Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Pertemuan


__ADS_3

"Lho... Kei..." seru Lili yang tak sengaja menabrak sesorang itu.


Ternyata yang ditabraknya itu adalah Kei, anak dari Arlin dan Aldo. Kei pun terjatuh karena tertabrak oleh Arlin yang sedang buru-buru keluar dari kantor polisi. Sedangkan Kei berlarian ingin segera masuk dalam kantor polisi.


Kei datang bersama dengan Aldo dan Papa Tito. Namun mereka masih berjalan santai saat Kei berlarian masuk ke dalam kantor polisi. Melihat Kei terjatuh, segera saja Aldo dan Papa Tito berjalan lebih cepat.


Kei tidak menangis walaupun terjatuh dan kakinya berdarah. Ia bahkan langsung berdiri dan menatap orang yang memanggilnya. Dahinya mengernyit heran karena merasa tidak mengenal orang yang ada di hadapannya ini.


"Capa tamu?" tanya Kei sambil melipatkan kedua tangannya di dadanya.


"Astaga... Kei, kalau mau masuk kemanapun itu jangan lari-lari. Berdarah kan ini jadinya" tegur Aldo yang lebih dulu sampai di dekat anaknya.


Aldo yang melihat lutut kaki anaknya berdarah pun hanya bisa geleng-geleng kepala dan menegurnya. Papa Tito yang juga sudah sampai di sana langsung saja menggendong cucunya masuk dalam gendongannya. Sedangkan Lili masih diam mematung di tempatnya karena tak menyangka kalau akan bertemu dengan Aldo juga keluarganya di sini.


Namun Aldo dan Papa Tito sepertinya belum menyadari kehadiran Lili. Mereka sibuk dengan keadaan Kei yang lututnya terluka. Lili ingin segera pergi dari sini, namun rasanya tak enak hati kalau sampai meninggalkan Kei yang terluka. Apalagi dia juga ikut andil atas terlukanya Kei.


"Maaf sebelumnya, Pak Aldo. Jangan marahi Kei, dia tak bersalah. Ini semua salah saya karena berjalan buru-buru hingga tak melihat adanya Kei di sini" ucap Lili dengan senyum canggungnya.


Mendengar ada seseorang yang berbicara, Papa Tito dan Aldo segera saja mengalihkan pandangannya. Papa Tito yang bingung karena tak mengenal dengan gadis di depannya ini, sedangkan Aldo yang langsung mengarahkan tatapan tajamnya. Awalnya Aldo begitu terkejut dengan kehadiran Lili yang kini dalam kondisi sehat setelah beberapa waktu yang lalu melihatnya terbaring lemah di atas brankar rumah sakit.

__ADS_1


"Kamu... Dasar pembawa sial. Gara-gara kau, istriku meninggal. Kalau kau mempunyai masalah dengan sahabat atau kekasihmu itu, jangan suruh istri saya membantumu" sentak Aldo dengan tatapan tajamnya.


Tentu saja Lili terkejut dengan sentakan yang dilayangkan oleh Aldo. Bahkan Lili juga langsung memundurkan langkahnya agar tak berdekatan dengan Aldo. Papa Tito kebingungan karena Aldo tak menceritakan masalahnya secara detail mengenai ini.


Yang ia pahami, Arlin membantu sahabatnya yang sakit untuk mengungkapkan kejahatan sahabat dan kekasihnya. Hal ini membuat sahabat dan kekasih Lili itu dendam karena takut semua rencananya terbongkar. Itu juga yang membuat ada seseorang yang melakukan rencana menabrak Arlin. Namun Papa Tito tak mengetahui siapa sahabat dari Arlin yang dibantu oleh menantunya itu.


"Maaf... Maafkan saya, Pak. Saya nggak bermaksud menarik Kak Arlin dalam masalah kami" ucap Lili sambil menundukkan kepalanya.


Aldo memang ke kantor polisi ini karena adanya pihak yang berwajib menghubunginya. Mereka mengatakan kalau ada saksi dan bukti tambahan yang diserahkan oleh pihak Lili mengenai kejadian di kantin itu. Sontak saja Aldo buru-buru datang untuk mengetahui siapa yang menyerahkannya karena yang ia tahu, Lili masih di rumah sakit. Namun alangkah terkejutnya, ternyata ia bertemu dengan mahasiswanya sendiri dan orang yang menjadi penyebab kecelakaan istrinya.


