Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Perkelahian


__ADS_3

Mama Nei dengan sigapnya langsung saja memberikan Kei pada Arlin. Ia langsung saja menarik kursi roda Arlin agar menjauh dari perkelahian antara Papa Tito dan Pak Cipto. Walaupun kini Pak Cipto sudah tergeletak di lantai, namun Papa Tito masih saja terus memukulnya dengan membabi buta. Papa Tito seakan hilang kendali karena melihat menantunya akan dicelakai.


"Ma, itu tolong hentikan papa. Nanti kalau sampai Pak Cipto lewat, bisa-bisa malah papa dipenjara" ucap Arlin dengan tatapan khawatirnya.


"Kamu tenang saja, dia tidak akan lewat. Paling cuma koma di rumah sakit" ucap Mama Nei dengan tenang.


Namun tak ayal Mama Nei langsung saja mendekat kearah suaminya. Terlebih tangan suaminya sudah memerah dan berdarah kemudian bulir keringat telah mengucur deras pada dahinya. Mama Nei langsung memeluk suaminya itu dari belakang agar Papa Tito sedikit tenang.


"Hei... Kalian apakan suami saya?" seru seorang wanita paruh baya yang keluar dari rumahnya setelah mendengar suara pukulan.


"Tolong... Tolong... Suami saya dipukuli orang" teriaknya yang melihat suaminya babak belur.


Beberapa orang yang mendengar teriakan meminta tolong itu langsung saja berlari mendekat kearah rumah Pak Cipto. Bahkan pihak keamanan juga langsung kesana membuat Arlin panik dan khawatir. Sedangkan Kei sedari tadi sudah memeluk mamanya dengan erat karena terdengar suara langkah kaki orang banyak.


"Pak, hentikan ini. Jangan sampai saya panggil pihak kepolisian karena memukul orang sembarangan" seru salah satu tetangga yang langsung membantu Pak Cipto.


"Kami memukul juga bukan tanpa alasan. Memang dasarnya ini orang pencuri jadi harus digebukin" kesal Papa Tito yang dituduh memukul orang sembarangan.


Semua orang disana yang mendengar ucapan dari Papa Tito pun terkejut. Tentunya para tetangga disini mengenal siapa Pak Cipto ini karena sebagian yang tinggal disana itu juga merupakan petinggi perusahaan Arlin. Mungkin mereka belum sadar kalau kini Arlin ada disana juga karena semuanya terlalu fokus pada Pak Cipto.

__ADS_1


Arlin mengenali beberapa orang yang ada disana walaupun belum memeriksa bagaimana kinerjanya selama ini. Wajah-wajahnya tampak geram karena kelakuan Papa Tito yang memukul hingga babak belur Pak Cipto yang merupakan rekan kerjanya. Yang membuat Arlin heran, para petinggi perusahaannya ini tak datang ke kantor disaat jam kerja.


"Jangan asal, suami saya bukan pencuri" sentak seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah istri dari Pak Cipto.


Tentunya ia tak terima jika suaminya yang selama ini memberi kenyamanan dan kemewahan dengan hartanya itu dituduh sebagai pencuri oleh orang yang tak dikenalnya. Sedangkan rekannya yang lain juga tak percaya bahkan hanya terkekeh sinis mendengar tuduhan itu. Mungkin saja orang-orang ini hubungannya sudah terlalu erat dengan Pak Cipto sehingga tak percaya dengan apa yang diucapkan oranglain.


"Kalian mungkin tak kenal dengan saya. Tapi kalian pasti kenal dengannya" ucap Papa Tito dengan kekehan sinisnya sambil menunjuk kearah Arlin.


Semua orang langsung menatap kearah yang ditunjuk oleh Papa Tito. Sontak saja mata mereka membulat tak percaya bahkan langsung memundurkan langkahnya. Arlin sendiri langsung mengubah raut wajahnya yang tadi panik dan khawatir menjadi datar dengan mata menatap tajam kearah semua orang yang ada disana.


Bahkan seseorang yang membawa Pak Cipto dalam rengkuhannya pun langsung melepas tubuh pria paruh baya itu. Hal itu tentu saja membuat Arlin menahan tawanya apalagi melihat Pak Cipto hanya diam dan menahan rasa sakitnya yang tergeletak diatas lantai.


