
"Kami sebagai orangtua hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk anak-anak. Kami akan menerima apapun yang menjadi keputusan dari Lilian. Jadi, apa Lilian mau menerima nak Aldo sebagai calon suami sekaligus imam dalam kehidupan rumah tangga kelak?" tanya Papa Dedi bertanya pada sang anak yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Dengan restu papa dan mama, ijinkan Lilian untuk menerima Aldo sebagai calon suami dan pendamping saya. Semoga apa yang telah Lilian pilih ini memberi kebahagiaan untuk Lilian dan orang-orang terdekat kami" ucap Lili dengan terbata-bata.
Prok... Prok... Prok...
Semua yang hadir bertepuk tangan atas jawaban yang diberikan oleh Lili. Bahkan mata Aldo sudah berkaca-kaca karena sebentar lagi dia akan kembali menjadi seorang kepala rumah tangga. Tak berapa lama, Kei datang bersama dengan Mama Nei membawakan kotak cincin dan perhiasan.
Aldo dan Lili sudah berdiri di tengah kemudian Mama Nei memasangkan cincin dan kalung pada calon menantunya. Begitu pula dengan Mama Ningrum memasangkan sebuah cincin pada jari manis tangan kiri Aldo.
"Semoga hubungan kalian lancar sampai hari H pernikahan. Dengan ini, kalian sudah terikat. Jangan sampai ada pertikaian atau tak saling setia setelah ini. Jika memang kalian tak ingin melanjutkan hubungan ini, bicarakan baik-baik dengan keluarga. Agar semuanya jelas dan dapat diselesaikan dengan baik" pesan Mama Nei pada keduanya.
"Lancal-lancal campe nitah papa dan mama Lili" ucap Kei dengan gemasnya.
Bahkan Lili sedikit terkejut dengan Kei yang sudah memanggilnya dengan panggilan mama. Bahkan semua orang yang ada di sana begitu terharu dengan ucapan Kei itu. Apalagi ucapan itu sangatlah polos membuat Kei memang terlihat seperti menginginkan sosok seorang ibu.
Aldo langsung menggendong anaknya. Lili mendekat kearah Aldo dan Kei untuk melakukan sesi foto bersama. Bahkan Aldo dan Lili melakukan sesi foto dengan mencium pipi Kei secara bersamaan.
"Wooo... Kei badia" seru Kei sambil tersenyum ceria.
Kebahagiaan mereka menular pada tamu-tamu yang hadir di sana. Mereka tersenyum apalagi saat melihat senyuman Kei. Sungguh kebahagiaan Kei itu menjadi bahagia untuk semua orang.
***
Acara lamaran telah usai, kini di rumah Lili hanya tinggal Kei dan Fina. Sedangkan keluarga Lili masih mengurus beberapa hal di luar. Tentang urusan catering dan dekorasi yang tinggal dibongkar. Kei sendiri tidak ikut pulang ke rumah karena ingin menginap di rumah Lili.
__ADS_1
"Kei bahagia nggak? Sebentar lagi punya mama baru" tanya Fina pada Kei.
"Cenang dong. Kei batalan tidul-tidul mulu cama mama. Cekolah diantal dan ditundu mama. Cemuana cama Mama Lili" seru Kei.
"Ya jangan tidur sama Mama Lili terus dong. Nanti gimana Kei punya adiknya kalau gitu" ucap Fina.
"Memangna talo mau puna adik, ndak boleh Kei tidul cama mama?" tanya Kei dengan polosnya.
Lili sudah menatap Fina dengan tatapan tajamnya. Ia tak menyangka kalau Fina bisa mengucapkan hal seperti itu pada Kei. Padahal Kei masih kecil namun otaknya sudah mulai diracuni oleh Fina.
"Boleh aja sih, Kei. Cuma jangan sering-sering ya" ucap Fina tanpa menggubris tatapan tajam dari Lili.
Kei hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia takkan sering-sering tidur bersama mamanya agar segera mendapatkan seorang adik. Ia kesepian, apalagi jika nanti mempunyai adik pasti suasana mansion akan sangat ramai. Dia bisa bermain bersama dengan adiknya.
