Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Rumah Sakit


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Fina itu memasuki rumah sakit. Fina dan teman-temannya langsung keluar dari mobil hingga beberapa diantaranya segera meminta bantuan. Kei terus saja menangis dalam pangkuan teman Fina.


"Sabar ya. Jangan nangis terus, kita do'akan mama agar segera sehat kembali" ucap Nabila, salah satu teman Fina.


"Tatut, ante. Dalahna banak banet" ucap Kei yang terisak dalam pelukan Nabila.


"Jangan dilihat ya darahnya. Peluk tante saja" ucap Nabila mencoba menenangkan.


Nabila berusaha agar Kei tetap tenang dan tak mengalami trauma akan kejadian ini. Apalagi saat melihat Lili memejamkan matanya dengan darah terus mengalir dari perutnya. Itu bisa menimbulkan trauma untuk anak seusia Kei.


Aldo langsung membawa Lili dan meletakkannya di atas brankar yang dibawa petugas medis. Mereka segera mengikuti dari belakang hingga sampailah di depan sebuah ruang IGD. Aldo duduk di kursi depan ruang IGD dengan kemeja yang sudah berlumuran darah.


"Papa, tepon nenek atau oma" ucap Kei.


Aldo hanya menganggukkan kepalanya mengerti kemudian menghubungi mamanya dan calon mertuanya. Aldo sedikit menjauh saat berbicara dengan dua orang wanita paruh baya itu. Apalagi mereka sepertinya shock dan malah meminta penjelasan detail darinya.


"Astaga... Kenapa jadi kaya gini sih?" gumam Aldo sambil meraup wajahnya kasar setelah selesai menghubungi mereka.


Aldo segera menatap semua teman Lili yang duduk di depan ruang IGD. Kei juga berada di sana namun tak mau sama sekali membuka matanya. Ia takut apalagi melihat kemeja Aldo sudah bersimbah darah seperti itu.


"Saya titip Kei dan Lili. Saya mau ganti baju dulu dan mengurus administrasinya" ucap Aldo.


"Baik, pak" ucap semuanya bersamaan.

__ADS_1


Aldo segera pergi dari depan ruang IGD kemudian menuju ke parkiran mobilnya. Ia mengambil kemeja baru kemudian pergi ke kamar mandi. Tak lupa, ia menghubungi pihak kepolisian untuk menyelidiki kasus ini. Ia akan mengusut tuntas semuanya, apalagi tadi Kei sempat bercerita kalau para preman itu mengincar bocah cilik itu.


***


"Lukanya cukup dalam dan mengeluarkan darah begitu banyak. Kami sudah melakukan transfusi darah pada pasien. Kita akan pantau satu sampai dua jam ke depan untuk perkembangannya. Untuk saat ini, kondisi pasien sudah stabil dan tak ada yang perlu dikhawatirkan" ucap dokter yang baru saja keluar dari ruang IGD setelah hampir satu jam berada di dalam ruangan.


Semua yang ada di sana menghela nafasnya lega. Walaupun kondisi Lili sudah stabil, namun ia akan mengusut semuanya. Ia takkan membiarkan preman-preman itu berkeliaran bebas di luaran sana. Apalagi di sini nyawa Kei juga dalam bahaya.


Dokter dan beberapa perawat pergi dari ruang IGD dengan Lili yang didorong dengan brankarnya. Saat brankar Lili menuju ruang rawat inap, rombongan orangtua Lili dan Aldo berjalan cepat kearah mereka.


"Aldo, Kei... Apa yang sebenarnya terjadi sama Lili?" tanya Mama Nei dengan hebohnya.


"Aldo juga nggak tahu, ma. Ayo kita bicara di dekat ruang rawat inap Lili saja, jangan di jalan" ucap Aldo mengajak para orangtua yang panik.


Mereka akhirnya mengikuti brankar Lili yang sudah dimasukkan dalam ruang rawat inap. Mereka menunggu di luar sebentar untuk berbincang agar suasananya tidak sumpek. Mama Ningrum menangis dalam pelukan Papa Dedi karena melihat kondisi anaknya yang seperti ini.


