Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Gundah


__ADS_3

Kini Aldo tengah merebahkan badannya di atas kasur empuknya. Setelah seharian bekerja, badan dan otaknya seakan ingin meledak. Kei berbaring tidur di sampingnya dengan lelap. Aldo langsung mengalihkan pandangannya kearah Kei yang begitu damai dalam tidurnya itu.


"Kei, kamu beneran ingin punya mama baru? Nanti kalau Mama Arlin marah gimana karena ada yang gantiin dia" tanya Aldo pelan pada anaknya.


Sudah satu tahun berlalu semenjak Arlin meninggal. Namun perasaan Aldo masih ada untuk Arlin. Bahkan Aldo selalu terngiang dengan kenangannya bersama Arlin pada beberapa hari terakhir sebelum kematiannya. Arlin yang baik dengan segala perhatiannya telah mencairkan hatinya yang dulu beku.


"Kei ingin sekolah diantar sama mama ya? Pasti besok kamu akan lihat banyak pemandangan anak-anak seusiamu masuk sekolah dan kamu iri" ucapnya sambil terkekeh miris.


Aldo memang memutuskan untuk memasukkan Kei ke dalam sebuah jenjang pendidikan PAUD. Lokasi sekolah itupun tak jauh dari kampus tempatnya mengajar. Jadi nanti saat Kei pulang sekolah, ia bisa langsung menjemputnya dan membawa ke kampus.


Mungkin Kei nanti yang akan tertekan di sini. Pasalnya kebanyakan anak PAUD di sekolah itu masih ditunggu oleh orangtuanya. Sedangkan Kei, harus mulai berani sendiri untuk berada di sekolah. Kedua orangtua Aldo masih berada di luar negeri karena ada masalah di sana. Belum dapat dipastikan kapan keduanya pulang.


Keduanya selalu meminta Aldo mencari babysitter atau istri agar bisa menemani Kei kemanapun, terutama sekolahnya. Namun Aldo sama sekali tak mau kalau anaknya diurus oleh babysitter. Ia lebih memilih mengurus anaknya sendiri jika kedua orangtuanya sedang tidak ada.


"Maafin papa ya, belum bisa kasih seorang ibu sama kamu. Tapi papa lagi tertarik nih sama seorang perempuan. Dia udah kenal dekat sama Kei, tapi papa bingung apa ini perasaan cinta atau bukan. Lagi pula setiap ketemu pasti cuma berantem saja kan? Jadi kayanya hanya tertarik biasa saja deh" gumamnya.


Sebenarnya Aldo sudah mulai tertarik dengan seorang perempuan yang selalu berada di dekat Kei. Hanya saja ia merasa itu hanya ketertarikan biasa saja. Ia tak ingin juga melukai perasaan perempuan itu jika sampai nanti memberi harapan palsu. Seorang perempuan itu adalah Lili.


Lili yang selalu berada di dekat Kei dan menjaganya saat Aldo tidak ada. Bahkan Kei masih sering menginap di rumah Lili jika Aldo harus ke luar kota atau sedang sibuk di perusahaan mendiang istrinya. Walaupun seakan bekerjasama dalam menjaga Kei, namun keduanya jika bertemu selalu berdebat.


Malam itu, Aldo terus meluapkan perasaannya di depan wajah Kei yang tengah tertidur lelap. Hingga Aldo sendiri tanpa sadar ikut terlelap di samping anaknya. Aldo dengan segala kegundahannya atas perasaannya pada Lili itu, tidur dalam keadaan gelisah.

__ADS_1


***


"Papa, atu mau diantal cama mama" seru Kei.


Drama pagi hari dimulai. Kei yang pagi ini mulai masuk sekolah pun mulai merengek. Kei yang sering melihat kalau sekolah itu selalu diantar orangtuanya lengkap pun langsung merengek. Bahkan Aldo hanya bisa menghela nafasnya pasrah karena rengekan anaknya ini.


"Mama kan sudah nggak ada, nak. Mama sudah bahagia di surga. Berangkatnya sama papa aja ya" ucap Aldo memberi pengertian.


"Ndak mawu. Ntal papa nindalin Kei di cekolah. Potokna Kei mauna ditundu cama papa dan mama" seru Kei sambil mengerucutkan bibirnya.


