" gumam Lili pelan.


"Kalaupun ada yang salah dengan makanannya, otomatis kita semua yang mual. Tapi ini kami semua biasa saja. Lagian semua makanan juga awalnya disiapkan sama mamamu dan mamaku kan?" tanya Aldo yang kebingungan dengan apa yang terjadi.


Lili hanya menganggukkan kepalanya. Ia juga merasa aneh dengan tubuhnya sendiri. Aldo mengelus lembut rambut istrinya itu agar sedikit lebih tenang dan nyaman. Bahkan Aldo tak segan memijat pelipis juga leher Lili agar kepala istrinya tak lagi pusing.


"Ayo baringan saja di atas ranjang" ajaknya pada sang istri.


Aldo langsung menggendong istrinya yang sepertinya tak kuat lagi untuk berjalan. Aldo meletakkan tubuh Lili ke atas kasur kemudian membantunya minum air hangat. Ia membiarkan Lili untuk istirahat, sedangkan ia langsung membersihkan diri.


"Kok gejalanya kaya orang lagi hamil ya? Apa aku lagi hamil? Emang benar sih aku udah telat satu minggu" gumam Lili setelah melihat Aldo masuk kamar mandi.


Lili mencoba mengingat lagi kapan terakhir dirinya mengalami tamu bulanan. Memang sudah waktunya dia mendapati tamu bulanan, namun dirinya belum juga dapat. Mungkin nanti siang ia akan mencoba untuk mengeceknya dengan alat test kehamilan yang dia miliki.


Sudah sejak satu minggu setelah menikah, Lili membeli alat test kehamilan untuk berjaga-jaga. Walaupun ia memang sama sekali belum memakainya sejak pertama kali membeli. Lili memilih untuk tidur saja dibandingkan pusing memikirkan semuanya.


***


"Lho Lili kemana, Al? Kok nggak ikut turun" tanya Mama Nei yang mencari keberadaan menantunya itu.

__ADS_1


"Lili lagi nggak enak badan, ma. Tadi pagi muntah-muntah terus sampai lemas. Aldo nggak bangunin dia soalnya kasihan itu wajahnya pucat. Dia juga masih ngantuk" ucap Aldo.


Sontak saja Mama Nei langsung memelototkan matanya. Kei juga yang mendengarnya merasa khawatir dengan mamanya. Kemarin mamanya habis kelelahan dan berakhir sakit, sekarang muntah-muntah.


"Wah... Kei ndak oleh belangtat cekolah ini. Kei halus dagain mama" ucap Kei yang langsung melempar tas sekolahnya ke atas lantai ruang makan.


Brugh...


Padahal Kei bisa saja membiarkan tasnya itu berada di atas kursi makan, namun ia memilih melemparnya ke bawah. Semua yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Kalau sudah menyangkut dengan mamanya, Kei akan selalu mengutamakannya.


"Kamu harus sekolah, Kei. Ada oma yang jaga mamamu. Nanti kamu bisa gantiin jaga mama setelah pulang sekolah. Kamu itu lho suka sekali kalau sudah bolos sekolah" ucap Mama Nei.


"Kei tan malas talo cekolah ndak ada mama. Mama tuh penemanat atu, oma. Nanti dimana talo Kei kepitilan mama yang cakit di cekolah? Pati atu atan ndak bica belajal" ucap Kei memberi alasan.


"Malas dan jarang sekolah nggak papa, nyatanya juga sekarang jadi dosen dan dokter. Mana rumah sakitnya banyak lagi" ucap Aldo dengan sombongnya.


"Sombong sekali kau, Al. Kei, jangan ikuti papamu itu. Nggak baik, lebih baik kamu belajar yang rajin demi cita-citamu" ucap Papa Tito.


Aldo hanya bisa mengedikkan bahunya acuh mendengar sindiran dari papanya itu. Pasalnya ia sudah kebal dengan sindiran yang dilontarkan oleh kedua orangtuanya. Pada faktanya memang dia jarang mau kalau disuruh berangkat sekolah.


Mereka pun pagi itu melaksanakan sarapan tanpa kehadiran Lili. Setelah sarapan usai, Aldo langsung berangkat ke kampus sekaligus mengantar Kei. Nanti Kei akan ditemani oleh Mama Ningrum yang langsung berangkat dari rumah. Sedangkan Lili sendiri akan ditemani oleh mamanya.


***

__ADS_1


"Eh... Aku beneran hamil?" gumam Lili menatap tak percaya kearah alat test kehamilan yang ada di tangannya.


Tadi Lili langsung memeriksa urinenya untuk mengetahui kecurigaannya sedari pagi. Ia sedikit yakin kalau dirinya tengah berbadan dua. Lili langsung memeriksa dengan test alat kehamilan dan terbukti ada garis dua berwarna merah di sana.


"Alhamdulillah..." gumamnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Lili pun langsung saja keluar dari kamar mandi dan menyimpan alat test kehamilan itu di sebuah kotak. Nanti malam ia akan memberikan kejutan untuk Aldo dan Kei tentang berita kehamilannya ini. Ia sudah tak sabar menanti moment tersebut.


***


"Ma, aku hamil" seru Lili yang kini mencari mertuanya terlebih dahulu.


Ia yakin kalau Mama Nei ada di rumah, pasalnya hari ini merupakan jatah dari mamanya yang menemani Kei. Sontak saja Mama Nei yang ada di ruang keluarga langsung mengalihkan pandangannya mendengar seruan dari Lili itu. Bahkan Mama Nei langsung berdiri dan memeluk menantunya itu.


"Apa benar? Kamu hamil? Yang benar dong, jangan bercanda sama mama" ucap Mama Nei dengan tatapan tak percayanya.


"Iya, ma. Aku barusan saja cek pakai alat test kehamilan. Ma, tolong bantu aku periksa kehamilan ke rumah sakit tapi jangan sampai Mas Aldo tahu. Pasti mata-mata anak mama itu banyak sekali di rumah sakit padahal aku ingin buat surprise untuknya" ucap Lili dengan tatapan penuh harap.


"Kalau itu kita harus minta bantuan papa. Yang punya akses agar semua pegawai tunduk dan tutup mulut itu kan hanya Aldo dan papa" ucap Mama Nei memberikan saran.


Lili terdiam sebentar kemudian menganggukkan kepalanya setuju. Ia harus meminta orang yang lebih berkuasa di rumah sakit itu yaitu Papa Tito. Mama Nei segera menghubungi suaminya untuk mengamankan rumah sakit. Setidaknya jangan sampai Aldo mendengar kedatangan Lili ke rumah sakit.


"Kalau begitu ayo siap-siap. Papa yang akan mengkondisikan rumah sakit. Papa juga pastikan kalau Aldo takkan tahu mengenai kedatanganmu" ucap Mama Nei memberitahu pesan yang disampaikan oleh suaminya.

__ADS_1


Lili menganggukkan kepalanya mengerti kemudian pergi ke kamarnya dengan langkah antusias. Ia sangat yakin jika surprisenya kali ini akan berhasil. Apalagi Kei yang akan senang mendapatkan adik baru. Sungguh Lili tak sabar untuk menunggu saat sore hari tiba. Bahkan bibirnya terus menyunggingkan senyuman manisnya.


__ADS_2