Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Kantor Polisi 2


__ADS_3

Aldo kembali dalam ruangan yang digunakan untuk interogasi itu dengan membawa ponselnya. Ponsel yang memang harus dititipkan ke tempat penitipan saat akan masuk area rumah tahanan. Ia akan menunjukkan sesuatu ke penyidik mengenai beberapa orang yang dicurigainya ikut dalam kejadian ini. Aldo duduk disamping Papa Tito yang sedang berusaha menahan emosinya.


"Apa ini orangnya?" tanya Aldo sambil menunjukkan sebuah foto pada kedua pelaku.


Kedua pelaku itu menganggukkan kepalanya membuat Aldo menggeram marah. Sepertinya Aldo mengetahui apa motif dari kecelakaan yang menimpa istrinya itu. Terlebih ini masih berkaitan dengan kejadian anaknya yang terluka saat di kampus itu. Ya... Pelaku sebenarnya dari kejadian kecelakaan Arlin adalah Rio, mantan kekasih Lili.


Entah ada dendam apa laki-laki itu sehingga membuatnya ingin mencelakai Arlin. Aldo begitu geram bahkan meremat ponselnya karena tak menyangka masalah sepele seperti itu bisa membuat istrinya celaka. Ia memang belum mengurus Rio dan Nada karena masih fokus ngambek waktu itu.


"Siapa dia, Al?" tanya Papa Tito yang terlihat penasaran.


"Dia mahasiswaku. Sebenarnya aku juga tidak paham ada masalah apa dengan Arlin. Yang memasukkan dia ke penjara juga itu adalah aku. Dia mencekik Kei di kampus tanpa sebab dua hari yang lalu" ucap Aldo sambil mengusap wajahnya kasar.


"Begini saja, pak. Kita tanyakan dulu dengan pelaku yang sudah tertangkap itu. Kita tanyakan motifnya karena percuma kalau bertanya pada pelaku yang ini. Semuanya akan sia-sia karena keduanya juga tak tahu menahu" ucap polisi itu memberi saran.


Aldo menganggukan kepalanya kemudian mereka keluar dengan dua pelaku itu digiring mengikuti semuanya. Apalagi Aldo juga sudah menghubungi Pak Lion, pengacaranya yang kemarin mengurus tentang Rio dan Nada. Beruntung mereka melaporkan Rio dan Nada di kantor polisi yang sama.


"Apa dia yang kalian maksud?" tanya salah satu polisi kepada kedua pelaku sambil menunjuk kearah seseorang yang tengah berbincang dengan tahanan lainnya.


Mendengar ada seseorang yang bicara, membuat Rio yang sedang berbincang itu langsung saja mengalihkan pandangannya. Bahkan beberapa tahanan lainnya juga langsung mengarahkan pandangannya pada polisi dan rombongannya. Mata Rio membulat saat melihat dua orang yang dikenalnya bersama dengan Aldo, dosennya.


Rio memang tak mengetahui kalau dua orang yang ia suruh mencelakai Arlin itu telah tertangkap. Pantas saja, dua orang yang disuruhnya itu sama sekali tidak menggubrisnya pesan yang dikirimnya. Tentu dua orang pelaku itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

__ADS_1


"Sialan... Kau pikir siapa sampai mencelakai istriku? Akibat dari ulahmu itu membuat istriku meninggal" sentak Aldo sambil menunjuk-nunjuk kearah Rio.


Rio pun yang mendengar hal itu tersentak kaget. Namun tak berapa lama, Rio langsung berdiri kemudian memasang wajah menantangnya. Ia begitu bahagia mendengar kabar meninggalnya Arlin karena berarti tak ada lagi yang menjadi pengancam dirinya dan Nada.


"Baguslah kalau dia meninggal. Rahasiaku sepertinya aman" ucap Rio sambil terkekeh pelan.


"Tamu akal. Temalin nakitin atu, telus mama. Ahat tamu..." seru Kei yang masih ingat dengan kejadian waktu itu.


Aldo dan Papa Tito tak menyangka kalau Rio masih bisa menampilkan raut wajah tidak bersalahnya. Tentu hal ini membuat mereka yakin kalau orang didepannya ini sudah tak waras. Bahkan otaknya entah diletakkan dimana karena sudah menyakiti orang malah senang dan bangga.


