
"Aldo, ayo bangun. Kamu harus kerja hari ini, jangan malas-malasan. Mana ini baju juga belum ganti lagi sejak kemarin" ucap Mama Nei mengomeli anaknya.
Tadi Kei mengadu pada sang oma yang tak bisa membangunkan papanya. Padahal hari sudah siang, namun Aldo sama sekali tak mau bangun dari tidurnya. Semalam, laki-laki itu sama sekali tak bisa tidur karena tidak ada Arlin yang berada di sisinya. Ia pun tertidur karena dielus punggungnya oleh Kei.
Mama Nei sampai menarik rambut anaknya itu hingga Aldo tersentak kaget. Bahkan laki-laki itu langsung saja membuka matanya dan terduduk diatas ranjang. Mama Nei langsung saja berkacak pinggang sambil menatap kearah Aldo yang kini mengucek matanya.
"Apa sih, ma? Aldo ini masih ngantuk. Semalaman nggak bisa tidur gara-gara mimpi Arlin meninggal. Oh ya... Istriku mana? Kok tumben dia nggak bangunin" tanya Aldo sambil melihat kearah sekitar kamarnya.
Mama Nei yang mendengar hal itu hanya bisa melihat anaknya dengan tatapan iba. Bahkan kini Mama Nei langsung saja mengalihkan pandangannya kearah lain. Ia sungguh tidak tega melihat anaknya seperti ini namun kehidupan harus terus berjalan. Aldo tak bisa terus berpaku pada Arlin yang kini telah tiada.
"Sadar, Aldo. Arlin sudah meninggal, dia telah bahagia di atas sana. Kamu yang masih ada di dunia ini, punya kewajiban untuk membahagiakan Kei dan orang-orang disekitarmu. Sadar, Aldo" seru Mama Nei dengan menahan tangisnya.
Aldo yang mendengar hal itu tersentak, kemudian melihat kearah bajunya. Ternyata ia masih mengenakan kaos yang dijadikan ********** kemarin. Aldo mengusap wajahnya kasar karena ternyata semua yang terjadi itu bukanlah mimpi. Kini matanya mulai berkaca-kaca kembali kemudian turun dari kasurnya dan masuk dalam kamar mandi.
Mama Nei yakin kalau anaknya itu di dalam kamar mandi akan menumpahkan air matanya. Aldo tak ingin dikasihani sehingga tak mau menangis dihadapan sang mama. Sedangkan Mama Nei memilih untuk keluar dari kamar anaknya karena tak mau mendengar tangisan pilu dari Aldo. Hatinya terasa sakit melihat anaknya sehancur ini karena kehilangan Arlin.
***
"Kei, mau main ke taman nggak?" tanya Mama Nei yang kini mendekat kearah cucunya itu.
__ADS_1
"Ndak mau, oma. Kei tatut talo ada tablak lali agi" ucap Kei sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Mendengar ucapan dari Kei itu sontak saja membuat Mama Nei dan Papa Tito terkejut. Bahkan kini mereka langsung saling pandang seakan mengisyaratkan tentang kondisi psikis dari Kei. Dari kemarin, memang sudah ada perubahan pada diri Kei dengan bocah laki-laki itu yang menjadi pendiam. Mereka tak menyangka kalau kejadian ini ternyata membekas dalam ingatan Kei.
Mama Nei segera mendekat kearah Kei kemudian memeluknya dari samping. Kei memang sudah tak menangis lagi atau menanyakan mamanya, namun bocah laki-laki itu lebih sering diam dan menyendiri. Bahkan tadi setelah mengadu kalau papanya tak mau bangun pun, Kei langsung pergi ke halaman belakang mansion sendirian.
"Nggak akan ada yang bisa melukai dan menyakitimu, Kei. Orang-orang jahat itu sudah ditangkap polisi" ucap Papa Tito meyakinkan.
