
"Kira-kira mereka sedang merencanakan apalagi ya? Pasti mereka takkan tinggal diam saat kenyamanannya ku usik sedemikian rupa" tanya Arlin pada suaminya.
Setelah pulang dari mengelilingi area komplek perumahan itu, mereka segera saja masuk dalam kamar masing-masing. Mereka membersihkan dirinya kemudian istirahat di kamar. Arlin dan Kei berada didalam kamar sambil terus bercanda ria hingga akhirnya Aldo pulang dari bekerja di kampusnya.
Aldo pun langsung membersihkan dirinya sebelum bergabung dengan anak dan istrinya. Setelah selesai membersihkan diri, segera saja Aldo duduk disamping istrinya. Mereka mendengarkan Kei yang berceloteh dengan mainan mobil-mobilannya.
"Mungkin mereka sekarang sedang berusaha untuk menyingkirkan kamu. Kamu harus hati-hati dimana pun berada. Apalagi mereka bakalan ngejar kamu agar bukti yang didapatkan bisa musnah" ucap Aldo sambil mengelus rambut istrinya dengan lembut.
Aldo memang sudah mengetahui tentang bukti yang didapatkan dari rumah Pak Cipto itu. Ia sampai terkejut dan kesal karena selama ini merasa dibohongi. Padahal ia dulu yang melihat kerjasama itu saja langsung ia tolak karena bagi keuntungannya hanya akan merugikan perusahaan.
Namun dibelakangnya, ternyata Pak Cipto dengan mudahnya menyetujui kerjasama itu. Dengan menggunakan uang perusahaan mencoba mengalihkan proposal kerjasama yang baru agar ia menyetujuinya. Padahal proposal kerjasama itu ternyata hanya fiktif belaka yang tentunya hasil dari penipuan itu untuk mengerjakan yang lainnya.
"Jangan lupa segera alihkan perusahaanku menjadi atas nama Kei. Biar nanti kalau ada apa-apa denganku..."
Belum juga selesai Arlin menyelesaikan ucapannnya, Aldo langsung mengarahkan telunjuk tangannya kearah bibir istrinya. Aldo tak ingin lagi mendengar ucapan-ucapan tak mengenakkan hati seperti itu. Baru saja tadi pagi pikirannya pusing mengenai ucapan dari istrinya itu hingga kini ia tak mau lagi mendengarnya.
Arlin menatap Aldo dengan pandangan bertanya walaupun suaminya itu hanya memandang dirinya tajam. Tentunya Aldo tak mau lagi memikirkan kelak atau masa depan seperti apa karena yang ia pikirkan kini adalah hari ini. Kalau memang nanti takdirnya itu Arlin tak bersamanya, yang terpenting saat ini mereka terus merakit kebersamaan.
__ADS_1
"Jangan lagi bicara kalau, seandainya, jika atau apapun itu. Kalau kau memang ingin mengalihkan semua aset dengan atas nama Kei, aku akan membantu. Tetapi tak usah kamu berandai-andai tentang sesuatu yang belum pasti terjadi" ucap Aldo dengan tegas.
Arlin hanya menganggukkan kepalanya saja. Ia mengerti kekhawatiran dan ketakutan Aldo. Namun ia juga tak bisa memungkiri kalau hanya tinggal sekitar 2 minggu lagi dirinya berada disini. Sebisa mungkin ia harus menyelesaikan semuanya dalam waktu yang tinggal sebentar itu.
Ia ingin kembali ke raga aslinya karena harus membalaskan rasa sakit hatinya pada manyan kekasih dan sahabatnya itu. Kalau membalas lewat tubuh Arlin, takkan seru. Namun sebenarnya dalam lubuk hatinya, ia sudah mulai nyaman dengan kehidupan yang ia jalani sebagai Arlin ini. Apalagi dengan banyaknya kasih sayang untuknya dari orangtua Aldo.
"Tolong ya segera pindahkan asetku menjadi atas nama Kei atau kamu saja. Nanti saat dewasa, biar Kei yang mengelola kalau kamu bekerja di tempat lain" ucap Arlin sambil memeluk Aldo.
