Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Sahabat


__ADS_3

Kei terus menemani Nadeline dalam proses penyembuhannya. Bahkan Kei yang selalu mengajaknya berbincang saat semua orang dewasa sibuk. Kini Nadeline juga sudah didampingi oleh seorang psikolog yang membantunya memulihkan kondisi mentalnya.


"Apa kamu sudah lebih baik hari ini? Tidak takut lagi bukan dengan Miss cantik ini," tanya seorang perempuan paruh baya yang selalu menyebut dirinya Miss cantik.


Padahal aslinya perempuan paruh baya itu bernama Ibu Ana. Dia adalah seorang psikolog yang ditunjuk Aldo untuk mendampingi Nadeline. Saat ini Nadeline juga masih tinggal di rumah Aldo karena Brama khawatir dengan anaknya. Apalagi suami dari Ajeng ini masih terus meneror Brama.


"Enggak dong. Nanad nggak mungkin takut sama Miss cantik. Mungkin Nanad takutnya sama nenek sihir" ucap Kei ikut berceloteh di sana.


"Ada-ada saja. Jadi Nadeline sekarang sudah makan apa belum? Bagaimana perasaannya hari ini? Sudah tenang dan bahagia belum?" tanya Ibu Ana.


"Sudah tenang soalnya ditemani sama Kei dan Mama Lili. Ada juga Baby Della yang sangat lucu. Bolehkah Nadeline bersama dengan mereka bermain?" tanya Nadeline dengan mata penuh harap.


Walaupun terkadang masih ingat dengan mamanya yang waktu itu membentaknya, namun Nadeline akan tenang jika berada di dekat Lili. Nadeline juga sudah mau membuka dirinya walaupun belum mau keluar dari rumah. Brama pun menurutinya karena memang ia belum tenang jika anaknya keluar rumah.


"Boleh dong. Boleh kalau nanti mau main sama Baby Della. Keluar kamar ya? Kita bisa main di halaman belakang rumah" ajak Ibu Ana.


"Nggak ada orang jahat kan di halaman belakang rumah?" tanya Nadeline dengan polosnya.


"Nggak ada. Semua orang yang ada di sini baik semua. Pokoknya Nadeline harus santai kalau main. Ada Mama Lili dan Kei yang menjaga kamu di rumah ini" ucap Ibu Ana meyakinkan.


Nadeline menganggukkan kepalanya mengerti. Ibu Ana menggandeng tangan Nadeline untuk keluar kamar. Hal ini merupakan pertama kalinya bagi Nadeline untuk keluar area dalam rumah. Biasanya hanya ada di dalam ruang keluarga dan ruang makan saja.


"Kei, beneran nggak ada orang jahat yang akan bawa Nadeline pergi kan?" tanya Nadeline pada Kei yang juga menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Nggak ada, Nanad. Kalau ada orang jahat, Kei bakalan pukul orang itu dan masukin ke penjara. Pokoknya Kei akan selalu menjaga Nanad dimana pun berada" ucap Kei dengan penuh keyakinan.


Terlihat sekali dari pancaran mata Nadeline kalau ia begitu khawatir. Bahkan saat mereka akan keluar dari pintu rumah belakang pun genggaman tangan Nadeline begitu erat. Hal itu membuat Kei sedikit meringis kesakitan.


"Tuh kan... Nggak ada orang jahat di sini. Apalagi ini masih di rumah lho. Mana ada yang berani gangguin dan jahatin Nanad" ucap Kei sambil tersenyum senang.


"Makasih, Miss. Sudah bawa Nanad ke sini dan sedikit tak takut lagi" ucap Nadeline dengan senyum tulusnya.


"Kembali kasih, nak. Ayo kita main di sana. Oh ya... Katanya Mang Dudun hari ini mau ambil buah mangga yang masak lho. Kita ke sana yuk buat tangkap buah mangga yang nanti pada berjatuhan" ajak Ibu Ana.


Mang Dudun adalah tukang kebun di mansion Aldo. Hari ini memang jatahnya Mang Dudun untuk memanen buah mangga yang sudah banyak yang masak di belakang mansion. Ada juga apel dan rambutan, namun Mang Dudun ingin menyelesaikan mangga dulu.