Bahkan kini Rio menatap Kei dengan tatapan remehnya. Ia begitu puas mendengar orang yang diincarnya telah hilang. Itu artinya semua rahasianya kemungkinan aman. Padahal Rio belum tahu saja kalau sebenarnya Lili sudah mengetahui semuanya. Bahkan bukti juga sudah berada di tangannya.


"Saya akan pastikan kamu membusuk di penjara" ucap Aldo dengan tatapan tajamnya.


"Pak, tolong segera urus semuanya. Saya akan membawa CCTV yang ada di kantin kampus agar hukumannya bertambah. Apalagi dia juga sudah menyakiti anak saya" lanjutnya.


"Baik, tuan" ucap polisi itu sambil menganggukkan kepalanya.


Aldo langsung saja pergi berlalu diikuti oleh yang lainnya. Sedangkan dua orang pelaku yang menabrak Arlin langsung saja ditempatkan pada ruangan lainnya. Hal ini agar Rio tidak melakukan intimidasi kepada dua pelaku itu.


Melihat semua orang yang pergi itu membuat Rio langsung panik. Hukumannya bisa bertambah karena dua kasus sekaligus. Ia terlanjur terbawa emosi karena kedatangan Aldo yang meremehkan dan menantangnya.

__ADS_1


"Sial... Gue keceplosan. Sepertinya aku harus sewa pengacara yang bagus agar bisa membantuku. Apalagi yang dihadapi Pak Aldo, selain cerdas pasti licik" gumam Rio sambil mengepalkan kedua tangannya.


Ia tak menyangka karena kecerobohannya membuat ia mengakui kalau yang jadi pelaku dari kejadian ini adalah dirinya. Rio mengacak rambutnya kasar karena merasa frustasi dengan apa yang terjadi. Kalau dia masuk penjara lama sudah dipastikan hidupnya sengsara.


***


"Aldo, kok malah langsung pergi. Nggak tanya motifnya dulu apa gimana sih" kesal Papa Tito setelah sampai di luar kantor polisi.


Tentunya Papa Tito kesal karena anaknya ini main nyelonong keluar dari kantor polisi. Seharusnya mereka bisa mencari tahu sekalian tentang motif pelaku. Namun sepertinya Aldo sudah kepalang emosi melihat Rio yang songong itu sehingga melupakan hal penting itu.


"Aldo sudah emosi sama itu orang, pa. Nggak ada rasa bersalahnya sama sekali padahal udah bunuh orang" kesal Aldo dengan mengepalkan kedua tangannya.


Bahkan kini Aldo langsung saja masuk dalam mobil setelah mengucapkan hal itu. Kei merasa sedikit takut karena melihat wajah papanya yang memerah emosi. Mama Nei yang mengerti itu langsung mengelus punggung Kei dengan lembut.


Mama Nei dan Papa Tito sebenarnya juga emosi mendengar ucapan dari Rio. Namun mereka masih memikirkan keadaan Kei yang tentunya akan ketakutan kalau melihat keluarganya semua marah-marah. Mama Nei memandang suaminya yang hanya bisa menghela nafasnya kasar melihat tingkah anaknya.


"Biarkan saja, pa. Mungkin Aldo punya cara sendiri untuk membuat pelaku itu buka mulut" ucap Mama Nei.


"Tapi itu lho, ma. Anakmu sama sekali tak bisa mengendalikan emosinya" kesal Papa Tito.


Mama Nei mengelua lembut lengan suaminya kemudian memberi kode lewat matanya. Papa Tito langsung menghela nafasnya berulangkali untuk menetralkan nafasnya agar Kei tak ketakutan. Mama Nei memang memberi kode pada suaminya untuk melihat Kei yang bahunya sedikit bergetar.

__ADS_1


"Ayo kita pulang" ajak Papa Tito.


Mereka pun segera masuk dalam mobil, menyusul Aldo yang sudah terlebih dahulu berada disana. Mereka segera saja pulang untuk mengurus beberapa hal terkait kematian Arlin.


__ADS_2