Tentunya Aldo langsung saja memeluk balik istrinya itu membuat Kei merasa cemburu. Bahkan sedari tadi, ia merasa dicueki oleh kedua orangtuanya yang tak mengajaknya mengobrol sama sekali. Padahal ia juga mau bercanda dengan kedua orangtuanya itu.
"Mama, papa... Tok alian ndak jajak Kei elukan cih, Kei mlasa dianggulkan. Halusna Kei tu diapelin ukan dianggulkan. Kei ili tau" ucap Kei tiba-tiba dengan mengerucutkan bibirnya kesal.
"Anak mama udah bisa iri ya sekarang. Papa, ayo kita peluk si anak ganteng ini" seru Arlin.
Arlin dan Aldo pun langsung memeluk Kei yang ada didepan mereka dengan erat. Bahkan Arlin langaung saja menggelitiki perut Kei membuat bocah kecil itu tertawa geli. Tentunya tawa renyah yang keluar dari bibir kecil Kei itu membuat mereka bahagia.
"Dah... Dah... Tukana litik pelut Kei yan cipek ini" seru Kei.
__ADS_1
Ucapan Kei yang sudah bagaikan banyolan itu hanya bisa mengocok perut kedua orangtuanya. Mereka tak menyangka kalau anaknya ini sudah pintar berbicara. Bahkan sudah pintar dalam bercanda membuat Aldo dan Arlin sedikit menghela nafasnya lega. Tentu perubahan ini membuat mereka begitu bahagia.
***
"Tadi kok di kamar kalian, mama dengar suara tawa keras banget. Kalian lagi nonton apa memangnya?" tanya Mama Nei.
Mereka kini sudah berada di ruang makan untuk melaksanakan kegiatan makan malam. Mama Nei yang melihat wajah berbinar cerah dari anak, menantu, dan cucunya itu langsung mengungkapkan apa yang didengarnya tadi. Malahan Mama Nei berpikir kalau mereka tengah melihat acara drama atau komedi dalam acara TV.
Mama Nei ingin sekali ikut masuk dalam kamar anaknya, tetapi Papa Tito langsung melarangnya. Papa Tito tak ingin jika istrinya itu mengganggu kebersamaan anak-anak dan cucunya itu. Papa Tito yakin kalau suara tawa keras dari dalam kamar itu berasal dari keluarga kecil itu.
"Itu lho, ma. Perut Kei katanya sixpack makanya nggak boleh digelitiki" ucap Arlin sambil terkekeh geli.
Tentunya Mama Nei yang mendengarnya hanya bisa terkekeh geli. Mereka tak menyangka kalau cucunya bisa sekonyol ini. Namun tak ayal, mereka juga bahagia karena cucunya bisa dekat dengan kedua orangtuanya. Bukan seperti dulu, kalau orangtuanya datang pasti Kei langsung memilih sembunyi karena takut.
"Mana ada perut gembul kaya gitu kok sixpack. Sixpack tuh kaya perut papa dan kakek itu lho" ucap Mama Nei.
"Becok talo dah ede, nek angan ili ya talo pelut Kei cipek. Pati pelut papa dan atek talah" ucap Kei dengan percaya dirinya.
__ADS_1
Mereka hanya bisa terkekeh geli mendengar candaan yang dilontarkan oleh Kei itu. Sungguh hal kecil seperti ini ternyata membuat mereka merasakan kebahagiaan. Mereka pun langsung saja melaksanakan makan malam dengan suasana kekeluargaan yang begitu hangat. Kei terus mengulas senyum terbaiknya karena kini sedang disuapi dengan telaten oleh mamanya.
Bahkan mereka tak peduli dengan keadaan orang-orang yang tadi pagi terusir dari rumah itu. Tanpa mereka sadari, mereka semua tengah berkumpul dengan Papa Madin juga untuk melakukan rencana besar. Rencana yang mungkin saja bisa membuat Aldo dan kedua orangtuanya marah besar. Mungkin saja rencana itu juga akan berbalik menjadi bencana untuk mereka yang merencanakannya sendiri.