"Terus kalau nggak maksud menarik istri saya dalam masalahmu, kenapa Arlin sampai mau membantumu? Padahal saat itu kamu dalam keadaan koma. Sedang koma aja nyusahin, apalagi kalau udah sehat gini. Pantas saja kalau skripsimu nggak pernah benar, orang modelan mahasiswanya kisruh kaya gini" ucap Aldo dengan ucapan pedasnya.


Apalagi Aldo sudah menyangkutpautkan kuliahnya dengan kejadian ini. Papa Tito langsung saja menyenggol bahu anaknya agar menyelesaikan ucapannya itu. Ia tidak tega melihat mata Lili yang terlihat berkaca-kaca mendengar ucapan pedas dari anaknya.


"Jangan mengucapkan kalimat yang menyakiti hati pada seorang perempuan, Al. Lihat, matanya sudah berkaca-kaca bahkan sebentar lagi bisa saja menangis. Kei juga ketakutan mendengar kamu bentak-bentak orang" tegur Papa Tito.


Aldo langsung meraup wajahnya yang kusut dan terlihat begitu frustasi. Mau marah pun rasanya percuma karena istrinya takkan pernah bisa kembali lagi. Aldo langsung saja masuk ke dalam kantor polisi, meninggalkan Lili dan Kei juga Papa Tito yang masih ada di sana. Setiap melihat wajah Lili, selalu saja ia teringat kalau istrinya sudah meninggal gara-gara gadis itu.


"Maafkan Aldo ya, nak. Emosinya sedang tidak stabil karena istrinya yang meninggal dunia. Jangan dimasukkan dalam hati ucapannya itu. Saya dan Kei masuk dulu" ucap Papa Tito yang juga menepuk bahu Lili untuk menenangkan gadis itu.

__ADS_1


Papa Tito segera berlalu masuk dalam kantor polisi, meninggalkan Lili yang masih berdiri mematung di tempatnya. Kei yang berada dalam gendongan Papa Tito pun diam-diam melirik kearah Lili yang masih terdiam. Ada rasa kasihan saat melihat Lili dimarahi oleh papanya. Walaupun mamanya meninggal karena membantu oranglain, tak seharusnya sang papa melampiaskan emosinya.


"Nona Lili tidak apa-apa?" tanya sopir keluarganya yang ternyata menyusul anak majikannya yang lama berada di depan pintu masuk.


"Eh... Iya, saya tidak apa-apa. Ayo pulang, pak" ajak Lili yang langsung pergi berlalu dari sana.


Sopir keluarganya itu sebenarnya tahu kalau anak majikannya itu habis dimarah-marahi oleh orang-orang tadi. Namun saat akan menyusulnya, ternyata keributan itu sudah bubar. Ia segera saja menyusul Lili yang kini sudah masuk dalam mobil.


Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Lili hanya bisa terdiam karena masih terus mencerna ucapan dari Aldo. Berulangkali juga ia menghela nafasnya kasar karena tak meminta ijin untuk menggunakan tubuh Arlin dalam menyelesaikan kasus Lili. Rasa bersalah terus timbul dalam hatinya walaupun sebenarnya ia bisa mengelaknya. Pasalnya walaupun tubuh Arlin tak digunakan untuknya menyelidiki kasus ini, wanita itu juga akan meninggal pada akhirnya.


Namun Lili tak bisa menjelaskan mengapa Arlin meninggal walaupun tanpa membantunya mengungkapkan masalahnya. Seharusnya Aldo beruntung mendapatkan Arlin yang masih hidup dalam beberapa minggu karena dimasuki jiwa Lili. Setelah ini Lili yakin kalau selama di kampus, hidupnya takkan tenang. Terlebih nasib skripsinya yang semakin tragis.


"Kuatkanlah aku dalam menghadapi tuh dosen killer. Sepertinya hariku ke depannya akan berat dengan segudang revisi skripsi" gumam Lili yang langsung menyandarkan kepalanya pada jendela mobil.


Lili lebih memilih untuk memejamkan matanya daripada membayangkan kejadian yang belum tentu terjadi. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh sopirnya itu sampai di rumah. Lili keluar dari mobilnya, namun sebelum turun ia langsung saja memperingatkan sopir keluarganya itu.


"Jangan bilang sama mama dan papa kalau tadi Lili ke kantor polisi" ucap Lili membuat sopirnya itu hanya menganggukkan kepalanya mengerti.


Lili segera masuk dalam rumahnya dengan langkah sedikit tertatih. Kakinya ternyata masih terasa sakit akibat terlalu lama berdiri dan berjalan. Lili segera saja masuk dalam kamarnya untuk mengistirahatkan kakinya. Sepertinya, sang mama sedang pergi keluar dengan ARTnya.

__ADS_1


__ADS_2