
Rasa bersalah terus menghantui diri Aldo setelah sampai rumahnya. Bahkan ia merasa linglung dengan tatapan kosongnya. Apalagi saat melihat Lili menangis ketakutan karena dirinya yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Bahkan tadi saat kedua orangtuanya memanggilnya, Aldo sama sekali tak menggubrisnya.
"Kenapa malah jadi kepikiran sama dia sih? Biarin aja napa. Toh itu urusan dia kalau ketakutan begitu" gumam Aldo yang malah mengacak-acak rambutnya karena mengingat tingkahnya itu.
Bahkan Aldo terbayang dengan tatapan kecewa yang dilayangkan oleh Lili padanya itu. Ia juga masih mengingat ucapan pedas Lili mengenai dirinya yang sebenarnya tak berharap dekat dengannya juga Kei. Ia yakin kalau Kei tak bertemu Lili dalam jangka waktu yang lama, pasti bocah kecil itu akan rewel.
"Apa yang harus papa lakukan, Kei? Papa masih mencintai mama kandungmu. Tak mungkin kalau papa melampiaskan kesepian ini dengan mendekati Lili. Selain Lili akan sakit hati karena harapan palsu yang papa berikan, pasti gadis itu juga tak mau dekat dengan papamu ini" gumam Aldo.
Aldo sudah pasrah saja jika keesokan harinya akan menjadi sasaran kemarahan dari anaknya. Apalagi kalau sampai anaknya itu tahu tentang dirinya yang membuat menangis Lili. Kedua orangtuanya pun pasti akan marah besar padanya.
Akhirnya Aldo langsung membaringkan tubuhnya di atas kasurnya kemudian memejamkan matanya. Aldo begitu lelah memikirkan semua yang terjadi dalam hidupnya begitu pula dengan sikapnya yang berubah-ubah semenjak meninggalnya Arlin.
***
Beberapa kali tubuh Lili mengalami kejang-kejang karena demamnya terlalu tinggi. Bahkan Lili juga sering mengigau dalam ketidaksadarannya ini. Hal ini tentu membuat Lili benar-benar dijaga secara intensif oleh keluarga dan tim medis.
"Tolong... Jangan kencang-kencang mobilnya. Lili takut" igau Lili dalam tidurnya.
Sudah berulangkali Lili mengigau dengan meminta pertolongan karena takut akan mobil yang dilajukan dengan kencang. Papa Dedi dan Mama Ningrum hanya bisa menyimpulkan kalau anaknya itu trauma akan mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Namun Papa Dedi yang dulunya berbuat salah kepada Lili itu sama sekali tak mengingat peristiwa mengenai dirinya yang melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Mama Ningrum yang melihat hal itu terus saja mengelus lembut dahi anaknya yang kini berkeringat.
"Tenang, nak. Tidak akan ada yang berani melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi di sini. Kamu harus bisa melewati semua rasa takutmu itu" bisik Mama Ningrum tepat pada telinga anaknya.
Bahkan Papa Dedi juga langsung mengelus lembut lengan anaknya agar Lili bisa segera tidur. Mendengar ucapan dari mamanya dan usapan lembut yang ia rasakan itu membuat Lili merasa nyaman dan aman. Bahkan Lili langsung tenang dan tertidur dengan lelap.
"Apa kita dulu yang jadi penyebab traumanya Lili ya, pa? Cuma kitanya aja yang tidak mengingatnya" tanya Mama Ningrum pada suaminya itu.
Papa Dedi yang mendengar ucapan dari istrinya itu seketika terdiam. Papa Dedi tengah mengingat lagi beberapa kejadian di masa lalu yang mungkin saja menjadi penyebab dari trauma anaknya. Setelah beberapa menit mengingat semuanya, tak ada satu pun peristiwa yang menjadi penyebab dari semua ini.
"Papa lupa, ma. Tapi papa kok kaya yakin kalau bukan kita yang jadi penyebab peristiwa ini ya" ucap Papa Dedi.
