
"Jadi gimana? Apa kamu mau menjadi istriku sekaligus ibu dari Kei dan anak-anak kita kelak?" tanya Aldo tiba-tiba dari dekat pintu kamar anaknya.
Lili yang baru saja keluar dari kamar Kei pun sangat terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Aldo. Apalagi ucapan itu pun rasanya tiba-tiba sekali. Lili menatap mata Aldo yang memancarkan keseriusan, namun ia sama sekali tak ingin terbuai dengan ucapan manis laki-laki itu.
Terlebih papanya yang memang tak menyukai Aldo karena ucapannya yang menyakitkan. Lili hanya bisa menghela nafasnya kasar kemudian berjalan pergi tanpa menjawab pertanyaan dari Alan. Sedangkan Aldo yang melihat hal itu hanya bisa mendengus kesal.
"Padahal ini udah serius. Memang susah kalau punya wajah datar dan nggak bisa berkata-kata manis. Pasti dikiranya kaya nggak suka beneran" ucap Aldo sambil geleng-geleng kepala.
Aldo pun langsung saja berjalan mengikuti Lili. Keduanya kini berada di ruang tamu karena Lili tadi menaruh asal tasnya di sana. Kini Lili bahkan terdiam dan masih tak percaya dengan apa yang didengarnya itu.
"Saya beneran serius sama kamu. Bukan karena ingin menjadikanmu babysitter anakku, tapi saya memang tertarik denganmu" ucap Aldo mengulang pernyataannya pada Lili.
"Luluhkan dulu hati papa saya, Pak Aldo. Dia sudah terlanjur tidak setuju kalau saya dekat dengan anda. Apalagi ucapan pedas anda beberapa bulan yang lalu terhadap saya dan keluarga yang begitu membekas" ucap Lili dengan nada seriusnya.
Bahkan kini Lili langsung saja mengambil tasnya dan pergi berlalu keluar dari mansion Aldo. Sedangkan Aldo sendiri masih termenung di tempatnya. Ia bingung karena Lili seakan menggantung ungkapan hatinya.
"Masa iya aku harus dekatin papanya itu. Gimana caranya coba? Bawain martabak gitu? Atau ajak main catur?" gumamnya yang kebingungan sendiri.
Bahkan raut wajah Aldo terlihat sekali kalau dia sangat frustasi. Ia merasa kepintarannya bersekolah hingga pendidikan tinggi namun tiba-tiba menjadi bodoh karena urusan cinta. Aldo pun kini malah merebahkan badannya di atas sofa ruang tamu karena pusing memikirkan hubungannya.
Ia sebenarnya juga tak menyangka kalau bisa mempunyai perasaan pada Lili. Seorang mahasiswa yang dosen pembimbingnya adalah dirinya. Hanya satu mahasiswa saja yang berada di bawah bimbingan skripsinya. Setiap hari bertemu dan berdebat membuatnya malah jatuh cinta dengannya.
***
__ADS_1
"Ada-ada saja itu dosen. Salahnya siapa dulu kalau ngomong asal ceplas-ceplos saja? Syukurin... Sekarang malah nggak direstuin sama sekali" gumam Lili yang kini tengah berjalan menuju area taman dekat mansion Aldo.
Tadinya ia ingin mencari taksi untuk pulang. Namun selalu dibatalkan oleh pengemudi taksi onlinenya. Hari memang sudah menjelang sore dan di sini jarang ada taksi online yang mau menjemput area sini. Terlebih di sini memang areanya berada pada tanda merah untuk taksi online.
"Astaga... Skripsiku" serunya ketika mengingat nasib kertas skripsinya yang jatuh di area lorong kampus saat bertabrakan dengan Aldo tadi.
"Mampus gue, kira-kira bakalan diomelin nggak ya sama itu Pak Sandy. Pokoknya ini salah Pak Aldo yang main tarik-tarik tangan orang saja" kesalnya.
Lili pun langsung menghubungi Pak Yono agar menjemputnya. Beruntung Pak Yono mau menjemputnya, padahal beliau pada jam segini pasti sudah bersiap pulang ke rumahnya. Menunggu Pak Yono datang, Lili menatap sekitar area taman yang tinggal beberapa pengunjung saja.
