Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Sayangnya, Mama


__ADS_3

"Kamu darimana saja, Lili? Kok pulang malam sekali" ucap Mama Ningrum yang melihat anaknya memasuki rumah dengan melewati ruang keluarga.


Lili masuk dalam rumahnya dengan kepala yang menunduk. Itu untuk menutupi wajahnya yang terlihat pucat karena rasa sakit di hati dan pikirannya. Pikirannya yang masih mengarah pada kejadian mobil melaju kencang dengan ia yang tak menggunakan sabuk pengaman.


Sedangkan hatinya masih sakit dengan ucapan yang dilontarkan oleh Aldo. Padahal ia datang ke rumah Aldo itu juga karena paksaan dari laki-laki itu. Namun malah seakan dirinya yang disalahkan atas semua yang telah terjadi. Lagi pula dia seharian ini hanya menemani Kei bermain hingva tidur saja namun apapun yang dilakukannya selalu salah di mata Aldo.


"Lili..." panggil Mama Ningrum lagi saat anaknya tak merespons panggilannya dan terus berjalan menuju kamarnya.


"Ayo kita susul Lili, pa. Mama takut terjadi sesuatu dengan Lili" ajaknya pada sang suami yang sedari tadi diam.


Lili yang masih berperang dengan hati dan pikirannya pun tak mempedulikan sama sekali panggilan dari kedua orangtuanya itu. Terlebih di sana ada juga papanya yang berperan khusus dalam traumanya ini. Lebih tepatnya, Lili sama sekali tak mendengar panggilan dari kedua orangtuanya karena sibuk melamun.


Kedua orangtua Lili mengikuti anaknya dari belakang hingga memasuki kamar gadis itu. Saat Lili sudah meletakkan semua barang-barangnya termasuk laptop dan tasnya di atas meja belajarnya, gadis itu langsung memegang kepalanya.


Arrghhh...


Brugh...


"Lili..." seru Mama Ningrum dan Papa Dedi saat melihat anaknya tiba-tiba saja ambruk ke atas lantai.


Ternyata Lili tadi saat memegang kepalanya itu terasa pusing. Tidak kuat menahan rasa pusingnya, tubuh Lili oleng kemudian tak sadarkan diri. Papa Dedi segera mengangkat anaknya masuk dalam gendongannya kemudian diletakkannya di atas tempat tidurnya.


"Astaga... Badannya panas, ma" seru Papa Dedi saat sudah memegang tubuh anaknya.


Bahkan Papa Dedi juga memeriksa kening dan leher anaknya itu untuk memastikan demamnya. Mama Ningrum yang mendengar ucapan suaminya itu segera saja mendekat kearah anaknya. Mama Ningrum memeriksanya dan sungguh terkejut dengan suhu tubuh anaknya yang sangat tinggi.

__ADS_1


"Kita bawa ke rumah sakit saja, pa. Takutnya terjadi sesuatu sama Lili apalagi dia baru saja sembuh dari sakitnya. Mama nggak mau kalau sampai ada pemyakit serius dalam tubuh Lili" ucap Mama Ningrum yang sangat takut terjadi sesuatu dengan anaknya.


"Mama minta sopir siapkan mobil dan perlengkapan Lili. Biar papa gendong Lili" ucap Papa Dedi menyuruh istrinya agar bersiap-siap.


Mama Ningrum segera saja berlalu pergi dari kamar Lili untuk menyuruh maid dan sopir agar menyiapkan semuanya. Papa Dedi segera menggendong anaknya kembali kemudian dengan cepat melangkahkan kaki keluar dari rumah. Ternyata saat sampai di luar rumah, mobil sudah siap bahkan sopirnya juga telah berdiri di dekat pintu.


"Tolong bantu bukakan mobilnya. Biar istri saya masuk dulu buat memangku kepala anakku" ucap Papa Dedi memberi perintah.


Sopir itu segera membukakan pintu mobil itu kemudian memperbaiki posisi kursi agar nyaman untuk diduduki majikannya. Segera saja Mama Ningrum masuk ke dalam kemudian Papa Dedi meletakkan anaknya di kursi penumpang. Mama Ningrum langsung saja memangku kepala Lili sambil mengelus rambutnya.


