Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Jangan Ngambek!


__ADS_3

"Gitu aja ngambek lho. Kan tinggal minta WO buat dekorasi dan lain-lain saat prosesi lamaran. Ayolah sayang, lagian aku ini serius lho ingin melamar kamu. Ibadah itu harus disegerakan" ucap Aldo dengan nada yang dimanja-manjakan.


Padahal Lili sendiri geli mendengar ucapan manja dari Aldo. Sungguh tak cocok dengan wajah sangarnya atau tegasnya ketika mengajar. Lili semakin bingung dengan sikap Aldo yang baru saja diperlihatkan oleh laki-laki itu.


"Pak, saya geli tahu dipanggil sayang gitu. Bapak tuh udah kaya om-om lagi cari gadis perawan tau" ucap Lili dengan sedikit bergidik ngeri.


"Lha kan memang iya, saya sudah om-om. Eh lebih tepatnya sih sugar daddy" ucap Aldo dengan percaya dirinya.


Lili hanya bisa geleng-geleng kepala melihat hal itu. Menurutnya semua ini terlalu cepat. Ia bahkan belum juga mengetahui bagaimana isi hatinya yang sebenarnya. Ia hanya takut kalau keduanya nanti malah saling menyakiti. Ah... Lebih tepatnya sangat menyakiti Kei jika berakhir tak sesuai yang diharapkan.


"Bapak beneran cinta sama saya? Bukan karena obsesi atau kepepet? Apalagi terdesak karena keinginan Kei yang butuh sosok seorang ibu" ucap Lili bertanya dengan beruntun.


Aldo hanya bisa mendengus kesal mendengar pertanyaan dari Lili itu. Padahal sudah jelas kalau ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu. Kalau tak serius, ia takkan mau juga meminta ijin pada orangtuanya Lili dahulu. Walaupun ia bisa saja nanti memaksa mereka agar merestui, tapi untuk menghormatinya ia memulai dengan baik-baik.


"Saya serius sama kamu. Perlu bukti apa kamu biar percaya sama saya?" tanya Aldo yang menatap Lili dengan seriusnya.


"Tapi terkadang tatapan bapak itu seperti kaya hanya terobsesi dengan saya. Tolong jangan permainkan perempuan bodoh akan rumah tangga atau cinta ini, pak. Saya juga perempuan, punya hati" ucap Lili dengan pandangan sendunya.


Aldo sampai meraup wajahnya kasar dengan tangan. Ia tak menyangka kalau Lili itu ternyata susah untuk diyakinkan. Ia memang kadang bersifat plin plan dan memaksa, namun mengenai pernikahan itu ia takkan pernah main-main.


"Saya bisa saja lompat dari gedung untuk membuktikan bahwa saya mencintaimu. Tapi saya tak mau melakukannya karena sama saja itu membuatmu tak bisa ku miliki. Maaf saya egois, saya mencintai dan menginginkan kamu. Saya tak mengenal kalau cinta tak harus memiliki" ucap Aldo dengan tegasnya.


Melihat tatapan Aldo yang begitu serius dan penuh keyakinan itu membuat hati Lili sedikit goyah. Ia masih sedikit ragu dengan perasaannya, namun melihat keseriusan Aldo membuatnya menganggukkan kepala. Aldo yang melihat anggukkan kepala itu menatap tak percaya kearah Lili.

__ADS_1


"Apa maksudnya? Kamu menerimaku sebagai calon suamimu? Kamu bersedia aku lamar satu minggu lagi?" tanya Aldo secara beruntun.


"Ya, aku mau semua itu. Aku mau jadi istri sekaligus ibu dari Kei. Tapi aku ingin menikah setelah wisuda" ucap Lili memberi persyaratan.


"Tidak papa. Yang penting kamu mau" ucap Aldo yang langsung menarik Lili masuk dalam pelukannya.


Aldo merasa bahagia karena cintanya diterima oleh Lili. Bersama Lili, ia merasakan kenyamanan yang begitu erat. Ia merasakan sosok kehadiran Arlin pada diri Lili. Namun ia juga tak pernah menganggap kalau Lili itu adalah bayangan dari Arlin. Ia benar-benar menyayangi dan mencintai gadis itu.