__ADS_1
Mama Ningrum hanya mengedikkan bahunya pertanda tidak mengetahui apa yang terjadi. Besok, mereka akan mencari tahu semuanya dengan bertanya pada anaknya. Walaupun anaknya tak secara gamblang menceritakannya, namun setidaknya mereka bisa mengetahui sedikit saja.
***
"Lili, akhirnya kamu bangun juga" ucap Mama Ningrum yang melihat anaknya kini telah bangun dari tidurnya.
Sebenarnya semalam Lili bisa saja sadar dari pingsannya, namun dokter memberikan suntikan obat tidur agar pasien bisa istirahat. Dan pagi ini, saat Mama Ningrum akan membersihkan badan dari Lili ternyata anaknya itu bangun. Mama Ningrum begitu bahagia karena melihat anaknya telah terbangun dan wajahnya tak sepucat semalam.
"Apa yang terjadi, ma? Kok Lili ada di rumah sakit" tanya Lili setelah melihat kearah sekitar yang ternyata ini bukanlah kamarnya.
"Semalam kamu pingsan. Badan kamu demam tinggi dan wajahmu pucat sekali. Akhirnya mama dan papa memutuskan untuk membawa kamu ke rumah sakit" ucap Mama Ningrum menjelaskan.
"Apa masih terasa pusing kepalanya?" tanyanya pada sang anak yang kembali memejamkan matanya itu.
Lili hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Mama Ningrum membantu Lili untuk minum kemudian membersihkan tubuh anaknya dengan lap basah. Setelah semua bersih, barulah Lili makan dengan disuapi oleh Mama Ningrum. Perhatian dari Mama Ningrum ini membuat Lili merasa terharu karena merasakan kasih sayang dari seorang ibu.
Tak berapa lama, Papa Dedi masuk dalam ruang rawat inap Lili. Papa Dedi tersenyum kearah anaknya yang kini tengah makan dengan lahapnya. Pandangan Lili dan Papa Dedi bertemu membuat gadis itu seketika menegang. Ada pancaran ketakutan dalam mata Lili membuat gadis itu langsung menundukkan kepalanya.
"Kamu kenapa, nak?" tanya Mama Ningrum kepada anaknya yang langsung berubah sikapnya setelah kedatangan suaminya itu.
"Tolong bicara sama kami. Sebenarnya ada trauma masa lalu apa sehingga kamu semalam pingsan? Papa tahu kalau selama ini belum bisa menjadi sosok pemimpin keluarga yang baik. Tapi tolong katakan, salah kami apa hingga kamu trauma begini? Dokter juga bilang pada kami kalau kamu begini karena mengingat sesuatu" ucap Papa Dedi dengan raut khawatirnya.
Mendengar apa yang diucapkan oleh papanya itu sontak saja membuat tubuh Lili menegang. Sepertinya semalam dirinya mengigau hingga semua orang tahu tentang ketakutannya selama ini. Mama Ningrum yang melihat anaknya terdiam seperti ini pun langsung memeluknya dari samping.
Bahkan Papa Dedi juga langsung mengelus lembut punggung tangan anaknya agar sedikit lebih tenang. Sepertinya Papa Dedi tak bisa memaksa anaknya untuk menceritakan semuanya secara langsung. Bukannya anak merasa lega namun malah semakin tertekan.
"Kami tunggu sampai kamu siap untuk menceritakan semuanya pada kami. Jangan takut, nak. Kami di sini sekarang juga karena ingin berubah. Kami ingin membuat kenangan yang indah agar keluarga kita semakin harmonis. Jangan lupa kalau kami sudah berubah agar kamu bisa merasakan kasih sayang orangtua sepenuhnya" ucap Papa Dedi dengan lembut.
Papa Dedi juga langsung memeluk dua perempuan yang sangat berharga dalam hidupnya itu. Ia pernah tak terlalu mempedulikan keduanya sehingga sekarang ingin sekali menebus semua waktu yang terbuang hanya untuk mereka. Rasa bersalahnya hingga kini masih ada hingga ingin selalu memperbaiki semua yang telah ia lakukan dulu.
