
Dua hari berlalu, Lili memutuskan untuk menemui Rio dan Nada di penjara. Tentunya ia sudah meminta ijin kepada kedua orangtuanya. Namun Lili sama sekali tak menyebutkan kalau dirinya akan pergi menemui dua orang yang ada di penjara. Lili hanya berpamitan kalau dia akan menemui teman kampusnya dan diantar oleh sopir keluarganya.
Awalnya Mama Ningrum ingin mengikuti anaknya, namun Lili langsung menolaknya. Lili tak mau kalau orangtuanya tahu mengenai Nada dan Rio yang mencelakainya. Ia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa ada orangtua yang ikut campur. Terlebih jika papanya tahu, sudah pasti ia tak bisa membalas perbuatan keduanya dengan tangannya sendiri.
"Kita ke kantor polisi yang berada di dekat kampus ya, pak" perintah Lili pada sopir keluarganya.
Sopir itu hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia begitu penasaran dengan apa yang akan diperbuat oleh anak majikannya itu di kantor polisi. Pasalnya tadi majikannya menyuruhnya mengantar Lili ke rumah teman kampusnya. Namun ini malah menuju kantor polisi, yang tentu membuatnya kebingungan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang tampak lengang. Mobil itu terus melaju, hingga tak berapa lama berhenti di depan kantor polisi. Lili turun dari mobilnya dan meminta sopir berada di luar saja. Pasalnya ia hanya sebentar berada di dalam, kecuali jika nanti Rio dan Nada mengajaknya ribut.
"Permisi, saya ingin bertemu dengan tahanan bernama Rio dan Senada atau Nada" ucap Lili sambil tersenyum tipis.
"Mohon maaf, nona. Kedua orang itu sedang diperiksa secara intensif sehingga belum dapat ditemui" ucap polisi itu.
Lili tentunya hanya bisa menghela nafasnya lelah. Dirinya sudah jauh-jauh sampai ke sini dengan menahan rasa sakitnya namun dua orang yang ingin ditemuinya malah tak bisa ia besuk. Ia memasang wajah memelasnya di depan beberapa polisi yang menjaga itu, namun hanya gelengan kepala yang ia dapatkan.
"Saya membawa beberapa bukti tambahan mengenai tersangka Rio dan Nada. Rencananya saya datang ke sini karena ingin tahu motif kedua pelaku yang dulu menabrak saya. Tapi ternyata tidak diijinkan menemui keduanya" ucap Lili dengan wajah memelasnya.
__ADS_1
Ide yang terlintas dalam pikiran Lili adalah menggunakan bukti yang dibawanya agar bisa diijinkan masuk. Padahal ia ingin menggunakan bukti itu sebagai kejutan, namun kalau sudah masuk dalam ranah pihak berwajib akan berbeda sensasinya. Namun tak apalah, yang penting dia bisa masuk ke dalam untuk memberikan kejutan pada Rio dan Nada.
"Baiklah, nona bisa masuk menemui mereka. Tetapi, serahkan dulu beberapa bukti yang anda bawa ke salah satu penyidik yang ada di sana" ucap salah satu polisi itu.
Lili menganggukkan kepalanya kemudian melalui pemeriksaan tubuh terlebih dahulu. Setelahnya, Lili segera saja menuju pada ruangan penyidik dan mengirimkan beberapa bukti yang ia simpan dalam ponselnya. Mendapatkan beberapa bukti tambahan, membuat para penyidik di sana senang.
Tentunya mereka akan semakin mudah mengajukan beberapa dokumen ke pihak kejaksaan. Terlebih dari pihak Aldo memang belum mempunyai bukti tentang apa yang dicari oleh Arlin selama ini. Arlin ternyata mencari bukti kecelakaan Lili sehingga nyawanya dalam kondisi bahaya. Hal ini juga yang bisa disimpulkan tentang motif dari Rio dan Nada melakukan perbuatan mengancam Arlin juga Kei waktu di kantin itu.
