Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Diskusi


__ADS_3

"Bagaimana ini, pak? Sudah dipecat, fasilitas ditarik, suruh ganti rugi, ditambah babak belur ini. Untung tadi saya pura-pura terjatuh dan kuwalahan melawan si tua itu hingga anak dan istrinya langsung menenangkan. Kalau tidak, udah sekarat kali aku" kesal seseorang yang kesal karena wajahnya babak belur.


Seseorang itu adalah Pak Cipto yang langsung mengadu pada Papa Madin dengan apa yang sudah dilakukan oleh Papa Tito. Setelah pergi dari rumah milik perusahaan, ia dengan istri juga anaknya langsung saja kembali ke rumahnya sendiri. Pak Cipto memang sudah mempunyai rumah sendiri walaupun sederhana. Mereka sebelumnya jarang ke rumahnya itu karena sudah diberikan fasilitas tempat tinggal yang lebih mewah.


Sesampainya di rumah, segera saja ia diobati wajahnya oleh sang istri. Ia juga langsung menghubungi Papa Madin untuk membicarakan tentang keberlangsungan nasibnya. Tak mungkin ia menjadi pengangguran akibat kasus ini. Disinilah sekarang Pak Cipto dan Papa Madin bertemu. Di sebuah rumah sederhana yang tak lain tempat tinggal Papa Madin saat ini.


"Saya juga lagi bingung. Saya aja ini diusir dari rumah, mana nggak bisa lagi ancam-ancam karyawan perusahaan lagi. Tolonglah... Anda juga mikir cara buat kita dapatkan uang dari perusahan itu" kesal Papa Madin.


Pikirannya buntu karena semenjak diusir dari rumah itu, ia dan keluarganya harus tinggal di rumah sederhana hasil dari penjualan barang milik Arlin. Bahkan uangnya sudah hampir habis karena digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Ia kesal karena kemarin sudah mencoba untuk datang ke perusahaan namun malah diusir.


"Atas perintah dari Bu Arlin, anda tidak boleh lagi memasuki area perusahaan ini. Kalau anda nekat, kami akan langsung menyeret anda ke kantor polisi terdekat" ucap satpam yang berjaga didepan perusahaan.


"Saya ini papanya lho, masa nggak boleh masuk perusahaan anaknya sendiri" ketus Papa Madin.


"Siapapun anda ataupun keluarganya, saya tidak peduli. Saya hanya melaksanakan tugas dari Bu Arlin" ucap satpam itu dengan tegas.

__ADS_1


Akhirnya daripada membuat keributan dan pusat perhatian bagi banyak orang, Papa Madin langsung saja pergi dari perusahaan. Ia juga tak mau jika nanti sampai dilaporkan pihak berwajib yang malah akan membuat imagenya jelek. Dengan langkah gontai, ia langsung saja masuk dalam mobilnya kemudian pulang ke rumahnya.


"Terus gimana dong, pak? Mana semua karyawan lagi diselidiki sama Bu Arlin lho. Kalau terbukti terlibat kecurangan, langsung saja mereka ikutan dipecat. Selama investigasi itu, mereka sudah diusir dari rumah pemberian perusahaan" ucap Pak Cipto sambil mengacak rambutnya yang kasar.


Keduanya terdiam seakan tengah berpikir untuk mencari solusi dari permasalahan mereka. Kesal juga kalau sampai kasus ini merembet kemana-mana hingga kantor polisi. Selain keluarga yang hancur, imagenya juga buruk sehingga akan susah cari pekerjaan lagi.


Tak berapa lama, mata Pak Cipto berbinar cerah kemudian menatap Papa Madin dengan senyum misteriusnya. Segera saja Pak Cipto menepuk bahu Papa Madin agar laki-laki itu berhenti melamun. Pak Cipto membisikkan sesuatu pada Papa Madin membuat mata pria paruh baya itu langsung saja berbinar cerah.


"Kita lakukan kalau sudah waktunya tepat. Aku yakin kalau semua harta milik Arlin akan jadi milikku karena aku satu-satunya keluarga yang ia punya" ucap Papa Madin dengan percaya diri.