Papa Tito sudah berhasil menangkap pelaku tabrak lari itu berkat dari rekaman CCTV yang ada di komplek perumahan itu. Saat di rumah sakit kemarin pun langsung saja Papa Tito menyuruh temannya untuk melacak plat nomor mobil yang terlihat dalam rekaman CCTV.
Hanya butuh beberapa menit saja bagi teman Papa Tito menemukan keberadaan mobil itu. Bahkan Papa Tito juga langsung saja melaporkan kasus ini kepada pihak yang berwajib. Ia tak terima menantunya menjadi korban tabrak lari yang belum tahu tujuannya apa. Hari ini juga, Papa Tito akan menemui para pelaku yang ada di penjara.
Papa Tito yang mendengar hal itu merasa bersalah karena tak bisa menjaga menantunya dengan baik. Sepertinya kepercayaan Kei kepada janji-janji yang diucapkan oleh orang sekitarnya mulai berkurang karena kejadian ini. Bahkan Mama Nei hanya bisa tersenyum tipis mendengar apa yang diucapkan oleh Kei sambil mengelus bahu suaminya dengan lembut.
"Maafkan opa ya, Kei. Maafkan opa yang belum bisa menjaga mama dan kalian semuanya sehingga kejadian ini terjadi" ucap Papa Tito dengan wajahnya yang merasa bersalah.
Kei hanya menganggukkan kepalanya kemudian memeluk Papa Tito. Sekarang ini, perasaan dan emosi Kei terasa lebih sensitif karena meninggalnya sang mama. Sedikit saja membahas tentang mamanya, ia akan langsung meluapkan apa yang dipikirkannya.
Ia tak bermaksud untuk menyalahkan opanya, hanya saja dia tak mau termakan janji-janji palsu. Terlebih ini menyangkut nyawa seseorang yang ditentukan oleh Tuhan. Kei sadar kalau dirinya hanya anak kecil yang tak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah takdir yang telah ditetapkan. Yang bisa ia lakukan adalah berdo'a agar takdir orang-orang terdekatnya itu baik.
__ADS_1
***
"Pa, aku ikut ke kantor polisi. Aku ingin melihat orang-orang yang mencelakai istriku" ucap Aldo yang baru saja keluar dari kamarnya.
Bahkan Aldo sudah mengenakan pakaian yang rapi dan langsung saja mendekat kearah Papa Tito. Papa Tito yang memang sudah bersiap pun hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Tadinya ia memang berencana untuk mengajak Aldo agar bisa tahu tentang siapa orang-orang itu.
"Kei duga itut" seru Kei yang kini berlari kearah opa dan papanya itu.
Bahkan Kei sampai harus menghindar dari kejaran omanya agar bisa ikut Papa Tito dan Aldo. Kei mencuri dengar kalau mereka akan menemui orang jahat yang jadi penyebab mamanya meninggal. Papa Tito dan Aldo saling pandang seakan tengah berdiskusi tentang kehadiran Kei.
"Memangnya Kei mau ikut itu karena apa?" tanya Aldo.
"Kei mau donjok palana. Olang dahat tu antas didonjok" kesal Kei sambil mengepalkan kedua tangannya ke depan.
Papa Tito hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Keduanya bingung, pasalnya kemungkinan besar nanti Aldo juga akan melakukan kekerasan. Hal ini tak patut untuk dilihat anak kecil seperti Kei.
"Sudahlah, pa. Ajak saja Kei, biar nanti sama mama. Mama juga ingin lihat itu wajah-wajah orang jahat itu" ucap Mama Nei yang baru saja sampai di ruang keluarga.
Bahkan Mama Nei nafasnya sudah ngos-ngosan karena mengejar cucunya yang begitu gesit itu. Akhirnya Aldo dan Papa Tito menganggukkan kepalanya pasrah. Keduanya yakin kalau Kei dan Mama Nei akan melakukan sesuatu yang membuat kantor polisi ricuh. Apalagi keduanya begitu menggebu-gebu saat ingin datang ke sana.
__ADS_1