
"Mama tok wadahna pucat ditu? Mama cakit ladi?" tanya Kei yang baru saja melihat kedatangan Lili.
Aldo yang berjalan di samping Lili pun langsung melihat pada wajah istrinya itu. Ia tak menyadari wajah Lili yang pucat karena sedari tadi istrinya itu menundukkan kepala. Kini Lili sudah menegakkan kepalanya membuat Aldo bisa melihat bagaimana wajah istrinya itu.
"Kamu pusing?" tanya Aldo yang langsung merangkul bahu dari istrinya itu.
"Hanya sedikit. Mungkin ini kelelahan saja soalnya tadi ada banyak pasien yang harus ditangani" ucap Lili memberikan penjelasan.
Aldo yakin kalau Lili itu pusing atau berwajah pucat karena kecemasannya pada area sekitar. Aldo langsung menggendong istrinya itu menuju ke kamar. Sedangkan Aldo juga langsung memberi kode pada salah satu maid yang lewat agar membantu Kei naik ke atas tangga.
"Kamu harus istirahat yang banyak. Jangan pikirkan macam-macam. Kalau kamu masih takut dan cemas begitu terus, aku bakalan ikutin kamu kemanapun berada lho" ucap Aldo dengan sedikit memberi ancaman.
__ADS_1
"Aku tuh nggak papa. Aku cuma sedikit kelelahan saja" ucap Lili sambil tersenyum kearah suaminya itu.
"Besok biar ku atur jadwalmu di rumah sakit biar kamu nggak kelelahan" ucap Aldo.
"Eh... Kasihan yang lainnya lho. Yang seharusnya diatur itu ya manajemen rumah sakitnya. Suruh percepat itu seleksi dokter-dokter yang praktik biar kami nggak kewalahan. Masa iya Dokter Linda yang sudah tua itu sampai menangani 80 pasien sendirian. Beruntung tadi aku dan Mega ada di sana" ucap Lili memberitahu permasalahan yang ada di rumah sakit milik Aldo itu.
"Sabar. Kita nggak bisa asal menerima dokter baru di rumah sakit. Dokter lama saja malah berbuat tak enak padamu, apalagi yang baru. Belum mengenal sifatnya secara langsung begitu" ucap Aldo menenangkan istrinya.
"Test psikis dan kejiwaannya harus diperketat. Pilih seseorang yang tak mudah diintimidasi dan diberi sogokan" pesan Lili.
Akhirnya Lili diberikan infus vitamin agar daya tahan tubuhnya sedikit meningkat. Aldo akan memperhatikan terus kondisi tubuh istrinya itu. Kei sendiri terus mengusap lembut lengan tangan Lili yang bebas dari infus.
__ADS_1
"Talo cakit, pedang tanan Kei yang elat ya mama. Kei batalan menghilangtan laca cakit mama ini" ucap Kei dengan mata yang terus menatap wajah mamanya.
"Nggak sakit kok kalau sudah ditemani oleh Kei ini. Jadi jangan jauh-jauh dari mama ya, Kei" ucap Lili sambil tersenyum.
Kei langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias. Bahkan kini Kei langsung memeluk Lili dan terus mengusap pipi dari mamanya itu. Perlakuan lembut Kei itu membuat Lili merasa nyaman dan malah mengantuk.
Sedangkan Aldo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dari keduanya itu. Bahkan kini Aldo langsung masuk ke kamar mandi dan membiarkan keduanya untuk istirahat. Setelah membersihkan diri, Aldo langsung memeriksa pekerjaannya.
***
"Apa Lili sekarang sakit lagi?" tanya Mama Ningrum yang masuk dalam area mansion dengan wajah paniknya.
__ADS_1
"Tidak, ma. Lili hanya sedikit kelelahan saja. Aldo juga sudah memberikannya vitamin untuk penambah daya tahan tubuh" ucap Aldo yang menyambut kedatangan mertuanya.
Tadi Mama Nei memberikan sebuah foto Kei dan Lili tidur. Namun yang membuat ia khawatir adalah telapak tangan Lili yang terpasang jarum infus. Sontak saja Mama Ningrum langsung beranjak pergi menuju mansion menantunya itu.