
Setelah pulang dari kampus tadi, Mama Nei lebih banyak diam. Entah apa yang ada dipikirkannya itu, hal ini membuat Papa Tito sedikit khawatir. Papa Tito tak ingin istrinya ini salah paham dan malah menyalahkan Lili atas meninggalnya sang menantu seperti Aldo.
Kei yang tadi meminta untuk lebih lama di kampus sama sekali tak digubris oleh Mama Nei. Bahkan wajah antusias Mama Nei yang ditampilkan saat awal bertemu dengan Lili, berubah drastis. Dia lebih banyak diam walaupun Papa Tito dan Kei sudah memancing untuk membuat suasana berubah menjadi ceria.
"Ma..." panggil Papa Tito yang kemudian mengelus lembut kepala istrinya.
Kini mereka tengah berada di kamar dengan Mama Nei duduk melamun di atas kasurnya. Papa Tito yang melihat hal itu segera saja duduk di samping istrinya. Mema Nei hanya bisa tersenyum tipis menanggapi apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Mama kenapa? Mama pasti pikirkan tentang ucapan Lili yang minta maaf karena membuat Arlin meninggal ya? Arlin meninggal itu karena sudah takdir dan jalan hidupnya, ma. Bukan karena bantu Lili" ucapnya memberi pengertian.
"Tolong jelaskan dengan jelas, pa. Sebenarnya ini ada apa? Mama masih bingung" ucap Mama Nei dengan tatapan permohonan.
Papa Tito yang mendengar permintaan dari istrinya itu pun menganggukkan kepalanya mengerti. Papa Tito mulai menjelaskan tentang bagaimana Aldo menuduh Lili sebagai penyebab kematian Arlin. Hal ini karena Arlin membantu Lili mengungkapkan kejadian kecelakaan yang menimpa gadis itu.
Setelah menemukan bukti dan pelakunya yang ternyata adalah sahabat dan kekasih dari Lili, tanpa disangka kalau kedua tersangka itu mengetahuinya. Hingga keduanya balas dendam dan ingin menyakiti Arlin agar menantunya itu tak bisa buka suara. Hingga terjadilah kecelakaan itu yang pelakunya adalah mereka berdua.
Aldo yang tak terima dengan meninggalnya Arlin, menyalahkan Lili yang tak tahu apa-apa. Pasalnya saat kejadian Arlin membantunya itu, Lili dalam keadaan koma. Mama Nei yang mendengar penjelasan dari suaminya itu benar-benar terkejut dan menutup mulutnya tak percaya.
__ADS_1
"Tapi perlu mama ingat, ini bukan sepenuhnya salah Lili. Kalau kamu tahu sahabatmu kecelakaan dalam keadaan tak wajar, pasti sebagai naluri juga akan membantu mengungkapkan semuanya bukan? Ini juga yang dilakukan oleh Arlin. Kita tak bisa menyalahkan Lili begitu saja sebagai penyebab kematian Arlin. Toh... Mau bagaimanapun juga kalau sudah takdirnya meninggal ya orang itu pasti tiada juga tanpa bisa dicegah" ucap Papa Tito setelah menjelaskan semuanya.
Mama Nei menganggukkan kepalanya mengerti. Ia tak seperti Aldo yang bisa menyalahkan oranglain tanpa mengetahui apa yang terjadi. Saat ini yang terjadi, Aldo menyalahkan Lili karena Arlin meninggal karena membantu dirinya. Namun tak lupa juga dengan penjelasan lainnya yang saat itu Lili tengah koma. Lili bahkan tak mengetahui apapun mengenai apapun yang dilakukan oleh Arlin.
"Mama setuju dengan ucapan papa. Lili nggak sepenuhnya bersalah walaupun menyeret Arlin dalam masalahnya. Maafkan mama tadi yang malah melamun dan tak merespons Lili sama sekali. Mama tadi hanya bingung dengan sebenarnya yang terjadi" ucap Mama Nei sedikit merasa bersalah.
"Jangan-jangan Lili sudah berpikiran yang tidak-tidak lagi sama mama" lanjutnya dengan raut wajah paniknya.