***
__ADS_1
"Ante Lili..." seru bocah kecil yang baru saja bangun dari tempat tidurnya.
Seorang bocah kecil itu adalah Kei yang baru saja bangun tidur namun sudah mencari keberadaan Lili. Kei berpikir kalau semalam Lili menginap di mansionnya hingga langsung mencarinya. Semalam tidur Kei begitu nyenyak karena dipeluk oleh Lili sehingga tak sadar kalau gadis itu pergi.
"Muntin Ante Lili ladi di dapul buwat macakin Kei matanan matan padi" gumamnya yang kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar sang oma.
Kei bahkan langsung saja masuk ke kamar oma dan opanya yang telah terbuka. Ternyata omanya baru saja selesai mandi, sedangkan opanya masih tertidur di atas kasur. Mama Nei terkejut dengan kehadiran cucunya yang sangat pagi sekali memasuki kamarnya itu.
"Lho Kei... Kok udah bangun jam segini?" tanya Mama Nei yang kemudian menggendong cucunya yang masih mengenakan baju tidurnya itu.
"Mang ni jam belapa? Tita halus matan pagi tan? Tan Ante Lili cudah macak buwat tita salapan" ucap Kei dengan polosnya menatap kearah sang oma.
Mama Nei yang mendengar apa yang diucapkan oleh cucunya itu sontak saja terkejut. Perasaan Lili sudah pulang semalam dengan diantar oleh Aldo. Namun ini cucunya malah berpikir kalau Lili masih berada di sini dan masak untuk sarapan.
"Ini masih setengah 5 pagi, nak. Oh ya... Tante Lili itu sudah pulang dari semalam. Dia nggak nginap di sini" ucap Mama Nei memberi pengertian.
"Macak cih? Capa yang antal Ante Lili ulang?" tanya Kei dengan raut wajah kebingungan.
"Semalam Tante Lili diantar sama papa kamu tuh" ucap Mama Nei dengan ragu-ragu.
Pasalnya semalam Mama Nei merasa ragu kalau Aldo mengantarkan Lili dengan keadaan baik-baik saja. Hanya selang beberapa menit setelah Aldo pergi mengantar, laki-laki itu sudah pulang ke mansion. Ingin bertanya kepada Aldo, malah laki-laki itu nyelonong masuk dalam kamarnya.
"Angan pelcaya talo papa yang antal Ante Lili. Pati Ante Lili ditinggal di dalanan" seru Kei tiba-tiba.
Sontak saja pikiran negatif dari Kei itu membuat Mama Nei tercengang. Tak menyangka kalau cucunya itu berpikiran negatif pada papanya sendiri. Seruan Kei itu membuat Papa Tito yang tadinya tertidur dengan pulas langsung terbangun.
Papa Tito menatap istri dan cucunya yang tengah berbincang. Bahkan keduanya terlibat perdebatan yang membuat suasana lebih ramai. Papa Tito pun turun dari tempar tidurnya kemudian mendekat kearah keduanya yang tak menyadari kalau dirinya sudah bangun.
"Ada apa ini? Pagi-pagi kok sudah ribut saja" tanya Papa Tito dengan suara seraknya.
"Ini lho, pa. Masa iya Kei menuduh Aldo menurunkan Lili di jalanan semalam" ucap Mama Nei.
__ADS_1
Mata Papa Tito langsung membelalak kaget mendengar apa yang diucapkan oleh istrinya. Semalam ia juga berpikiran seperti itu, namun langsung ia tepis pikiran itu. Pasalnya Aldo tak mungkin tega menelantarkan seorang perempuan di jalanan malam-malam begitu.
Mama Nei memberikan Kei pada suaminya untuk diajaknya mandi sekalian. Sedangkan dia segera keluar dari kamarnya untuk menyiapkan sarapan. Biarlah nanti suaminya saja yang memberi pengertian pada Kei agar tak marah dengan Aldo. Pasalnya mereka belum tahu kebenarannya itu.