Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Pura-Pura


__ADS_3

"Cari siapa, pak?" tanya seorang satpam yang menghadang jalan Brama.


Itu adalah kawasan apartemen elit, jadi tak sembarang bisa masuk. Apalagi itu bukan penghuninya, tamu saja harus diperiksa segala macamnya. Pantas saja jika Ajeng memilih tinggal di sini karena tak sembarangan bisa memasukinya.


"Saya mau tanya tentang apartemen di sini. Saya mau mencari apartemen untuk tempat tinggal. Di sini sistemnya beli cash atau kredit atau bisa disewa ya, pak?" tanya Brama pura-pura ingin membeli sebuah apartemen.


"Kalau itu bisa langsung ke bagian informasi, pak. Saya tak berani menjawabnya karena bukan dalam kapasitas saya" ucap satpam itu.


"Tolong tunjukkan bagian informasinya, pak. Ini saya soalnya butuh segera tempat tinggalnya karena orangtua saya lusa sudah datang ke Indonesia" ucap Brama dengan berbohong.


"Baik, pak" ucap satpam itu.


Beruntung Brama menggunakan jas formal seperti seorang pengusaha. Jadi siapapun akan berpikir jika ia adalah orang kaya sehingga terlihat mampu membeli apartemen mewah di sini. Brama berjalan di belakang satpam sambil melihat kearah sekitar.


"Mana tuh wanita licik. Kalau kaya gini kan susah buat cari tahu" gumam Brama pelan.


"Silahkan masuk, pak. Anda bisa bertanya kepada orang yang ada di dalam" ucap satpam itu setelah memasuki ruangan sebentar.


Brama hanya menganggukkan kepalanya kemudian masuk dalam ruangan itu. Customer service menjelaskan semuanya dan Brama meminta untuk melihat apartemen yang ada di sini. Terutama ruangannya yang ingin ia pastikan.


Sebenarnya Brama tak berniat juga membeli apartemen di sini, namun ini semua demi memuluskan rencananya. Brama berjalan bersama dengan seorang customer service yang menjelaskan seluk beluk apartemen yang akan ditempatinya nanti.


"Ini bagaimana membedakan penghuninya? Apakah punya nomor khusus setiap penghuninya? Contoh khusus pengusaha berada di nomor 1 sampai 4. Atau terserah mau pilih mana saja asal bisa membayarnya?" tanya Brama mencoba mengorek informasi.


"Untuk kamar apartemen sendiri yang harganya di atas 2 M ada di nomor 25 sampai 27, pak. Kalau untuk yang menengah bisa di nomor bawahnya. Kami tak mempermasalahkan pekerjaannya yang terpenting bisa membayar dan punya jaminan" ucap customer service itu.

__ADS_1


Brama menganggukkan kepalanya. Berarti Ajeng berada di apartemen khusus yang menengah. Akhirnya Brama juga memilih di sana bahkan kamarnya juga berdekatan dengan milik Ajeng. Saat customer service itu akan membukakan pintu, ternyata apartemen sebelah terbuka juga.


Terlihat kalau itu adalah Ajeng membuat Brama menetralkan wajahnya. Ia akan berusaha terlihat natural seakan baru saja bertemu dengan Ajeng. Ia tak mempedulikan customer service yang sudah masuk lebih dulu.


"Lho Ajeng, kan? Wah... Kebetulan ketemu di sini. Kemarin kamu bawa Nadeline dari sekolahnya kan? Mana sekarang dia? Pasti dia senang sudah bertemu dengan mama kandungnya" ucap Brama yang sok akrab dengan Ajeng.


Padahal Brama sangat kesal dengan Ajeng dan ingin menonjoknya. Namun ia langsung ingat dengan pesan Papa Tito agar fokus mencari tahu mengenai tujuan Ajeng membawa Nadeline. Brama menunjukkan senyum seakan semuanya baik-baik saja.


Ajeng yang melihat adanya Brama di depannya pun terkejut dan panik. Bahkan Ajeng seperti melihat setan yang memilih memundurkan langkahnya. Brama pura-pura bingung kemudian berjalan mendekat kearah Ajeng.


"Pak, kok malah ke situ? Ini kita mau lihat-lihat dulu ruangannya" tegur customer service yang kembali keluar dari apartemen karena Brama tak mengikuti masuk ke dalam.