Aldo sangat lelah menghadapi sikap Kei ini. Namun ini juga sudah merupakan konsekuensinya. Semalam ia sudah menduga kalau akan terjadi seperti ini. Aldo ingin sekali marah dengan Kei namun anaknya itu tak sepenuhnya bersalah. Ia tak boleh memarahi anaknya yang memang masih butuh dampingan seorang ibu.


Aldo memejamkan matanya kemudian menghela nafasnya pasrah. Ia mencoba berpikir cepat agar anaknya itu mau masuk sekolah tanpa kehadiran sosok sang mama. Namun melihat Kei yang matanya sudah berkaca-kaca pun membuatnya tak tega juga.


Terpaksa dia harus mengajak Lili ikut campur dalam urusan sekolahnya Kei. Lagi pula sudah sering juga Kei bersama Lili dan keluarganya. Keduanya sudah akrab karena sering bertemu, walaupun dia dan orangtua Lili masih sedikit perang dingin.


"Ya... Kei mau" seru Kei yang langsung antusias mendengar ide dari papanya itu.


"Kalau gitu, Kei makan dulu. Biar papa hubungi Tante Lili dulu" ucap Aldo.


Kei pun menganggukkan kepalanya dengan cepat. Kei menghabiskan sarapannya sedangkan Aldo mencoba menghubungi Lili. Tentu bukan menelfonnya, namun mengirim pesan padanya. Ia juga menunggu jawaban Lili sambil makan sarapannya.

__ADS_1


Tak berapa lama, ponsel Aldo berbunyi. Aldo langsung membuka ponselnya dan terpampanglah pesan dari Lili. Ternyata Lili bisa ikut mengantar Kei, hal itu membuat Aldo menghela nafasnya lega.


"Tante Lili bisa mengantar Kei ke sekolah. Sekarang dia akan bersiap-siap. Ayo kita ke rumahnya untuk menjemputnya" ucap Aldo setelah melihat anaknya selesai sarapan.


Kei menganggukkan kepalanya dengan Aldo juga membereskan beberapa sisa makanan yang jatuh di dekat anaknya. Setelah dirasa siap, keduanya pun keluar dari mansion. Mereka akan menjemput Lili terlebih dahulu sebelum datang ke rumah gadis itu.


Sepanjang perjalanan, Kei terus saja bernyanyi sesuai dengan lagu yang diputar oleh Aldo di dalam mobilnya. Kei tanpak bahagia karena akan diantar sekolah oleh Aldo dan Lili. Walaupun nantinya Lili saja yang akan menemani di sekolah, namun Kei tetap senang.


"Tante Lili..." panggil Kei sambil melambaikan tangannya setelah mobil berhenti tepat di halaman rumah Lili.


Ternyata Lili sudah berada di luar rumah, menunggu kedatangan Aldo dan Kei. Hari ini Lili sama sekali tak mempunyai kegiatan. Skripsinya sudah selesai, bahkan tinggal menunggu jadwal sidang saja. Lili sangat senang karena hari liburnya itu bisa menemani Kei datang ke sekolah.


"Wah... Kei tampan sekali pakai seragam sekolah ini" ucap Kei yang kini terlihat di balik jendela mobil.


"Iya dong. Kei cemakin hali memang cemakin ampan" ucap Kei dengan percaya dirinya.


"Percaya diri sekali kau, nak. Papa lebih tampan dari kamu" ucap Aldo tak mau kalah.


"Woh... Ampan atu ya. Iya tan, Ante Lili?" tanya Kei seakan meminta persetujuan.


Lili menganggukkan kepalanya setuju membuat Kei berseru girang. Sedangkan Aldo menatap sinis Lili dan anaknya itu. Lili segera masuk ke dalam mobil, membiarkan Aldo memberengut kesal. Bahkan keduanya malah asyik bercanda di kursi penumpang tanpa mempedulikan Aldo.

__ADS_1


"Lama sekali natap kami berdua, pak. Buruan... Nanti Kei bisa telat sekolahnya" ucap Lili yang menegur Aldo.


Tanpa menjawab apapun, Aldo langsung saja mengemudikan mobilnya. Bahkan keduanya benar-benar menganggap Aldo itu hanya seorang sopir saja. Keduanya malah bercanda ria, seakan dunia milik berdua. Sedangkan Aldo hanya numpang saja.


__ADS_2