Bahkan pihak keamanan saja menatap tak percaya kearah Arlin yang notabene adalah pemilik perumahan ini. Tentunya mereka merasa dibohongi oleh istri dari Pak Cipto itu karena tak lihat-lihat dulu dengan siapa orang yang dilawan. Sedangkan para petinggi perusahaan berusaha menahan raut kekhawatiran dan kegugupan yang melanda.


"Ya ini saya. Wah... Para pencuri pada berkumpul disini" ucap Arlin dengan sarkasnya.


"Maling ayam dan sandal aja diproses hukum, apalagi kalau yang dicuri uang perusahaan. Mana ratusan juta lagi" lanjutnya sambil geleng-geleng kepala.


Papa Tito dan Mama Nei langsung mendekat kearah Arlin juga Kei. Mereka tak mau kalau sampai orang-orang yang curang ini malah nanti berusaha menyakiti Arlin disaat kondisinya sedang tak memungkinkan untuk melawan. Kini raut wajah semua orang yang dihadapannya terlihat menegang.

__ADS_1


"Kalau Pak Cipto yang mencuri sih memang harus dihukum dan diproses. Iya kan teman-teman?" tanya salah satu orang yang ada disana sambil mengedipkan matanya berulangkali untuk memberi kode pada yang lainnya.


Semuanya kini menganggukkan kepalanya dengan canggung sedangkan Pak Cipto yang masih sedikit sadar itu langsung memelototkan matanya. Semua rekan kerjanya seakan lepas tangan karena takut dengan Arlin. Bisa-bisa posisi mereka di perusahaan terancam jika membela Pak Cipto yang sudah dicurigai sebagai seorang pencuri.


"Pada bermuka dua dan main cuci tangan" gumam Arlin sambil geleng-geleng kepala.


"Kalian semuanya yang ada disini, silahkan bereskan barang-barangnya dari rumah yang ada di komplek perumahan dari perusahaan saya. Kalian harus meninggalkan semua fasilitas yang diberi perusahaan sampai investigasi mengenai kinerja semuanya selesai" ucap Arlin dengan tegasnya.


Bahkan aura kepemimpinan begitu menguar dari tubuh dan raut wajah Arlin. Hal ini tentunya membuat semua orang yang ada disana segan dan sedikit ketakutan. Mereka ingin sekali protes dengan keputusan Arlin itu namun semuanya tak ada hak. Mereka bukanlah penanam saham ataupun investor di perusahaan jadi kalau didepak mungkin pengaruhnya adalah divisi dibawahnya harus bekerja keras.


"Tolonglah, nona. Beri kami waktu beberapa hari, tak mungkin kita bisa pergi langsung hari ini juga" ucap salah satunya memelas.


"Saya berikan kalian waktu 3 jam untuk mengosongkan rumah ini. Kalau tidak? Saya akan langsung bawa polisi untuk menangkap kalian biar sekalian nunggu di penjara saja" ucap Arlin disertai ancamannya.


Sontak saja semuanya melotot tak terima bahkan ingin sekali mereka memaki Arlin. Namun nyali mereka menciut, saat Papa Tito sudah mengangkat ponselnya sambil menunjukkan nomor darurat kepolisian terdekat yang akan segera beliau hubungi. Mereka harus gerak cepat karena pasti kalau diberi waktu beberapa hari hanya akan ada masalah baru yang datang.


"Jadi?" tanya Papa Tito sambil menggerak-gerakkan ponselnya.


Mereka pun akhirnya memilih pergi berlari tunggang langgang kearah rumahnya masing-masing. Semuanya meninggalkan Pak Cipto dan istrinya yang masih terkejut dengan apa yang terjadi. Bahkan kini Pak Cipto yang tadinya lemas dan tak berdaya, langsung terduduk diatas lantai dengan wajah babak belur.

__ADS_1


"Pak satpam, pastikan nanti jam 12 siang kalau mereka semua sudah pergi dari rumah ini. Kalau tidak, saya akan memecat anda sekalian" ucap Arlin yang langsung pergi dengan didorong kursi rodanya oleh Papa Tito.


__ADS_2