"Nanti dulu saja, mbak. Ini saya malah ketemu sama mantan istri saya. Kalau jadi, nanti saya langsung ke ruangan anda" ucap Brama tanpa mengalihkan pandangannya dari Ajeng.


Customer service itu hanya menganggukkan kepalanya. Ajeng yang akan memasuki apartemennya pun pintunya langsung ditahan oleh Brama. Tentu saja Brama takkan pernah membiarkan kesempatan ini sia-sia begitu saja. Apalagi di sini sangatlah sepi.


"Nggak ada di sini. Dia sedang jalan-jalan sama orangtuaku yang kaya raya itu" ucap Ajeng dengan cepat bahkan terkesan angkuh.


"Orangtua yang mana? Perasaan orangtuamu sudah meninggal" tanya Brama dengan senyuman polosnya.


"Maksudku orangtua angkat. Ya itu, orangtua angkat" ucap Ajeng sambil terkekeh pelan.


"Baiklah... Kalau begitu aku akan menunggu Nadeline pulang ke apartemen ini. Aku harus memastikan kalau dia dalam keadaan baik-baik saja" ucap Brama.


Brama langsung menyelonong masuk membuat Ajeng memelototkan matanya. Ia jadi panik sendiri namun juga heran. Pasalnya Brama terlihat tenang saat tahu jika Nadeline ia bawa. Padahal Brama tahu kalau ia sama sekali tak menyukai anak kecil.

__ADS_1


***


"Brama, mending kau keluar dari apartemenku. Aku tak ingin jika nanti suamiku datang malah dia salah paham karena ada kamu" seru Ajeng yang baru saja masuk dalam apartemennya.


Bahkan Brama masih berdiri dan melihat kearah sekeliling apartemen Ajeng. Brama hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan saat merasa jika apartemen yang ditempati Ajeng ini terlihat biasa saja. Brama tak mempedulikan Ajeng yang mengusirnya keluar apartemen.


"Dia nggak akan salah paham. Toh saya ke sini karena anakku yang berada di tanganmu. Kalau dia marah, biar aku jelaskan kalau Nadeline punya hak ketemu mamanya" ucap Brama dengan santai.


"Aku cuma sebentar saja kok. Sampai anakku kembali. Aku juga rindu dengan Nadeline walaupun baru semalam tidak tidur bersamanya" lanjutnya dengan santainya.


"Dasar bodoh. Aku tak mungkin mau merawat anak itu. Apalagi kau tahu kalau aku tak suka merawat anak kecil" seru Ajeng.


"Bahkan anakmu itu ingin ku jual biar aku bisa hidup dengan tenang" lanjutnya.


Sontak saja Brama mengubah raut wajahnya menjadi datar. Tatapannya begitu dingin dan tajam membuat Ajeng memundurkan langkahnya. Ia baru tersadar kalau ucapannya itu menyulut amarah dalam diri Brama.


"Sialan... Jadi kau ingin menjual anakku? Kau itu ibu kandung macam apa? Dimana anakku sekarang, ha? Dimana? Ku kira kau sudah berubah, menjemput Nadeline untuk melimpahkan kasih sayang padanya" seru Brama.


"Apa? Seorang anak kan memang harus berguna untuk orangtuanya. Kalau bisa menghasilkan uang dengan instant, kenapa aku harus susah-susah merawatnya? Bahkan hanya tinggal kasih ke preman saja aku sudah dapat uang banyak" seru Ajeng.


Tentu saja amarah Brama semakin meluap dan laki-laki itu langsung mencekik leher Ajeng. Ia melupakan pesan Papa Tito dan Aldo yang memintanya agar menahan emosi. Brama tak terima dengan semua pemikiran Ajeng yang seakan tak menganggap Nadeline sebagai seorang anak.


"Dasar tak waras. Aku yakin kalau kau akan menemui karmanya" ucap Brama penuh penekan.


Wajah Ajeng memerah karena tak bisa bernafas secara leluasa. Brama mencekik lehernya dengan kuat. Bahkan Ajeng sudah memberontak namun Brama seakan tak peduli dengan itu.

__ADS_1


Brakk...


__ADS_2