
Acara resepsi pernikahan telah usai satu jam yang lalu. Sepasang pengantin baru itu tengah berada di dalam kamar. Tanpa ada drama siapa yang akan mandi duluan karena setelah selesai resepsi, Aldo langsung memasukinya lebih dulu. Apalagi badannya yang sudah gerah akibat keringat.
Sedangkan Lili langsung berganti pakaian di ruangan lain dan mandi di sana. Setelah selesai mandi, Lili segera menyusul Aldo ke kamar. Tak ada drama malu-malu karena Lili juga sudah pernah berada di kamar berdua dengan Aldo. Walaupun dulu ia masih menggunakan raga Arlin saat berada satu kamar dengan suaminya itu.
"Kok kamu kaya nggak malu-malu gitu sih? Biasanya kan kalau pengantin baru dan pertama kali masuk ke kamar itu kan suka malu-malu" tanya Aldo pada istrinya yang terlihat langsung merebahkan badannya di atas kasur.
Bahkan Lili sama sekali tak takut jika tiba-tiba diterkam oleh Aldo. Pasalnya Aldo juga sudah berada di atas kasur dan Lili terlihat biasa saja. Bahkan Lili menggunakan baju tidur yang terlihat mengundang setan lewat.
"Lha ngapain malu? Kan udah pernah satu kamar juga sama kamu" ucap Lili tanpa sadar.
Aldo terdiam sambil mengingat apa yang diucapkan oleh Lili. Pasalnya Aldo tidak merasa kalau pernah berada satu kamar bersama Lili. Mungkin juga karena satu kamar saat menemani Kei tidur. Namun Aldo tak berada di atas tempat tidur, hanya melihat kebersamaan keduanya.
"Kapan kita satu kamar?" tanya Aldo penasaran.
"Ups.."
Lili yang mendengar pertanyaan dari Aldo itu langsung menutup mulutnya. Ia lupa kalau berada satu kamar bersama Aldo saat berada di tubuh Arlin. Lili langsung saja berpikir cepat agar Aldo tak curiga terhadapnya.
"Ehmm... Itu waktu kita di kamarnya Kei. Aku dan Kei di ataa ranjang sedangkan kamu duduk di kursi sofa" ucap Lili saat mengingat kejadian waktu menemani Kei tidur di kamarnya.
Aldo hanya menganggukkan kepalanya kemudian memeluk Lili dari samping. Lili sedikit terkejut dengan perlakuan Aldo yang tiba-tiba ini. Namun beberapa menit kemudian, ia berusaha santai. Apalagi ia harus mengingat jika yang memeluknya ini adalah sang suami.
"Akhirnya bisa bebas meluk kaya gini tanpa takut dosa" ucap Aldo.
"Dih... Kemarin aja main nyosor nggak ingat dosa kok" ucap Lili dengan sedikit menyindir Aldo.
__ADS_1
"Namanya juga khilaf" ucap Aldo dengan santai.
Aldo langsung saja menciumi pipi istrinya itu membuat Lili geli sendiri. Namun ia berusaha meyakinkan dirinya untuk menerima semua perlakuan Aldo. Apalagi suaminya itu nanti juga akan meminta haknya. Lili hanya memejamkan matanya menikmati apapun yang dilakukan oleh Aldo. Hingga tiba-tiba...
Dugh... Dugh... Dugh...
"Mama... Danan mau diculik papa. Dangan tidul cama papa. Papa cukana nolok" seru Kei yang ternyata malah menggedor pintu kamar hotel yang ditempati oleh Lili dan Aldo.
Sontak saja keduanya langsung mengalihkan pandangannya kearah pintu. Lili melihat Aldo yang tengah menyugar rambutnya ke belakang karena frustasi. Lili hanya bisa meringis pelan karena melihat suaminya yang sudah panas namun malah harus mendapatkan gangguan.
"Sabar ya. Namanya juga punya anak kecil yang masih butuh kasih sayang dan perhatian" ucap Lili sambil mengelus lengan tangan suaminya.