Lili pun membalas pelukan dari Aldo dengan eratnya. Ia tak menyangka bisa menjatuhkan cintanya pada laki-laki menyebalkan yang dulunya membuat ia darah tinggi.


"Baiklah, bapak Aldo yang terhormat. Karena hari sudah menuju malam, Lili mau pulang dulu. Takut kalau nanti malah diculik om-om genit" ucap Lili yang kemudian melepaskan pelukannya.


"Bisa nggak kalau panggilnya itu jangan bapak? Masa iya sama calon suami sendiri panggilannya bapak. Kagak ada romantis-romantisnya sama sekali" ucap Aldo sambil melepaskan pelukannya.


"Ya kan masih calon suami, kalau saat ini statusnya dosen dan mahasiswa" jawab Lili dengan santai.


"Jangan ngambek!" ucap Lili yang kini sudah berdiri di hadapan Aldo.


"Sayang" lanjutnya dengan berbisik tepat pada telinga Aldo.


Setelah mengucapkan hal itu, Lili segera berlari pergi dari hadapan Aldo. Lili keluar dari mansion sedangkan Aldo masih mematung di tempatnya. Sungguh ia tak menyangka kalau Lili sudah mau mulai untuk membuka hatinya. Walaupun baru dimulai dari sebuah panggilan khusus.


Namun setelah tersadar, Aldo sudah tak melihat lagi kehadiran Lili. Aldo pun segera saja keluar untuk mencari keberadaan Lili. Ia sedikit khawatir kalau sampai Lili kenapa-napa di jalanan, apalagi hari sudah mulai malam.

__ADS_1


***


Aldo sudah mengitari area dekat mansion dengan mobilnya namun tak ia lihat keberadaan calon istrinya itu. Sudah menghubunginya, namun tak diangkat sama sekali. Padahal selang waktu dia keluar dengan Lili pergi itu hanya beberapa menit saja.


"Kemana tuh anak? Masa iya cepat sekali ngilangnya. Padahal baru beberapa menit keluar. Dah kaya jailangkung saja," gumam Aldo sambil mengedarkan pandangannya kearah sekitar jalanan.


Bukannya Lili yang ia lihat, namun seorang laki-laki yang ia kenal. Dia adalah Ageng yang tengah berjalan di pinggir jalanan dengan langkah lesu. Ia memang belum mendapatkan laporan tentang Ageng yang bekerja di rumah sakitnya. Entah apa alasannya, ia juga belum mencari tahu semuanya.


Tin... Tin...


"Masuk..." titah Aldo dengan tegas setelah membunyikan klakson mobilnya.


Ageng sedikit terkejut melihat kehadiran Aldo di sini. Setelah sadar, ia ingat kalau ini adalah area tempat tinggal Aldo. Dengan ragu, Ageng masuk dalam mobil dan duduk di kursi penumpang.


"Ngapain malam-malam begini di sini? Terus kok ini masih pakai baju seragam cafe" tanya Aldo dengan beruntun.


"Saya disuruh antar pesanan, pak" ucap Ageng dengan jujur.


"Bukannya kemarin kamu sudah ajukan resign? Pantas saja belum ada laporan kamu kerja di rumah sakit" ucap Aldo dengan sedikit kebingungannya.


Aldo masih melajukan mobilnya menuju cafe yang diucapkan oleh Ageng. Ia juga ingin sedikit mengorek informasi tentang alasan Ageng yang belum bekerja di rumah sakitnya. Untuk urusan Lili, baru saja gadis itu mengirim pesan padanya kalau sudah dijemput oleh Pak Yono.


"Maaf, pak. Sepertinya sangat susah bagi saya resign dari cafe" ucap Ageng sedikit ragu menceritakan permasalahannya.

__ADS_1


"Maksudnya bagaimana?" tanya Aldo.


"Emm... Manager di sana meminta saya untuk bekerja tambahan selama satu bulan ke depan tanpa digaji untuk biaya kerugian karena resign dadakan. Ini saja saya disuruh mengerjakan pekerjaan yang bukan jobdesc saya" ucap Ageng sambil menghela nafasnya.


__ADS_2