Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Rencana


__ADS_3

Berita penangkapan Bu Amel itu sampai masuk dalam sebuah portal berita. Bahkan dalam sebuah acara kriminal dan berita TV hingga membuat kampus seakan tercemar nama baiknya. Hal ini berpengaruh pada mahasiswa yang menempuh pendidikan di kampus itu.


"Wah... Dosennya aja berbuat kriminal. Lha terus mahasiswanya diajari apa dong? Gawat juga tuh lulusan sana. Kira-kira mereka dibekali hal-hal jahat gitu nggak ya?" ucap beberapa warga mengomentari kasus ini.


Bahkan komentar itu berada dalam tayangan TV. Sontak saja beberapa dosen dan petinggi kampus langsung mengadakan rapat dadakan. Seharusnya hal seperti ini memang tak boleh dinaikkan pada suatu berita. Cukup hanya beberapa orang saja yang tahu. Namun semua sudah terlanjur, apalagi ini sudah menyangkut keluarga orang berpengaruh.


"Bagaimana ini, Pak Aldo? Kok sampai bisa sampai masuk berita di TV" tanya Pak Lukman meminta penjelasan.


"Saya juga tidak tahu, Pak Lukman. Kemarin itu waktu penangkapan juga tidak ada namanya media kok. Apa mungkin dari pihak Bu Amel yang menyebarkannya? Ia tak terima dikeluarkan dari kampus ini juga" ucap Aldo menduga-duga.


Semua orang yang hadir dalam pertemuan ini terdiam sambil memikirkan solusi atas permasalahan ini. Tak menyangka kalau kejadiannya akan seperti ini. Bahkan para mahasiswa langsung melakukan aksi membela kampusnya.


Mereka membuat video pernyataan tentang tak adanya ajaran sesat di kampus. Justru kejadian ini karena cinta buta yang dirasakan oleh Bu Amel. Tak ada sangkut pautnya dengan kampus atau materi kuliah. Hal ini bisa sedikit meredakan gejolak panas di luaran sana mengenai kampus ini.


"Kita buat konferensi pers besok pagi. Undang media. Kalau perlu Pak Aldo undang kenalannya biar kami mudah juga meyakinkan para media kalau ada orang terkenal" ucap Pak Lio selaku salah satu petinggi kampus di sana.


Aldo hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ini semua akibat kecerobohannya yang membuat kampus jadi ikut terkena imbasnya. Aldo akan berusaha mengembalikan nama baik kampusnya agar semuanya kembali normal.


***


"Bagaimana kalau rencana pernikahan kita dimajukan?" tanya Aldo pada Lili yang kini sudah berada di rumah.


Kemarin Lili sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Kondisinya sudah membaik, hanya saja masih menunggu jahitan pada perutnya mengering. Butuh waktu lumayan lama karena tusukannya begitu dalam dan lebar.


"Memangnya ada apa?" tanya Lili yang heran dengan permintaan Aldo.

__ADS_1


"Aku hanya tak ingin kehilangan kamu. Aku tak ingin terjadi sesuatu pada kamu. Kayanya ada beberapa orang yang menginginkan kita untuk berpisah. Aku takut kalau itu sampai membuat kita berpisah beneran" ucap Aldo dengan raut wajah paniknya.


Lili hanya tersenyum tipis menanggapi apa yang diucapkan oleh Aldo itu. Kejadian kemarin membuat Aldo sedikit paranoid. Bahkan anaknya belum ia ijinkan masuk sekolah. Kalaupun nanti Kei masuk sekolah, Aldo akan mengawasi dan menunggunya hingga pulang.


"Kalau kita memang jodohnya, sekuat apapun mereka atau cobaan ke depannya pasti akan bersatu juga. Jangan lupa kalau di atas kekuasaan manusia masih ada Tuhan" ucap Lili mencoba menenangkan Aldo.


Aldo hanya bisa meraup wajahnya kasar. Ia benar-benar takut kehilangan Lili. Apalagi kehilangan Arlin waktu itu juga atas takdir dari Tuhan. Walaupun ia sedikit tenang karena Lili mencoba meyakinkannya tentang sebuah takdir.


"Tapi kita majukan saja ya? Please..." ucap Aldo dengan tatapan permohonan.


