Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Bertemu Orangtua Lili


__ADS_3

Lili diantar oleh Aldo ke rumah sakit untuk menjalani terapi kakinya. Sebenarnya kemarin merupakan jadwal terapinya, namun gara-gara harus ke kantor polisi dan was-was akan banyaknya orang yang mengintai keduanya tentu membuat mereka mengurungkan niatnya keluar dari mansion terlalu lama.


Apalagi banyak massa yang kini bersimpati kepadanya membuat setiap bertemu dengannya selalu saja ada yang diperbuat mereka. Kini mereka juga harus memakai masker agar tak dikenali oleh banyak orang. Mereka berdua harus menunggu sebentar saat ini didepan ruangan dokter karena beliau sedang menangani pasien lain.


Salahnya Aldo dan Arlin juga karena tidak melakukan reservasi terlebih dahulu. Walaupun itu rumah sakit milik Aldo sendiri, namun ia tak mau merasa dispesialkan jika untuk urusan antri seperti ini. Baginya harus urut sesuai antrian reservasi.


"Kenapa anak kita masih nggak bangun-bangun juga ya, pa? Padahal kita udah pindahkan dia ke rumah sakit yang lebih bagus" ucap seorang wanita paruh baya pada suaminya.


Saat Arlin duduk didekat ruang tunggu, tiba-tiba saja ada suara orang yang amat ia kenali tengah lewat didekatnya. Ia langsung saja mengalihkan pandangannya kearah dua orang yang baru saja lewat.


Deg...


Jantung Arlin berdetak kencang saat melihat dua orang yang baru saja melewatinya. Ternyata dua orang itu adalah orangtua Lili. Mata Arlin memanas ketika melihat sosok yang dulunya jarang sekali ditemui oleh Lili kini ada di rumah sakit ini.


Jiwa Lili seakan meronta-ronta ingin keluar dari tubuh Arlin membuatnya segera menutup matanya untuk menenangkan diri. Ia menundukkan kepalanya sambil mengusap dadanya agar bisa menetralkan degupan jantungnya yang seakan ingin melompat dari tempatnya.


"Ngapain mereka disini? Anaknya? Apa iya tubuh gue ada di rumah sakit ini? Tapi kayanya dulu nggak disini deh. Tapi tadi nyokap bilang kalau anaknya dipindah kesini karena rumah sakitnya lebih bagus" gumam Arlin pelan setelah berhasil menenangkan dirinya.


"Kamu ada ngomong sesuatu?" tanya Aldo yang samar-samar mendengar suara seseorang.

__ADS_1


Sontak saja Arlin langsung menegakkan kepalanya kemudian menatap kearah suaminya. Ia sedikit terkejut dengan suaminya yang tiba-tiba saja bertanya kepadanya. Dengan segera Arlin menguasai dirinya agar tak terlalu menampakkan raut wajah terkejutnya.


"Tidak ada. Mungkin hanya orang lewat yang sedang berbicara saja. Oh ya... Tadi aku melihat ada orangtua mahasiswamu lewat, yang dulu pernah kamu ceritakan sedang koma itu lho" ucap Arlin mengalihkan pembicaraan.


"Orangtuanya? Perasaan aku nggak pernah ngenalin atau mengenal orangtua mahasiswa deh. Kamu yakin?" tanya Aldo membuat Arlin kini gugup setengah mati.


Terlalu fokus dengan orangtua kandung Lili, membuat ia malah keceplosan sendiri. Padahal ia juga ingat kalau Aldo tidak pernah mengenalkan orangtua dari mahasiswanya itu kepadanya. Dengan mahasiswanya saja cuek, apalagi repot-repot mengenal orangtuanya.


Sungguh Arlin yang kini jiwanya Lili itu sudah ketularan menjadi sering keceplosan karena tidak bisa menguasai dirinya dengan baik. Ia mencoba mencari alasan setelah Aldo kini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Emm... Bukan, aku salah ngomong kayanya. Itu tadi adalah orangtuanya temanku yang lewat sepertinya. Kita ikutin yuk, aku lagi penasaran mereka ngapain disini" ajaknya dengan gugup untuk mengalihkan perhatian suaminya.