***
"Setelah sidang ini, pa. Soalnya kalau waktu dia pendidikan lanjut, dia akan sibuk. Tapi kalau ada keluarga, pasti dia juga akan memikirkan suami dan anaknya" ucap Aldo.
"Jangan egois dong, Al. Masa Lili nggak boleh sibuk sama profesinya tapi kamunya nanti sangat sibuk" ucap Mama Nei meminta anaknya agar juga menyempatkan waktu untuk keluarga.
"Iya, ma. Aldo akan membicarakan semua ini pada Lili nanti. Aldo nggak ingin kalau enaknya sendiri saja. Apalagi Aldo nggak ingin kalau Lili sampai merasa tertekan dengan hubungan rumah tangga ini" ucap Aldo.
Kedua orangtua Aldo menganggukkan kepalanya mengerti dengan ucapan anaknya. Keduanya memang harus membicarakan masalah ini agar tak terjadi salah paham. Sedangkan Lili adalah tipe perempuan yang bebas dengan segala keinginan dan pikirannya.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, Lili kembali mengantar Kei ke sekolahnya. Kali ini, hanya Lili yang mengantar Kei ke sekolah karena Aldo ada kegiatan di luar kota bersama dosen yang lain. Kei tersenyum senang dalam gandengan tangan Lili.
"Mama, cenangna hati Kei ini. Diantal cama mama dan bawa betal nenak-nenak" ucap Kei dengan celotehannya.
"Padahal kemarin selalu diantar lho sama mama. Kemarin nggak senang dong?" tanya Lili dengan sedikit menggoda Kei.
"Butan ditu, mama. Temalin cenang, tapi cetalang dauh lebih badia. Coalna temalin Kei macih pandil Ante Lili, talo cekalang mama dong" seru Kei berusaha menjelaskan.
"Iya, nak. Mama paham kok" ucap Lili sambil terkekeh geli.
Sebenarnya Lili geli sendiri dengan panggilan yang disematkan kepadanya itu. Apalagi umurnya masih muda dan sudah dipanggil dengan sebutan mama. Namun ia bersyukur mempunyai calon anak yang tidak rewel dan mau menerimanya dengan senang hati sebagai mamanya.
"Wah... Kei kok kelihatan bahagia sekali? Ini juga diantar sama siapa?" tanya Nadeline, salah satu teman satu kelas Kei.
"Ini mamana atu, Nanad. Tenalin... Ini Mama Lili" ucap Kei sambil memperkenalkan Lili pada temannya.
"Mamanya Kei cantik sekali" puji Nadeline samb tersenyum polos.
"Nadeline juga cantik sekali. Ayo masuk ke kelas. Oh ya... Nadeline berangkat sendiri?" tanya Lili yang tak melihat kehadiran orang dewasa di sekitar Nadeline.
"Iya, tante. Nadeline kan kaya Kei, ndak punya mama. Terus papanya aku sibuk kerja. Ini tadi diantar sopir" ucap Nadeline dengan polosnya.
Kei dan Nadeline bernasib sama. Tumbuh tanpa kehadiran sosok seorang ibu. Namun masih beruntung Kei yang punya nenek dan kakek yang menyayanginya. Sedangkan Nadeline sendiri sama sekali tak mempunyai mereka. Sebenarnya Nadeline masih mempunyai seorang ibu, hanya saja mamanya tak peduli padanya sejak bercerai dari papanya.
"Nanad dangan cedih ya. Boleh tok pandil mama atu denan pandilan mama. Boleh tan mama?" tanya Kei pada Lili.
__ADS_1
"Boleh dong. Tante atau mama Lili juga akan menyayangi Nadeline. Oh ya... Ini tante bawa bekal makanan dua. Satu buat Kei dan satunya untuk Nadeline" ucap Lili yang kemudian menyerahkan bekal itu pada kedua bocah kecil itu.
Lili memanggil nama Nadeline sesuai dengan name tag yang ada pada seragamnya. Kebetulan bekal itu sebenarnya ia bawa untuk Fina, namun melihat Nadeline membuatnya memberikan itu.