"Sabar... Sabar... Gitu aja terus sampai ban mobil ada di atas kendaraan" ucap Aldo dengan ketus.
Bahkan Aldo langsung saja turun dari kasurnya kemudian masuk dalam kamar mandi. Sedangkan Lili hanya bisa menghela nafasnya pasrah melihat kemarahan Aldo itu. Lili segera turun dari kasur setelah memperbaiki pakaiannya kemudian membuka pintu yang digedor terus menerus.
Ceklek...
"Papa mana? Apa papa ndak tidul cekamal cama mama?" tanya Kei pada Lili.
"Papa ada di kamar mandi. Kei kok belum bobok?" tanya Lili setelah mengunci pintu kamarnya.
"Ndak bica bobok. Kei tidul di cini ya?" ucap Kei dengan mata berbinarnya meminta ijin kepada Lili.
Lili hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Pasalnya ia tak bisa memberikan keputusan sepihak. Ada Aldo yang nanti pasti akan ngomel-ngomel kalau dia langsung memutuskan untuk mengijinkan Kei tidur bersama mereka.
__ADS_1
"Memangnya oma dan opa kemana? Katanya kamu mau tidur sama mereka" tanya Lili dengan hati-hati.
"Meleta ada. Tata oma, culuh tidul cama mama dan papa caja. Oma mau bitin adikna papa ditu" ucap Kei dengan polosnya.
Padahal Mama Nei waktu itu hanya bercanda saja, namun dianggap serius oleh cucunya itu. Bahkan Kei juga mengucapkan langsung alasan itu di depan Lili. Gadis itu hanya bisa meringis kecil dan menghela nafasnya pelan.
"Astaga... Mama kok malah bilang kaya gituan sama Kei sih" gumam Lili pelan dengan memalingkan wajahnya.
"Baiklah... Ayo kita tidur di atas kasur. Nggak usah nungguin papa" ucap Lili yang langsung mengajak Kei tidur.
Pasalnya kalau menunggu Aldo yang entah sedang apa di dalam kamar, pasti akan sangat lama. Ada kemungkinan juga kalau Aldo akan ngambek jika ada Kei di sini. Keduanya naik ke atas kasur dengan Kei yang memeluk Lili setelah berbaring.
"Terimakasih sudah menerima mama. Semoga kamu selalu seperti ini. Manja dan sayang sama mama" bisik Lili pada Kei yang sudah mulai pulas dalam tidurnya.
"Kei cayang mama, celamana" gumam Kei lirih.
Lili yang mendengar gumaman itu tersenyum. Ia tak menyangka sudah berada di posisi ini. Lili menepuk lembut punggung Kei agar bocah kecil itu semakin terlelap dalam tidurnya. Bahkan Lili juga membalas pelukan hangat Kei itu. Akhirnya Lili ikut tertidur, melupakan suaminya yang tengah kesusahan.
Ceklek...
"Astaga... Pengganggu itu malah tidur di sini lagi. Mama tuh gimana sih? Katanya akan menahan Kei biar nggak cari Lili" gerutu Aldo saat keluar dari kamar mandi.
Apalagi saat melihat Kei sudah berada dalam pelukan Lili. Ia menyalahkan mamanya yang ia minta agar tak membiarkan Kei ke kamarnya. Ia yakin kalau mamanya itu yang ingin menjahili dirinya sehingga menyuruh Kei ke sini.
"Gagal ya Allah, kapan adiknya Kei launching kalau kaya gini?" gumamnya sambil mengusak rambutnya dengan kasar.
__ADS_1
Aldo pun segera saja berjalan kearah Lili dan Kei yang sudah tertidur di atas kasur. Melihat Kei, rasanya ingin membuat Aldo menjitak kepala kecilnya itu. Namun mengingat jika itu adalah anaknya sendiri membuat dia segera saja membaringkan tubuhnya di samping Kei.
"Selamat tidur istriku tercinta dan pengganggu menyebalkan" ucapnya pada dua orang yang sangat ia sayangi itu.