"Kenapa jadi begini sih, nak? Jangan membuat kami takut dengan keadaanmu" gumam Mama Ningrum dengan tatapan sendunya.


Mobil sudah melaju dengan kecepatan tinggi karena kondisinya yang darurat. Tak lupa juga dengan Mama Ningrum yang terus merapalkan do'a agar kondisi anaknya tak parah. Beruntung malam itu jalanan begitu sepi sehingga mobil melaju tanpa hambatan.


***


"Cepat, sus. Badan anak saya demamnya sangat tinggi" ucap Papa Dedi dengan raut wajah paniknya.


"Silahkan bapak langsung mengurus semua data dan administrasinya di resepsionis. Biar kami yang membantu pasien agar segera masuk ruang IGD dan dilakukan tindakan" ucap salah satu perawat.


Papa Dedi segera saja berlari menuju ruang resepsionis. Sedangkan Mama Ningrum mengikuti perawat didampingi oleh sopirnya menuju ruang IGD. Mama Ningrum begitu panik bahkan terus mondar-mandir agar di depan pintu ruang IGD yang tertutup rapat.


"Dokter sudah keluar belum, ma?" tanya Papa Dedi yang baru saja datang.


"Belum, pa. Dokter masih memeriksa Lili. Pa, mama takut terjadi sesuatu dengan Lili. Apalagi dia belum sampai sebulan lho sadar dari komanya itu" ucap Mama Ningrum mengungkapkan kegelisahannya.

__ADS_1


Papa Dedi tak bisa mengucapkan kata-kata lagi. Ia juga sama khawatirnya dengan sang istri. Papa Dedi hanya bisa memeluk istrinya itu dengan erat untuk menyalurkan ketenangan bagi Mama Ningrum. Keduanya saling berpelukan erat untuk menguatkan dalam keadaan seperti ini.


***


Ceklek...


"Dengan keluarga pasien..." seru dokter yang baru saja keluar dari ruang IGD.


"Kami dokter" seru Mama Ningrum.


Kedua orangtua Lili segera saja beranjak dari duduknya di kursi tunggu kemudian berjalan mendekat kearah dokter itu. Mama Ningrum dan Papa Dedi menatap was-was kearah dokter yang menyunggingkan senyum tipisnya.


"Apa sebelumnya pasien mengalami suatu peristiwa yang mengingatkannya pada kejadian yang telah lalu? Sepertinya pasien baru saja mengalami kejadian yang mengingatkannya pada traumanya" tanya dokter itu.


Papa Dedi dan Mama Ningrum saling pandang karena kebingungan. Keduanya sama sekali tak mengetahui tentang trauma yang dialami oleh anaknya itu. Terlebih mereka baru saja mulai dekat dengan anaknya setelah kejadian koma kemarin. Hal ini membuat keduanya semakin merasa bersalah karena tak mengetahu apapun mengenai anaknya.


Kedua orangtua Lili hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dokter itu menghela nafasnya pasrah karena melihat jawaban dari kedua orangtua pasien. Lili juga langsung dipindahkan ke ruang rawat inap sampai suhu tubuhnya menurun.


"Bicaralah baik-baik dengan pasien agar terbuka akan masalahnya. Tak lupa untuk selalu memberikan ketenangan, keamanan, dan kenyamanan buat pasien. Kalian bisa mencari solusinya bersama-sama setelah pasien nanti menceritakan semuanya" ucap dokter itu memberi saran.


"Baik, dok" ucap Papa Dedi.


Dokter segera saja pergi dari hadapan kedua orangtua Lili. Sedangkan kedua orangtua Lili masih termenung di depan ruang IGD karena memikirkan semua ucapan dokter. Walaupun hubungan mereka sudah mulai membaik, namun menceritakan tentang traumanya pasti Lili akan berpikir panjang.


Apalagi setelah sadar dari koma, mereka seakan mengetahui kalau Lili sebenarnya belum bisa menerima keduanya sepenuhnya. Bahkan mungkin Lili masih merasakan sakit akibat dari perbuatan keduanya di masa lalu.

__ADS_1


__ADS_2