"Nggak perlu pesta mewah juga nggak papa kok. Yang penting sah dulu" lanjutnya dengan memohon.


Lili terdiam mendengar permintaan Aldo itu. Ia belum bisa memutuskan. Apalagi kondisinya yang baru saja sembuh dari sakit. Namun melihat tatapan permohonan dari Aldo itu membuatnya tak tega.


"Kita bicarakan dengan orangtua dulu. Jangan melangkahi mereka" ucap Lili mencoba bernegosiasi.


"Kita bicarakan dulu dengan mereka. Jangan asal membuat keputusan begitu" ucap Lili dengan tegas.


"Baiklah" ucap Aldo sambil menghela nafasnya pasrah.


Ia pasrah saja dengan apa yang diucapkan oleh Lili daripada perempuan itu malah ngambek. Setelah berbincang tentang rencana pernikahan yang dipercepat itu, Aldo segera menemui kedua orangtua Lili.


***


"Bagaima om, tante?" tanya Aldo setelah membicarakan niatnya mempersunting Lili.

__ADS_1


"Kami terserah Lili saja. Kalau Lili setuju, maka kami juga menyetujuinya" ucap Papa Dedi.


Sontak saja Aldo langsung mengucapkan syukur. Bahkan kedua orangtuanya juga sudah dihubungi. Semua pihak telah setuju jika rencana pernikahan dimajukan. Lili hanya bisa pasrah menerima semua keputusan yang disampaikan.


Persiapan dikebut, bahkan Mama Nei dan Mama Ningrum yang paling sibuk. Sedangkan Lili sendiri fokus pada pengumpulan skripsi dan pemulihannya. Apalagi untuk bergerak sedikit saja sudah membuat Lili kesakitan.


***


"Aldo, buruan cek di catering yang biasanya mama langganan di sana. Kalian lakukan test makanan dulu" seru Mama Nei.


"Itu kan bagiannya mama. Aldo mau ke gedung dulu. Mau pilih ruangan mana yang cukup buat tamu kita. Mama sih undang temannya banyak sekali. Aldo jadi harus cari gedung yang luas kan" ucap Aldo menggerutu dan menyalahkan mamanya.


Aldo yang rencananya hanya menyebar undangan sebanyak 750 sudah dengan keluarga dan teman dekat pun langsung lemas. Apalagi setelah mendengar mamanya yang mengundang tambahan temannya sebanyak 200 undangan. Ia sangat sebal sekali, undangannya dengan Lili saja jumlahnya hanya 750 dibagi dua.


Namun mamanya sudah sebanyak itu menambah undangan. Entah teman mana yang akan diundang oleh wanita paruh baya itu. Beruntung Mama Ningrum hanya meminta undangan 20 saja untuk teman terdekatnya.


"Mama ini sosialita kelas atas lho, Al. Teman mama banyak. Siapa tahu nanti kita dapat sumbangan berlian dan tas mewah kan" ucap Mama Nei langsung membeberkan keuntungannya ketika meminta undangan dari Aldo diperbanyak.


"Itu kan nanti juga masuknya ke kantong mama. Terus ntar mama yang pamer kemana-mana" ucap Aldo.


Aldo segera saja pergi dari mansion karena malas berdebat dengan mamanya. Sedangkan Papa Tito dan Kei hanya menjadi pendengar yang baik. Mereka malas ikut campur. Kei saja hanya mengundang satu temannya yaitu Nadeline. Sedangkan Papa Tito memilih tidak mengundang siapapun karena clientnya sudah sekalian dengan Aldo undangannya.


"Ma, ngalah aja sama Aldo. Ini kan pernikahan mereka. Acara juga buat kenalan mereka. Kok jadi mama yang mau ngundang temannya sih" ucap Papa Tito menegur istrinya yang sedari tadi menggerutu.


"Papa tuh sama kaya Aldo. Menyebalkan..." ucap Mama Nei yang langsung pergi meninggalkan Papa Tito dan Kei.

__ADS_1


Kei yang melihat perdebatan keduanya hanya menatap aneh. Masalah undangan saja ribut. Kalau mau ya bisa undang semuanya, asalkan mampu menyediakan makanan untuk semua tamu. Kalau tidak mampu, hanya akan membuat malu.


__ADS_2