
"Sayangnya aku yang suka ngambekan, istrimu yang cantiknya kebangetan ini udah minta maaf lho. Aku bilangin Kei nih kalau papanya buat mama nangis" ucap Arlin dengan membawa nama anaknya.
Sudah sejak tadi selesai makan malam, Arlin membujuk suaminya agar memaafkan dirinya namun tak ditanggapi oleh laki-laki itu. Bahkan Aldo tetap diam dan duduk diatas ranjang sambil memegang ponselnya. Entah apa yang dikerjakan oleh suaminya itu karena saat dirinya mengintip, selalu saja ponselnya ditutup.
Akhirnya Arlin yang sedari tadi mengoceh itu langsung menggunakan cara terakhirnya. Ia menggunakan nama anaknya untuk mengancam Aldo agar laki-laki itu segera memaafkan dirinya. Apalagi kalau Kei sudah mengomeli laki-laki itu panjang lebar, pasti Aldo akan menyerah juga.
"Huft..."
Terdengar helaan nafas kasar dari Aldo, hal itu membuat Arlin paham kalau suaminya masih harus meredakan emosinya. Terlebih apa yang terjadi ini bukan masalah kecil yang bisa dimaafkan dengan mudah. Mungkin Aldo juga merasa tidak becus dalam hal menjaga anak dan istrinya apabila terjadi sesuatu kepada keduanya.
"Aku maafkan, tapi jangan pernah kamu ulangi hal seperti itu. Bahaya... Kalau sampai terjadi sesuatu sama kalian, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri" ucap Aldo dengan lirih.
Ucapan lirih itu tentunya membuat Arlin merasa bersalah. Ia tak menyangka kalau perbuatannya itu malah membuat suaminya khawatir berlebihan. Lili sendiri yang jiwanya ada ditubuh Arlin merasa beruntung karena disini merasakan bagaimana dikhawatirkan keadaannya.
"Iya, aku janji nggak akan pernah melakukan hal yang membahayakan kita semua, terutama Kei" ucap Arlin yang kemudian memeluk suaminya dari samping.
Arlin sebenarnya ragu untuk memeluk suaminya lebih dahulu namun karena demi sebuah cara membujuk Aldo, akhirnya ia lakukan. Toh tubuh ini halal juga untuk memeluk suaminya sendiri. Aldo sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh istrinya ini namun tak ayal ia juga sangat bahagia. Bahkan kini Aldo juga balik memeluknya dengan erat.
"Halo... Loha... Kei dicini" seru bocah laki-laki kecil yang langsung menyelonong masuk dalam kamar orangtuanya.
Arlin dan Aldo segera saja melepaskan pelukannya kemudian melihat kearah Kei yang melenggang kearah kasur keduanya. Dengan sekuat tenaga, Kei langsung saja naik keatas ranjang tempat tidur orangtuanya. Aldo dan Arlin hanya melihatnya tanpa membantu karena ingin Kei bisa berusaha sendiri.
"Kei mang ebat. Bica aik empat inggi cendili, coalna mama tama papana ndak peta" ucap Kei dengan sedikit menyindir.
__ADS_1
Tentunya Arlin dan Aldo hanya tertawa mendengar sindiran itu. Setelah Kei duduk diatas pangkuan papanya, Arlin langsung memeluk anaknya itu dari samping. Ia sungguh bahagia melihat Kei yang kini sudah banyak omongnya itu.
"Ya gimana dong? Kan mama sama papa ingin Kei berusaha dulu. Kalau benar-benar tidak bisa ya nanti baru akan kami bantu" ucap Arlin sambil terkekeh geli.
"Telcelah talian caja" ucap Kei sambil mengedikkan bahunya acuh.
Arlin dan Aldo hanya bisa tertawa kecil mendengar hal itu. Bahkan kini Kei juga langsung direbahkan Aldo diatas ranjang hingga berada ditengah-tengah antara dia dan istrinya. Ketiganya pun tertidur dengan keadaan tersenyum seakan tidak pernah ada masalah sebelumnya.
***
"Mama... Papa... Angun..." seru Kei yang kini malah melompat-lompat diatas ranjang.
