
Jadwal sidang skripsi dan daftar dosen penguji sudah diumumkan pada papan pengumuman kampus. Lili yang melihat daftar dosen penguji skripsinya pun hanya bisa menghela nafasnya. Pasalnya di sini Aldo menjadi ketua penguji dengan Ibu Alifia sebagai sekretarisnya.
Ibu Alifia dan Aldo ini harus diwaspadai ketika menguji skripsi. Sudah banyak yang menjadi korban keduanya. Pertanyaan yang sulit dan tak terduga menjadi ciri khas keduanya. Bahkan beberapa mahasiswa harus gigit jari saat keluar dari ruang sidang.
"Jadi besok lusa kamu akan sidang skripsi? Semangat bestieku. Jangan menyerah dan takut dengan siapa pengujimu. Ya walaupun kalau aku yang berada di posisimu pasti sudah nggak bisa tidur dari kemarin-kemarin sih" ucap Fina yang juga ikut melihat pengumuman itu.
"Heleh... Situ mau ngasih semangat atau bikin down orang sih" ucap Lili sambil geleng-geleng kepala.
"Itu kan salah satu dosen pengujinya ada calon suamimu. Kenapa nggak kamu ancam saja? Kamu minta dipermudah lulusnya. Kalau tetap nyusahin, batalin pernikahan" ucap Fina dengan sedikit berbisik menyampaikan idenya.
"Sembarangan. Pak Aldo itu profesional. Nggak ada tuh toleransi mau itu istri, anak, atau saudara kalau urusannya kaya gini" ucap Lili yang tak yakin dengan ide temannya.
Lagi pula Lili tak ingin mengubah mood Aldo menjadi buruk karena ancamannya. Pasti Aldo yang suka sensitif itu akan mengomel dan malah menyusahkannya saat sidang nanti. Lagi pula ia yakin dengan kemampuannya.
"Ya udah, kalau gitu pasrah saja. Do'a dan perbanyak sabar" ucap Fina sambil mengelus bahu sahabatnya itu.
Lili hanya menganggukkan kepalanya sekilas kemudian mengajak Fina pergi. Ia sudah menyiapkan mentalnya jika nanti akan menjadi bulan-bulanan dosen. Terutama Ibu Alifia yang terkenal tegas dan tak basa-basi jika bertanya.
***
"Bagaimana persiapannya? Nanti mama dan papa langsung ke kampus buat lihat temani kamu sidang skripsi" ucap Papa Dedi yang melihat anaknya sudah rapi dengan kemeja putih dan rok spannya.
Hari ini merupakan hari sidang skripsi Lili. Sedari semalam, Lili sama sekali tak bisa nyenyak tidurnya. Bahkan ia tak mau menghubungi Aldo yang malah mengingatkannya pada sidang skripsi hari ini. Ia yakin kalau Aldo tengah uring-uringan saat tak mendapatkan pesan darinya.
"Lili sampai nggak bisa tidur mikirin ini sidang, pa. Pusing Lili. Sampai mau makan aja rasanya nggak enak" ucap Lili dengan wajah lesunya.
__ADS_1
"Semangat, nak. Kamu pasti bisa. Kan kamu sudah berusaha keras mengerjakan skripsi sebaik mungkin. Tak lupa juga kalau kamu sudah berdo'a" ucap Mama Ningrum.
Lili hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban kemudian makan sarapannya dengan tenang. Lili akan berangkat terlebih dahulu dengan Pak Yono, sedangkan kedua orangtuanya harus menyiapkan konsumsi untuk para dosen. Lili tak bisa mengurusnya secara bersamaan sehingga memilih minta tolong sama orangtuanya.
"Hati-hati, nak. Sebelum masuk ruangan, berdo'a dulu" ucap Mama Ningrum memberi pesan pada anaknya setelah mereka selesai sarapan.
"Iya, ma. Lili pamit dulu" ucap Lili sambil tersenyum.
Lili memeluk kedua orangtuanya kemudian keluar rumah dan menemui Pak Yono. Lili memasuki mobil dan diantar oleh Pak Yono ke kampusnya. Sedari tadi, jantung Lili terus berdetak lebih cepat dari biasanya. Efek sidang skripsi ini membuatnya pusing dan kurang tidur.