"Lho... Itu kan Ageng? Kok bisa sampai sih. Katanya tempat kerjanya dekat Panti Asuhan. Ini jaraknya lumayan jauh lho dari sana" gumam Lili.
Tanpa basa-basi, Lili segera saja beranjak dari duduknya kemudian berlari kearah Ageng. Apalagi Ageng sepertinya tengah kesusahan membawa sesuatu.
"Ageng..." seru Lili.
"Kamu ngapain di sini? Ini kan jaraknya jauh dari Panti Asuhan. Bukannya kamu juga mau resign, kok masih pakai baju seragam kerjanya cafe" tanya Lili.
"Ini, mbak. Ageng disuruh antar makanan ini di daerah sini tapi nggak boleh pakai sepeda motor cafe. Ini sebagai kompensasi karena Ageng keluar dari cafe secara dadakan. Ini juga hari terakhir Ageng bekerja di sini" ucap Ageng menjelaskan.
Mendengar penjelasan dari Ageng itu sontak saja membuat Lili geleng-geleng kepala. Mana ada keluar secara mendadak kompensasinya disuruh mengantar makanan dengan jalan kaki. Biasanya kompensasi itu berupa uang ganti. Itu pun kalau ada surat kontrak kerjanya.
"Astaga... Sini mbak bantuin dan temani sampai ke sana" ucap Lili yang langsung merebut satu kantong plastik yang dibawa oleh Ageng.
__ADS_1
"Eh... Nggak usah, mbak. Ini berat lho. Lagian Mbak Lili haru segera pulang, keburu malam ini" ucap Ageng menolak bantuan dari Lili.
"Udah sini. Nanti aku dijemput kok, mungkin setengah jam lagi baru sampai sini jemputannya" ucap Lili.
Akhirnya Ageng hanya pasrah saja mendengar Lili yang begitu kekeh dengan keinginannya. Apalagi Lili dan Ageng akhirnya berjalan beriringan sambil bercanda. Tak berapa lama, mereka sampai di sebuah mansion yang Lili kenal. Ternyata semua makanan ini merupakan pesanan dari Aldo.
"Ini kan rumahnya Pak Aldo atau Kei? Kamu nggak salah?" tanya Lili memastikan.
"Benar kok. Ini alamatnya benar di sini. Oh iya... Di sini juga namanya Aldo yang pesan. Saya sampai tak sadar kalau ini merupakan Mas Aldo yang tadi berada di Panti" ucap Ageng.
Lili hanya bisa menghela nafasnya karena ternyata harus kembali bertemu dengan Aldo. Lagi pula kenapa itu Aldo pesan makanan sebanyak ini dari cafe. Padahal di rumahnya sudah ada banyak makanan dan dimasak oleh beberapa maid yang bekerja.
"Pak Aldo, ini pesanan makanannya" seru Lili yang langsung masuk mansion Aldo tanpa permisi.
Ageng hanya diam mengikuti Lili dari belakang. Ia masih terkejut dan begitu kagum dengan kemewahan mansion itu. Apalagi baru pertama kali dirinya melihat ada rumah semegah ini. Mana ini bisa masuk dalam rumahnya lagi.
Aldo pun keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah berganti. Bahkan wajahnya sudah tampak lebih segar. Di belakangnya juga ada Kei yang sudah bangun dari tidurnya.
"Lho kok balik lagi?" tanya Aldo dengan tatapan herannya.
"Ini kok cama Kak Ageng?" tanya Kei dengan tatapan penasarannya.
"Ini Ageng disuruh antar makanan ke rumah ini. Eh ketemu aku di taman yang lagi nungguin Pak Yono" ucap Lili yang langsung meletakkan semua makanan di atas meja kamar tamu.
__ADS_1
Aldo hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Namun ia heran karena yang mengantar adalah Ageng. Padahal Ageng sendiri di sini posisinya adalah cleaning service. Lagi pula ia memesan semua makanan ini karena permintaan dari beberapa maid yang ada di sana.
Tadi pagi beberapa maid sudah berunding untuk makan bersama. Hanya saja memang dia yang melakukan transfer dan nama pesanannya. Jadi aslinya itu adalah pesanan maidnya bukan dia.