Aldo merasakan ada sesuatu yang aneh pada istrinya itu. Seperti ada yang disembunyikan darinya membuat dia harus lebih ekstra lagi untuk mencari informasi. Ia tak mau ada yang disembunyikan istrinya terlebih itu yang berhubungan dengan keluarganya.


Ternyata arahan istrinya itu menuju sebuah ruang ICU. Saat sampai disana, terlihatlah sepasang suami istri yang tengah duduk di ruang tunggu. Sepertinya mereka tengah menunggu orang yang ada didalam ruang ICU tersebut namun Aldo sama sekali tidak mengenalnya.


"Itu yang kamu maksud orangtua temanmu?" tanya Aldo dengan penasaran.


Arlin hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Lagi pula kini ia tengah mencoba menenangkan dirinya untuk bertemu dengan salah satu orang yang dulunya berperan dalam kehancuran mentalnya. Matanya sudah memanas kala melihat dua orang yang kini saling menguatkan itu.

__ADS_1


"Permisi tuan dan nyonya, istri saya ingin menjenguk anak kalian yang ada di ruang ICU itu" ucap Aldo meminta ijin.


Tentunya sepasang suami istri yang tadinya tengah berbincang itu langsung saja mengalihkan pandangannya kearah Aldo. Dahi keduanya mengernyit heran pasalnya mereka sama sekali tak mengenal orang yang ada dihadapannya ini. Mereka adalah kedua orangtua Lili.


"Maaf siapa ya?" tanya Papa Lili dengan pandangan bingung.


"Saya temannya Lili. Kalian orangtuanya, bukan? Dulunya saya dan Lili berteman baik hingga dia memperlihatkan foto kalian padaku. Jadi saya sedikit mengenal kalau kalian itu orangtua teman saya itu" ucap Arlin memberi alasan.


Tentunya Arlin berbohong mengenai ucapannya ini karena tak mungkin kalau dia memperkenalkan dirinya sebagai Lili. Lagi pula mereka takkan percaya kalau jiwa Lili tengah menyinggahi raga Arlin ini. Bahkan Aldo terlihat menyunggingkan senyumnya saat mengetahui kalau istrinya itu kini sedang berbohong.


Dari nada suaranya yang terlihat gugup dan gemetaran membuatnya bisa menyimpulkan jika apa yang diucapkan istrinya itu bohong. Entah apa alasannya, Aldo akan mencari tahu semuanya. Kedua orangtua Lili menganggukkan kepalanya mengerti kemudian mempersilahkan Arlin masuk.


"Silahkan masuk kedalam kalau mau melihat keadaan Lili, namun harus sesuai prosedur dengan memakai pakaian yang disediakan disana" ucap Mama Lili sambil menunjuk kearah sebuah ruangan yang ada disamping ruang ICU.


"Saya tidak akan masuk dalam ruangan. Saya hanya akan melihat dari luar pintu yang ada kacanya itu saja" ucap Arlin sambil tersenyum.


Mereka menganggukkan kepalanya mengerti kemudian Aldo langsung saja mendorong kursi roda istrinya itu. Karena kaca yang ada pada pintu itu cukup tingi letaknya, Aldo langsung saja menggendong Arlin kemudian wanita itu melihat kearah dalam ruangan.


"Mama kok ngerasa ada yang aneh ya sama wanita itu? Pas lihat pancaran matanya kearah kita, natapnya itu dalam sekali" bisik Mama Lili setelah melihat Aldo dan Arlin pergi kearah pintu ruang ICU.

__ADS_1


"Iya, kaya beda ya. Tatapan rindu atau entahlah, papa juga tidak mengerti" ucap Papa Lili pelan.


Keduanya memang merasakan ada sesuatu yang janggal pada pandangan mata Arlin yang ditujukan untuk mereka. Tatapan mata kecewa, sendu, dan rindu bercampur menjadi satu yang membuat mereka kebingungan. Pasalnya mereka sama sekali belum pernah bertemu dengan Arlin.


__ADS_2