Mama Nei yang langsung menyadari akan sesuatu segera menampilkan raut paniknya. Wanita paruh baya itu sudah berpikiran kalau Lili akan menilai dirinya yang galak dan tak suka padanya. Mama Nei sedikit takut kalau Lili malah tak mau dekat dengan keluarganya terutama Kei setelah kejadian ini.
Kemungkinan juga, Kei akan dijauhi hingga membuatnya bersedih. Mama Nei menatap suaminya itu dengan tatapan memelas membuat Papa Tito mengelus lembut lengan tangan istrinya. Papa Tito tak menyangka kalau istrinya bisa sepanik ini hanya karena takut dijauhi oleh Lili.
"Kalau gitu besok pagi-pagi sekali kita harus temui Lili, pa. Bawa buah atau oleh-oleh apa gitu buat nyogok dia biar nggak marah sama mama" ucap Mama Nei dengan cepatnya.
Papa Tito hanya bisa geleng-geleng kepala melihat istrinya begitu heboh. Padahal menurutnya Lili itu hanya sedikit takut saja, nanti kalau diajak bicara baik-baik pasti juga akan meredam sendiri. Papa Tito yang tak ingin berdebat dengan istrinya hanya menganggukkan kepalanya setuju.
***
__ADS_1
Kei yang tak bisa tidur di kamarnya hanya bisa bergulingan di atas kasur. Beruntung malam ini dia tidur sendiri di kamarnya. Tadi sang papa ingin sekali mengajaknya tidur bersama, namun Kei tak mau. Entah mengapa, Kei ingin tidur sendirian hingga membuat alasan untuk mendapatkan keinginannya.
"Huh... Tung papa adi pelcaya talo Kei ngin adi nanak mandili engan tidul cendili" ucap Kei mengingat alasannya ingin mandiri demi bisa tidur sendiri.
"Talo da mama, pati Kei cudah ditemani dan eluk cepandang alam. Tapan ya Kei puna mama agi?" lanjutnya yang kini menatap kearah langit-langit kamarnya.
Tentu saja mata Kei menerawang ke masa lalunya yang dulu sama sekali tak dianggap oleh Arlin. Namun setelah mamanya kecelakaan, Arlin mau menyayanginya. Baru beberapa minggu merasakan kebahagiaan itu, namun takdir kembali mempermainkannya. Ia sudah tak bisa bertemu dengan sang mama karena meninggal dunia.
Saat ini, ia menemukan sosok yang begitu menenangkan dan menyayanginya itu dari orang lain. Lili yang pancaran matanya menampilkan ketulusan dan kasih sayang kepadanya itu membuat dia begitu menginginkan gadis itu menjadi ibunya.
"Ante Lili, mau ndak adi mamana Kei? Talo ndak mau, adi istli Kei caja uga ndak papa" ucapnya sambil terkekeh geli.
Tanpa Kei sadari, ada seseorang yang mengintip dibalik celah pintu yang tak tertutup rapat itu. Bahkan orang itu mendengar segala keluh kesah yang diungkapkan oleh Kei. Hatinya begitu sesak mendengar keinginan Kei yang mungkin sangat sulit ia kabulkan. Seseorang itu adalah Aldo.
Tadinya Aldo ingin melihat keadaan anaknya yang tidur sendirian. Bagaimanapun juga, ia tak tega melihat anaknya tidur sendirian walaupun dulu selalu begitu. Namun Aldo malah mendengar segala keluh kesah yang diungkapkan oleh Kei.
"Maafkan papa ya, Kei. Belum bisa jadi orangtua yang baik untuk kamu. Bahkan belum bisa menyanggupi keinginanmu tentang mendapatkan ibu baru untukmu. Papa tidak mau menyakiti Mama Arlin yang bahkan gundukan tanahnya pun masih basah" gumam Aldo pelan sambil menatap kearah anaknya yang masih menatap langit-langit kamarnya.
__ADS_1
Aldo pun memilih pergi dari sana setelah melihat keadaan anaknya. Sepertinya membiarkan anaknya tidur sendirian malam ini adalah keputusan yang terbaik. Setidaknya anaknya itu bisa mengungkapkan segala keluh kesahnya tanpa ada yang mendengarnya.