***
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Pak Yono memasuki halaman kampus. Jantung Lili semakin berdebar, apalagi saat kakinya turun dari mobil. Pak Yono membawakan tas milik Lili karena gadis itu sudah seperti orang linglung.
"Eh... Saya sedikit takut dan khawatir sama hari ini, pak. Rasanya deg-degan terus" ucap Lili setelah sadar dari keterkejutannya.
"Berdo'a, mbak. Banyak yang do'ain Mbak Lili agar segera lulus. Ingat wajah orangtua, den Kei, dan calon suami" ucap Pak Yono dengan sedikit menggoda anak majikannya.
"Pak Yono ini, masalahnya tuh calon suami jadi dosen penguji. Pasti wajahnya garang dan datar kaya cermin" ucap Lili yang sudah membayangkan yang tidak-tidak.
Pak Yono hanya terkekeh pelan mendengar aoa yang diucapkan oleh Lili itu. Pasalnya memang ia sudah mendengar kalau pengujinya adalah calon suaminya Lili sendiri. Ia sudah diberi pesan pada majikannya untuk membantu menenangkan Lili.
"Ayo, mbak. Nggak usah dipikirkan sekali. Anggap saja yang di depan anda itu para malaikat. Yang penting Mbak Lili sudah belajar, berdo'a, dan berusaha. Kalau Mbak Lili takut seperti ini, di dalam pasti pikirannya jadi kaya orang bingung" ucap Pak Yono menenangkan Lili.
Lili hanya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan menuju ruang sidang. Ia datang lebih pagi karena harus menyiapkan perlengkapan yang akan ia gunakan saat presentasi dalam sidang nanti.
__ADS_1
Ternyata saat sudah sampai di depan ruang sidang, sudah ada Fina dan yang teman-temannya. Lili begitu terharu melihat mereka membawa banyak buket bunga dan snack juga banner bertuliskan "Semangat Lilian".
"Waaa... Kalian udah datang aja di sini. Ini masih terlalu pagi lho" seru Lili pada teman-temannya.
"Kita mau kasih semangat kamu biar bisa menghadapi dosen-dosen killer itu" seru Fina.
Semuanya pun memeluk Lili dengan hangat. Padahal teman-teman Fina ini tak terlalu dekat dengannya. Namun mereka mau memberikan semangat pada Lili. Ia pikir setelah kejadian Nada dulu, Lili takkan ada yang menemani sidang seperti ini.
"Terimakasih sudah rela bangun dan datang pagi ke sini" ucap Lili dengan tulusanya.
"Sama-sama. Yakin kalau kamu bisa. Ayo kita bantu persiapkan semuanya di dalam" ucap Fina.
Lili menganggukkan kepalanya kemudian mereka bersiap untuk membersihkan dan menyiapkan ruangan. Walaupun sudah dibersihkan oleh petugas kebersihan, namun Lili ingin mencoba mengatur ruangan sendiri. Pengaturan ruangan ini agar yang sedang menghadapi sidang bisa nyaman sendiri.
Semua pekerjaan terasa lebih cepat. Bahkan laptop dan pengaturan tempat duduk sudah siap dalam waktu beberapa menit saja. Lili sedari tadi mondar-mandir memeriksa semuanya padahal jelas kalau sudah tersusun dengan rapi.
"Kamu gugup ya, Li?" tanya Fina pada sahabatnya itu.
"Hehehe iya. Kok semakin mendekati jam malah semakin gugup dan panik gini ya" ucap Lili sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Fina hanya bisa mengelus lembut punggung Lili. Kasihan juga Lili saat kondisi seperti ini. Ia memang belum pernah merasakan sidang skripsi, tapi membayangkannya saja sudah ngeri-ngeri sedap. Ia hanya bisa berdo'a kalau sahabatnya diberi kelancaran atas semuanya.
Tak... Tak... Tak..
Suara sepatu dan lantai yang semakin mendekat membuat Lili dan yang lainnya mengalihkan pandangannya. Di sana sudah ada Aldo juga dosen lainnya tengah berjalan menuju ke ruangan sidang skripsi. Lili memejamkan matanya sejenak kemudian menarik nafasnya pelan.
__ADS_1