
"Kamu itu sahabatku, harusnya percaya denganku" sentak Nada tiba-tiba.
Lili sedikit terkejut dengan sentakan yang dilayangkan oleh Nada. Biasanya Nada tak pernah berucap dengan nada tinggi kepadanya. Hal ini membuat Lili begitu terkejut dan menatap tak percaya. Namun itu semua tentunya membuat Lili hanya bisa geleng-geleng kepala. Lili menampilkan senyum polosnya yang mungkin hanya sebuah sandiwara belaka.
Nada yang menyadari akan tingkahnya sedikit salah tingkah. Bahkan ia lansung saja menundukkan kepalanya karena tidak menyangka akan kelepasan. Sedangkan Rio yang sedari tadi duduk, beberapa kali melirik kearah Lili. Laki-laki itu seakan tengah mengamati gerak-gerik dari Lili yang begitu berubah. Bahkan tak ada tatapan lembut pada sorot mata Lili kearahnya dan Nada.
Walaupun terlihat santai, namun Rio tahu kalau pancaran mata itu menggambarkan kekecewaan dan sakit hati. Bahkan tawanya juga berbeda, membuat Rio kini semakin was-was. Bahkan Lili seperti menganggap Rio dan Nada sebagai musuhnya.
"Wow... Memangnya kamu sahabatku? Oh lupa, sahabat yang ambil pacar sahabatnya kali" ucap Lili dengan kekehan sinisnya.
"Maksudmu apa?" tanya Nada tak terima.
Nada dan Rio memang sempat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Lili. Bahkan mereka tak menyangka kalau Lili bisa mengucapkan sesuatu yang membuat keduanya gelagapan.
"Tak apa, ah aku hanya bercanda. Kalian kan sahabatku yang paling baik jadi nggak mungkinlah kalau di belakangku seperti itu" ucap Lili dengan terkekeh pelan.
Bukannya merasa lega, namun Rio dan Nada merasakan ada sesuatu yang membuat Lili tertawa aneh seperti itu. Seperti ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh gadis itu dan itu akan mengancam hubungan mereka. Para penyidik hanya diam mendengarkan sambil nanti mencatat sesuatu yang berkaitan dengan kasus ini.
"Sekarang gimana, Pak polisi? Apa kita harus langsung menanyakan tentang alasan Rio yang jadi dalang kasus tabrak lari saya?" tanya Lili to the point.
Rio dan Nada begitu terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Lili itu. Keduanya langsung saling pandang karena melihat Lili yang begitu terlihat berbeda kali ini. Bahkan aura yang keluar dari tubuh Lili pun sangat berbeda. Matanya menatap tajam kearah Rio dan Nada yang tentu membuat mereka gelagapan.
__ADS_1
"Maksud kamu apa Lili? Aku nggak mungkin menabrak kamu yang kekasihku sendiri" seru Rio sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Masa sih? Kalau nggak ngelakuin kok panik gitu" ucap Lili sambil terkekeh sinis.
"Nggak kok. Aku nggak panik" ucap Rio dengan cepat mengelak.
Rio sebisa mungkin harus mengupayakan bisa meyakinkan Lili agar percaya padanya. Ia tak mau kalau kekasihnya itu malah menuduhnya hingga membuat hukumannya ini semakin banyak. Para penyidik pun bisa menilai kalau memang Rio panik hingga kebingungan bagaimana meyakinkan kekasihnya itu.
Bahkan Rio juga langsung menatap Nada agar membantunya meyakinkan Lili. Nada sudah terlihat tak yakin dengan apa yang akan dilakukannya karena melihat tatapan Lili kepadanya yang berbeda. Nada juga langsung menggelengkan kepalanya seakan tak mampu mengeluarkan suaranya lagi.
"Bagaimana dengan ini?" tanya Lili yang langsung memutar rekaman suara perbincangan Nada dan Rio yang saat itu berada di kantin.
"Sialan... Ternyata wanita itu. Istrinya dosen kampus yang ada di kantin kampus hampir tiap hari. Ternyata benar kalau wanita itu sahabatnya Lili makanya itu orang terus saja datang ke kampus" seru Rio yang sepertinya kelepasan.