Hari masih sangat pagi, bahkan adzan shubuh saja belum berkumandang. Namun Kei sudah terbangun yang kemudian melompat-lompat diatas ranjang tempat tidur orangtuanya. Kei ingin membangunkan orangtuanya agar bisa mengajaknya jalan-jalan keliling area perumahan. Tentunya Arlin dan Aldo merasa terganggu dengan kegiatan yang dilakukan oleh Kei ini sehingga langsung terbangun.
"Kenapa kamu lompat-lompat jam segini, Kei? Masih malam lho ini, mending tidur lagi" gumam Aldo yang kini malah merapatkan tubuhnya pada sang istri.
Arrghhhh...
"Angan eluk-eluk mama atu. Ayo angun... Ita lali padi bial cehat, angan adi olang malas" seru Kei tepat pada telinga papanya.
Tentunya Aldo memekik kesakitan saat merasakan telinganya ditarik begitu kuat oleh Kei. Bahkan telinganya sakit karena mendengar seruan dari Kei itu. Sungguh anaknya ini paling bisa kalau membuat dirinya harus terbangun dipagi hari. Namun mereka berdua kesal saat melihat Arlin yang seakan tak terganggu sedikitpun atas teriakan dari Kei.
Aldo dan Kei saling pandang kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka berdua seakan telah kompak dalam melakukan rencana yang telah tersusun melalui telepati dan kode mata. Keduanya segera mendekat kearah Arlin kemudian menggeliti perutnya.
__ADS_1
Hahahaha...
Tak berapa lama, Arlin terbangun dan tertawa geli karena mendapatkan gelitikan diperutnya. Bahkan Kei juga langsung menciumi pipi mamanya hingga basah dengan air liur. Arlin hanya bisa terus menghindari keduanya yang semakin brutal dalam membangunkannya.
"Ini mama udah bangun lho" protes Arlin sambil terkekeh geli.
Akhirnya Kei dan Aldo menghentikan gelitikannya pada Arlin saat melihat nafas wanita itu sudah ngos-ngosan dengan wajah yang memerah. Arlin mencoba menetralkan nafasnya yang tidak beraturan akibat tertawa dan menahan rasa geli yang ada.
"Mama udah kaya habis jalan puluhan kilometer lho ini" ucap Arlin setelah berhasil menetralkan pernafasannya.
Aldo melihat kearah jam dinding yang ada di kamarnya, ternyata sudah hampir shubuh. Sedangkan kini Kei tetap bersikeras mengajak orangtuanya untuk jalan-jalan pagi. Padahal cuaca diluar saat ini begitu dingin, namun Kei tetap kekeh dengan pendiriannya.
Akhirnya setelah membujuk orangtuanya agar segera pergi, mereka kini sudah bersiap-siap untuk jalan-jalan keliling komplek. Arlin bahkan sudah siap dengan baju olahraganya walaupun nanti hanya bisa berjalan pelan-pelan. Aldo menggandeng tangan Kei sambil berlari kecil agar Arlin tak ketinggalan jauh.
"Kalian lari saja. Biar mama jalannya pelan, nanti juga sampai" ucap Arlin menyuruh anak dan suaminya segera berlari.
Kei menganggukkan kepalanya kemudian menarik tangan papanya agar segera berlari. Sebenarnya Aldo sedikit takut kalau meninggalkan Arlin sendirian namun ia yakin kalau di komplek tempat tinggalnya ini tidak ada orang yang berniat jahat pada istrinya itu. Arlin tersenyum melihat anaknya begitu lincah dan riang saat berlarian bersama sang papa. Perasaan Arlin sejak tadi keluar mansion sudah tak enak, namun ia tak mengungkapkannya pada sang suami. Ia tak ingin kalau Aldo sampai kepikiran atau khawatir lagi tentangnya.
"Semoga kalian terus saja tersenyum dan bersama seperti ini. Mama hanya bisa berdo'a untuk kebahagiaan kalian" gumam Arlin sambil tersenyum.
Brakkkk...
Arggghhh...
__ADS_1
Arlin...
Mama...