Pak Cipto menganggukkan kepalanya. Ia juga yakin kalau apa yang direncanakan keduanya itu akan berhasil. Terlebih semua perwalian itu masih merupakan hak dari Papa Madin walaupun Arlin sudah menikah. Keduanya akan melihat situasi agar bisa melaksanakan rencana ini secepatnya.


"Rio, gimana kalau nantinya Lili bangun dari komanya kemudian langsung cari siapa yang menabrak dia?" tanya seorang gadis dengan raut sedikit panik.


Seorang gadis itu adalah Nada yang notabene merupakan sahabat Lili. Kini ia tengah berada di rumah kekasihnya untuk membicarakan mengenai kegelisahannya. Sudah dari kemarin ia gelisah mengenai pertemuannya dengan Arlin di kampus. Ia kepikiran dengan ucapan Arlin yang seperti sedang mencari informasi mengenai sahabat Lili yang dibantunya di kampus itu.

__ADS_1


"Dia nggak akan tahu, sayang. Orang semua saksi mata juga melihat kalau ini murni salah Lili yang tak hati-hati karena mau menyelamatkan kucing kok" ucap Rio yang tak lain adalah kekasih Nada dan Lili.


"Aku hanya sedikit takut kalau Lili sadar kemudian malah balas dendam sama kamu. Apalagi kalau tahu mengenai hubungan kita. Bisa gawat karena nggak ada yang bantuin kita bikin skripsi dan bayar kuliahku dong" ucap Nada dengan raut wajah khawatirnya.


Kalau Lili sampai tahu hubungan keduanya, sudah tentu gadis itu takkan membiarkan keduanya berhubungan dengan tenang. Terutama tentang Lili yang takkan mau dimanfaatkan oleh Nada tentang biaya kuliahnya. Bahkan selama koma ini saja, Nada masih menggunakan uang tabungan Lili untuk membayar kuliah.


Lili yang memang sudah menganggap Nada sebagai sahabat sekaligus saudaranya itu pun sudah memasrahkan ATM miliknya pada Nada. Sebenarnya itu bukan tabungan melainkan uang yang dikirim orangtuanya setiap bulan ke rekening yang memang telah disiapkan mereka. Bahkan Lili sama sekali tak pernah menggunakan uang itu karena sudah malas duluan dengan orangtuanya. Alhasil itu dimanfaatkan oleh Nada untuk menggunakan uang itu buat kehidupannya.


"Itu pikirkan nanti. Yang penting uang dari orangtuanya itu tetap masih bisa kita pakai walaupun dia nggak kasih dari hasil kerjanya. Mengenai skripsi, kita bayar orang saja untuk menyelesaikannya. Lagi pula kalau nunggu Lili bangun, bisa-bisa malah nggak lulus karena kelamaan" ucap Rio memberikan ide.


Nada menganggukkan kepalanya mengerti. Keduanya akan terus berusaha agar bisa mewujudkan impiannya dengan mengambil uang dari Lili. Sebenarnya mereka berdua itu hanya ingin uangnya Lili saja, setelah itu keduanya akan segera menikah dan membuang gadis itu. Tentu nanti Lili akan semakin sakit hati kalau sudah diambil uangnya kemudian kekasihnya menikah dengan sahabatnya sendiri.


Padahal selama ini Lili sangat baik dengan keduanya namun mereka seakan tak peduli. Yang ada dalam pikiran keduanya hanyalah uang dan uang. Rio segera saja menarik kekasihnya masuk dalam pelukannya kemudian memeluknya dengan erat.


"Janji ya kalau kita bakalan terus sama-sama. Walaupun nanti Lili datang dan meminta kembali, jangan mau" ucap Nada yang takut kalau kekasihnya akan kembali berpaling.

__ADS_1


"Janji. Setelah semuanya selesai, kita langsung menikah" ucap Rio dengan tegas.


Nada menganggukkan kepalanya antusias. Ia tak menyangka kalau bisa mempunyai kekasih sempurna seperti Rio. Walaupun harus mengorbankan persahabatannya dengan Nada, namun ia tak peduli. Ia harus lebih dari segalanya jika dibandingkan dengan Lili. Lagi pula dirinya yang sejak kecil sudah tak bahagia dengan keluarganya itu ingin sekali saja merasakan kebahagiaan.


__ADS_2