"Wah... Mang Dudunnya mana, miss. Kok belum kelihatan ya?" tanya Kei penasaran.


"Mungkin masih di dalam buat ambil beberapa peralatan. Kita ke situ dulu saja. Lagian duduk di bawah pohon itu lebih sejuk lho" ucap Ibu Ana.


***


"Ini pada ngapain di bawah pohon begini? Di dalam lebih sejuk lho dibandingkan di sini" tanya Mang Dudun yang datang dengan membawa beberapa keranjang.


"Di sini udaranya lebih sejuk, mang. Apalagi udaranya lebih asli dan murni dibandingkan di dalam" ucap Ibu Ana.


"Kami mau bantuin Mang Dudun buat metik buah mangga. Nanti Mang Dudun lempar saja mangganya ke kami dan Kei yang akan menangkapnya" seru Kei dengan antusias.

__ADS_1


"Lempar ke Nanad juga ya, mang. Biar aku tangkap juga" ucap Nadeline penuh harap.


Mang Dudun memang sudah tahu mengenai kejadian penculikan Nadeline ini. Baru pertama kalinya Nadeline keluar dari mansion semenjak kejadian itu. Mang Dudun menatap Ibu Ana selaku penanggungjawab yang memantau kesehatan Nadeline.


"Baiklah. Mamang akan lempar pada kalian. Tapi kalau jatuh dan merasa takut, nggak usah kalian paksakan ya" ucap Mang Dudun setelah melihat anggukan kepala dari Ibu Ana.


"Siap" seru Nadeline dan Kei secara bersamaan.


Mang Dudun meletakkan beberapa keranjang di atas rumput. Ia juga memasang jaring di bawah pohonnya. Walaupun akan ditangkap oleh Kei dan Nadeline, tak mungkin jika ia melempar semuanya kearah dua anak kecil itu. Yang ada malah semuanya selesai lain hari.


"Mamang naik ke atas dulu. Kalian hati-hati, jangan sampai kena mangga" seru Mang Dudun.


Mang Dudun segera naik ke atas pohon dengan lincahnya. Tak lupa setelah naik ke atas ia langsung melempar perlahan kearah dua bocah cilik yang memekik kegirangan saat bisa menangkap buah.


"Lagi, mang. Yang banyak. Masa banyakan dilempar kearah jaring sih" seru Kei yang tak terima dengan apa yang dilakukan Mang Dudun.


"Nanti kalian kecapekan kalau terus-terusan nangkap buah. Mending kalian makan saja itu buahnya. Minta Ibu Ana agar mengupasnya" seru Mang Dudun.


"Nggak mau" seru keduanya bersamaan sambil mengelengkan kepalanya.


Mang Dudun dan Ibu Ana hanya terkekeh geli melihat tingkah keduanya yang begitu lucu. Apalagi mereka malah mirip seperti dua anak kembar. Brama yang melihat anaknya sudah mulai ceria lagi pun tersenyuk tipis.


"Akhirnya kamu kembali lagi, nak. Papa takkan pernah membiarkan kamu dalam keadaan terpuruk. Kamu harus bahagia" gumam Brama yang melihat dari arah pintu belakang rumah.

__ADS_1


"Brama, tinggallah terus di sini. Om sudah menganggapmu sebagai keluarga. Lagian Nadeline butuh sosok yang mendukungnya dalam segala hal. Bukannya om meragukan penjagaanmu, hanya saja kamu sibuk kerja. Nadeline di rumah sama babysitter dan pembantu, itu nggak baik lho. Setidaknya ia harus merasakan kebahagiaan dari keluarga yang lengkap" ucap Papa Tito yang kini berdiri di samping Brama.


Brama sampai tersentak kaget mendengar ada suara seseorang yang mengajaknya berbicara. Padahal tadi ia yakin kalau tak ada seseorang di sampingnya. Brama menatap Papa Tito yang dengan penuh keyakinan menyalurkan kehangatan sebagai keluarga.


__ADS_2