Rio bahkan langsung mengepalkan kedua tangannya dan berdiri. Pikirannya langsung tertuju pada Arlin yang merupakan istri dosen kampusnya. Berarti memang benar dugaan Rio selama ini kalau Arlin memata-matai mereka.
Sontak saja hal itu membuat Nada hanya bisa meringis pelan dan menepuk dahinya. Nada mengumpati Rio dalam hatinya karena malah keceplosan tentang kejadian waktu itu. Lili dan para penyidik begitu puas dengan apa yang diungkapkan oleh Rio.
"Iya dong, Kak Arlin itu sahabat sejatiku. Bahkan dia yang membantuku untuk mencari pelaku tabrak lari yang terjadi padaku. Wah... Aku harus berterimakasih padanya karena bisa mengirimkanku bukti-bukti itu" seru Lili dengan antusias.
Rio yang masih diliputi oleh kemarahannya pun langsung saja tersadar dengan apa yang diperbuatnya. Rio tak menyangka kalau dia malah mengungkapkan amarahnya di sini. Tentu hal ini membuat Lili tersenyum penuh kemenangan dengan para penyidik langsung senang. Hati mereka tentu bahagia karena kebenaran akan terungkap dengan sendirinya.
__ADS_1
"Lili, harusnya kau itu tak memojokkanku. Kamu harus membantuku keluar dari penjara. Aku sayang sama kamu, percayalah kalau aku bukanlah orang yang mencelakaimu" ucap Rio sedikit frustasi.
"Kalau memang bukan kamu pelakunya, kenapa jadi terlihat gelisah seperti itu? Terus kenapa kamu marah pada Kak Arlin dan mencurigainya? Padahal Kak Arlin ke kampus bisa jadi karena menemui suaminya lho" ucap Lili sambil tersenyum tipis.
Skakmat... Rio sudah tak bisa lagi mengucapkan apapun untuk membalas ucapan dari Lili. Ia sungguh tak menyangka kalau Lili kini ucapannya begitu tajam dan menohok. Padahal selama ini Lili begitu mudah ia bodohi namun sekarang seperti oranglain yang punya aura dan kekuatan berbeda.
Bahkan kini Rio juga langsung duduk di kursi dengan sedikit lesu. Ia bingung harus mengelak bagaimana sedangkan Nada semakin ketakutan. Sepertinya Lili sudah mengetahui semuanya sehingga tak ada yang bisa ia elak lagi. Apalagi dengan adanya wanita yang ternyata sahabat Lili yang memberikan banyak bukti pada gadis itu.
"Oh iya saya lupa... Rio, kita putus. Dan buat kamu Nada, aku tak sudi lagi menjadi sahabatmu. Sahabat nggak kaya gini, nusuk orang dari belakang dan memanfaatkannya. Padahal aku sudah menganggap kalian itu keluargaku sendiri, namun aku bodoh karena memperlakukanmu dengan baik. Kalian tak pantas mendapatkan seseorang yang tulus menyayangi kalian berdua" ucap Lili sambil tersenyum.
"Terimakasih atas rasa sakit yang kalian torehkan padaku. Selamat datang untuk kehancuran kalian berdua" lanjutnya yang langsung berdiri.
Lili segera saja berjalan keluar dari ruang penyidikan itu. Bahkan Rio dan Nada hanya bisa terdiam melihat kepergian Lili yang semakin menjauh. Mereka tak menyangka kalau semuanya telah terbongkar. Bahkan terlihat kekecewaan dari pancaran mata Lili membuat mereka hanya bisa terdiam kaku.
Bahkan mereka berdua tak bisa mengucapkan apapun karena mendengar ucapan Lili. Para penyidik langsung saja mengembalikan kedua pelaku masuk dalam sel tahanannya masing-masing. Pasalnya semua bukti sudah jelas walaupun tanpa pengakuan dari keduanya. Ternyata kehadiran Lili membuat mereka terpancing hingga kedoknya terbongkar.
***
Saat Lili keluar dari kantor polisi, gadis itu terus saja menghela nafasnya kasar. Matanya terlihat berkaca-kaca karena masih tak menyangka kalau Rio dan Nada menjadi benalu dalam kehidupannya. Lili segera saja berjalan tergesa-gesa menuju mobilnya hingga malah menabrak seseorang yang juga tengah berlari cepat masuk dalam kantor polisi.
Brukkkk....
__ADS_1