
Hampir semua orang yang telah berdonasi dan awak media telah berkumpul di halaman kantor polisi. Padahal dari pihak yang berwajib sendiri belum mengumumkan akan dibawa kemana pelaku itu. Pasalnya mereka mempertimbangkan jarak yang lumayan jauh dari pelarian ketiganya.
Kalau dimungkinkan, akan diproses di kantor polisi yang ada disini. Namun jika tidak, ketiganya akan dititipkan terlebih dahulu di kantor polisi yang dekat karena hari memang sudah menjelang malam. Agak sedikit kecewa bagi mereka yang sudah jauh-jauh datang malah tidak ada kepastian seperti ini.
"Jadi ini kita harus menunggu sampai jam berapa, pak? Kita tak mungkin menginap disini bukan?" kesal salah satu massa.
"Akan lebih pastinya besok, bu. Lebih baik semua membubarkan diri dulu, besok kami akan umumkan. Kalian pasti lelah bukan? Seharian lho ini hanya mengurusi para pelaku" ucap polisi itu memberitahu baik-baik.
Tentunya untuk menghindari kericuhan kembali, pihak yang berwajib memilih untuk bicara baik-baik dengan menyarankan agar kerumunan dibubarkan. Mereka saja tidak tahu akan datang jam berapa itu ketiga pelaku. Yang pasti jika pelaku sudah datang nantinya, akan ada yang diinformasikan.
Terlebih ini ada sangkut pautnya dengan uang yang dibawa lari oleh pelaku. Mereka tak ingin nantinya ribut dan membuat proses pemeriksaan terhambat. Lagi pula ada awak media yang sigap 24 jam untuk menginformasikan semuanya dan pihak yang berwajib juga takkan menutupinya.
Akhirnya semua mengikuti arahan para pihak kepolisian. Tidak mungkin juga mereka akan menginap di kantor polisi seperti ini. Mereka akhirnya kembali ke rumah masing-masing kecuali awak media yang bertugas malam itu.
"Itu mereka" seru salah seorang awak media.
Para awak media yang sedari tadi telah menunggu kedatangan mobil yang membawa ketiga pelaku pun langsung menyiapkan live report saat mendengar seruan dari rekannya itu. Beberapa polisi langsung siap siaga mengamankan ketiga pelaku agar tidak mendapatkan serangan yang tak terduga.
Tepat pukul setengah 12 malam mereka tiba di kantor polisi. Bahkan ketiganya hanya mampu tertunduk lesu saat turun dari mobil tanpa menghiraukan banyaknya awak media yang memberondong mereka dengan banyak pertanyaan. Mereka lebih memilih bungkam saat digiring masuk dalam kantor polisi. Para awak media tak dapat berbuat banyak karena memang hari sudah sangat malam untuk melakukan konferensi pers.
__ADS_1
***
Arlin dan Aldo serta pengacaranya langsung saja menuju ke kantor polisi setelah mendapatkan informasi kalau ketiga pelaku sudah ditangkap. Tentunya mereka datang keesokan harinya karena tidak mungkin malam-malam pergi ke kantor polisi. Kedatangan mobil mereka sudah disambut heboh oleh orang-orang yang kemarin juga datang kesana.
Arlin dan Aldo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat hebohnya orang-orang atas kasus ini. Padahal ini adalah kasus biasa namun yang sangat disayangkan, banyak orang yang terlibat dan menjadi korban. Tentunya berita ini menjadi sorotan orang banyak dan menarik perhatian kalangan masyarakat.
"Kami permisi masuk dulu ya" ucap Pak Lion agar semua awak media dan orang-orang disana memberi jalan.
Arlin dan Aldo hanya bisa menyunggingkan senyum tipisnya saja saat melihat semua orang langsung menuruti perintah Pak Lion. Pasalnya tak mungkin Arlin bisa melewati kerumunan orang itu, bahkan sudah terlihat sekali kalau semuanya ingin mendekat pada Arlin. Sepertinya mereka sangat bersimpati dengan keadaan Arlin, namun keadaan yang banyak orang ini tak memungkinkan untuk melakukan hal itu.