"Kei, apa yang terjadi?" tanya Mama Nei yang langsung memgambil cucunya dari gendongan Nabila.


Mama Nei juga mengelus lembut punggung cucunya yang bergetar. Bahkan badannya sedikit hangat, hal itu membuat Mama Nei tahu kalau kejadian ini membuatnya terngiang. Bahkan bisa saja Kei saat ini justru mengalami trauma karena melihat kejadian yang tak diinginkan ini.


"Tadi ada pleman. Ada tida, meleta mau ambil Kei. Tapi mama halani. Kei diculuh kabul cali peltolonan. Kei lali, telus ndak tau campe balik ladi mama cudah beldalah" ucap Kei lirih.


Mereka menganggukkan kepalanya mengerti. Pasti berat menjadi Kei yang langsung melihat peristiwa itu. Apalagi melihat Lili yang melindunginya agar tak dikejar oleh para preman itu.

__ADS_1


"Emm... Maaf pak, bu... Kami ijin pamit balik ke kampus karena ada jadwal kuliah" ucap Fina mewakili teman-temannya.


"Oh... Iya, maaf kami sampai tak menyapa dan mempedulikan kalian. Terimakasih atas bantuannya membawa Lili ke rumah sakit. Terimakasih juga sudah menjaga Kei" ucap Mama Nei.


Mereka bersalaman kemudian pamit pada keluarga Lili dan Aldo. Sedangkan Aldo dan yang lainnya segera masuk dalam ruang rawat inap Lili. Mama Nei, Mama Ningrum, dan Kei duduk di kursi samping brankar Lili. Sedangkan yang laki-laki duduk di kursi sofa untuk berbincang.


"Pa, bisa tolong teman papa buat retas CCTV yang ada di sekitar taman. Aldo kok udah nggak sabar ingin tahu apa yang terjadi. Walaupun pasti sekarang polisi sedang bertindak dan mencari buktinya. Tapi pasti agak sedikit lama. Setidaknya kita bisa gerak cepat mencari pelaku" ucap Aldo meminta pertolongan pada papanya.


"Sebentar, Al. Biar papa hubungi teman papa itu" ucap Papa Tito.


Papa Tito menghubungi temannya, sedangkan Aldo dan Papa Dedi hanya diam. Mereka menahan amarahnya karena ada yang berani mengusik keluarga keduanya. Mereka malah menduga kalau semua ini akibat dari pengumuman yang disampaikan oleh Aldo mengenai lamarannya dengan Lili.


"Tunggu 10 menit. Teman papa akan menghubungi lagi" ucap Papa Tito.


***


"Lihat ini..." seru Papa Tito sambil memperlihatkan layar ponselnya.


Sontak saja Aldo dan Papa Dedi segera mendekat kearah Papa Tito. Mereka bertiga mencermati video CCTV yang dikirimkan teman Papa Tito. Terlihat jelas di sana kalau Lili berusaha melawan tiga preman itu setelah Kei kabur. Lili berusaha menahan agar para preman itu tak mengejar Kei.


Namun ada yang menarik perhatian mereka. Ada seorang perempuan yang bersembunyi di dekat pohon besar yang ada di taman itu. Mereka terus mengamati pergerakan itu hingga Lili ditusuk pisau dan perempuan itu langsung berlari pergi.


"Coba perbesar yang tadi, pa" titah Aldo pada papanya agar memperbesar bagian perempuan itu karena wajahnya tak terlalu jelas.

__ADS_1


"Lho ini kan yang debat sama kamu di kampus kan, Al?" tanya Papa Tito setelah memperbesar ukuran yang ada di layar ponselnya.


Aldo langsung melihat wajah perempuan itu. Aldo benar-benar kesal karena ternyata dugaannya benar. Itu adalah salah satu rekan kerjanya bekerja sebagai dosen. Aldo tak menyangka kalau perempuan itu bisa seenaknya begini dan malah ingin menculik Kei. Dia adalah Ibu Amel.


__ADS_2