***
"Halo... Kekasih dan sahabatku tersayang" uap Lili yang baru saja memasuki ruangan pemeriksaan kedua pelaku.
Rio dan Nada mengalihkan pandangannya kearah seseorang yang memanggil juga membuka pintu ruangan itu. Sontak saja kedua mata mereka membelalak kaget dengan kedatangan Lili. Pasalnya terakhir mereka mendapatkan informasi, Lili masih terbaring koma di rumah sakit.
"Li...Li..." ucap keduanya terbata-bata.
"Yes... Itu saya" ucap Lili sambil terkekeh pelan.
__ADS_1
Para penyidik langsung saja menyuruh Lili untuk duduk di sana. Lili duduk di kursi yang ada di sebelah penyidik sambil menatap kearah Rio dan Nada yang kini terlihat gugup. Sepertinya mereka terlihat begitu panik karena melihat kedatangan Lili dengan kondisi yang begitu sehat. Hanya ada beberapa luka lecet yang tampak masih ada bekasnya.
"Lili, kamu ngapain di sini? Bukannya kamu masih berada di rumah sakit dan koma" tanya Nada sambil tersenyum kikuk.
"Kalau di kantor polisi itu atau di rumah tahanan itu, pasti ya menjenguk seseorang. Entah seseorang itu polisi sendiri atau malah tersangka pelaku kejahatan" ucap Lili sambil tersenyum.
Lili tampak santai walaupun dalam hatinya, ia ingin sekali memukul bahkan menonjok wajah kedua orang pengkhianat di depannya ini. Ia masih tak menyangka kalau dua orang yang selama ini ia percaya ternyata tak ubahnya rubah licik. Padahal ia sudah memberikan semua waktu dan materi pada keduanya, namun mereka malah mengkhianatinya.
Terlihat sekali kalau mereka berdua saling lirik dan raut wajahnya sangat panik. Terlebih sepertinya mereka merasakan kalau kedatangan Lili ke kantor polisi ini hanya akan menjadi ancaman keduanya. Kini Lili sudah malas basa-basi sehingga ingin menanyakan langsung mengenai kasusnya.
"Sekarang aku mau tanya dong. Kalian berdua kok bisa tertangkap polisi secara bersamaan? Aku terkejut lho saat sampai kampus dan teman-teman bilang kalau kalian tertangkap polisi" tanyanya dengan wajah polosnya.
Rio dan Nada yakin kalau sebenarnya Lili saat ini hanya bersandiwara saja. Mereka tahu bagaimana mimik wajah Lili yang sok polos ini biasanya untuk menutupi keingintahuannya. Keduanya yakin kalau Lili sebenarnya mengetahui kejahatan apa yang diperbuat mereka hingga tertangkap polisi. Namun Lili ingin kalau keduanya itu mengakui semuanya di depan gadis itu.
"Ini hanya kebetulan saja kami tertangkap bersamaan. Ini juga hanya masalah salah paham saja kok, jadi jangan khawatir. Kami pasti akan segera keluar dari sini kemudian berkumpul seperti biasanya" elak Nada memberi alasan.
Lili mengangguk-anggukkan kepalanya seakan percaya dengan apa yang diucapkan oleh Nada. Padahal Lili sudah geram bukan main dan ingin sekali menampar keduanya ini. Namun ia berusaha menahan emosinya sesuai arahan penyidik yang ditemuinya tadi. Mereka harus berusaha memainkan emosi pelaku agar bisa mengakui semuanya sendiri.
__ADS_1
"Oh... Begitu. Kok teman-teman bilang kalau kalian ditangkap polisi karena menyakiti anak dan istri dari Pak Aldo ya" ucap Lili dengan mengetukkan jari telunjuknya pada dagunya.
Rio dan Nada langsung saja saling pandang karena merasa keduanya sudah terpojok. Mereka lebih memilih diam dibandingkan harus mengucapkan sesuatu yang membuat panas. Mereka tak ingin salah bicara yang membuat malah semakin terpojok.