Bahkan pihak kepolisian juga langsung mempercepat langkahnya agar bisa melindungi Arlin. Arlin yang masih duduk di kursi roda itu hanya bisa menunduk karena kini semua orang menatapnya iba saat ia lewat. Ia tidak suka diperlakukan atau dipandang seperti itu, pasalnya ia kini malah perasaannya jauh lebih bahagia.
"Sehat-sehat, mbak".
"Jangan takut melawan, kami ada disini".
Beberapa lontaran semangat dari beberapa orang disana hanya dijawab anggukan kepala oleh Aldo. Pasalnya Arlin sendiri lebih memilih menunduk karena malu. Ia tak ingin terkenal lewat jalur seperti ini, apalagi harus ada korban yang tertipu dengan berdonasi.
"Mereka ada di sel B dan E. Mereka belum bisa kami temukan jadi satu dengan nona dan tuan. Dikhawatirkan mereka akan merencanakan sesuatu dan malah membuat pemeriksaan berjalan lambat" tanya salah satu polisi saat mereka sudah sampai dalam kantor.
__ADS_1
"Kami mengerti. Saya hanya ingin menemui Tuan Madin sebentar" ucap Arlin dengan senyum tipisnya.
Memang untuk saat ini mereka belum bisa dipertemukan dalam satu ruangan untuk para pelakunya. Yang ada nanti malah mereka bisa berdiskusi saat akan dilakukan pemeriksaan. Hal ini membuat hasilnya tidak akurat sehingga pihak kepolisian memilih untuk tidak menghadirkan mereka secara bersamaan jika ada yang menjenguk.
Salah satu polisi langsung saja menunjukkan dimana tempat Papa Madin berada. Mereka segera menuju kesana melewati beberapa bilik jeruji besi yang diisi oleh beberapa orang. Arlin sedari tadi menautkan telapak tangannya dengan erat, ia begitu gugup saat akan menghadapi papanya.
Ada sedikit rasa sesak dihatinya saat melihat bagaimana keadaan dalam bilik penjara. Apalagi dengan hanya ada tikar tipis disana sebagai alas. Ada rasa tak tega disana saat membayangkan jika nanti papanya itu akan tinggal lama disana karena perbuatannya. Namun ini sudah konsekuensi dari semua yang telah beliau lakukan terhadapnya.
"Silahkan... Pak Madin, ada yang menjenguk" ucap salah satu polisi.
"Terimakasih pak" ucap Arlin pada polisi yang mengantarnya.
Papa Madin yang duduk sendirian diatas alas tikar itupun langsung saja mengangkat kepalanya kemudian beranjak dari duduknya. Apalagi ia melihat ada Arlin dan Aldo disana yang ia yakini tengah menjenguk dirinya. Setidaknya ia tahu kalau anaknya itu masih mempunyai hati untuk menjenguknya.
Arlin mengalihkan pandangannya saat melihat Papa Madin mendekat kearahnya. Papa Madin yang melihat itu sedikit kecewa dan ingin sekali mengumpatinya. Ia tak menyangka jika kehadiran mereka disini ternyata bukan untuk menjenguknya.
"Kami kesini bukan untuk menjenguk anda. Saya hanya ingin melihat bagaimana penderitaan anda saat ini setelah masuk jeruji besi" ucap Arlin masih tanpa mengalihkan pandangannya.
"Lebih baik kalian pergi saja kalau begitu. Saya tak butuh dilihat, saya masih bahagia disini" ucap Papa Madin dengan sombong.
__ADS_1
Tentunya melihat kesombongan dari Papa Madin itu membuat Arlin dan Aldo geleng-geleng kepala. Ia tak menyangka kalau Papa Madin ini masih bisa sombong padahal keadaannya sudah menderita seperti ini. Arlin semakin yakin untuk meneruskan kasus ini ke jalur hukum pasalnya tidak ada penyesalan sama sekali dari ketiga pelaku. Aldo yang mendengar ucapan mertuanya itu langsung mengelus bahu istrinya dengan lembut. Ia tahu bagaimana hancurnya perasaan Arlin saat ini.