
Suasana di rumah Lili sudah ramai dengan tamu yang berdatangan. Teman kampus Lili yang diundang dalam acara lamaran ini hanyalah Fina. Bahkan gadis itu saat menerima undangan dari Lili begitu terkejut. Ia tak menyangka kalau sahabatnya itu benar-benar menjalin hubungan dengan Aldo.
"Li, ini beneran kamu mau dilamar sama pak duda? Dosen kita yang kalau ngajar galaknya minta ampun? Ini yang sering kamu maki-maki karena skripsimu nggak di acc terus kan? Fina nggak mimpi kan?" tanya Fina waktu itu.
"Iya, Pak Aldo yang akan jadi calon suamiku" bisik Lili tepat pada telinga Fina.
Apalagi saat itu mereka berada dalam lingkungan kampus, sehingga Lili tak berani menjawab biasa saja. Bisa saja nanti malah ada yang mendengar sehingga berita ini bisa menyebar di seluruh penghuni kampus.
"Ini benar-benar berita yang luar biasa mengejutkan. Kalau sampai semua mahasiswa tahu, wah bakalan pada heboh" ucap Fina.
"Hebohnya besok kalau aku sudah wisuda dan pernikahan kami. Pasti Pak Aldo akan mengundang beberapa orang di kampus ini" ucap Lili.
Fina menganggukkan kepalanya mengerti. Ia yakin kalau saat pernikahan itu akan terjadi, pasti Aldo akan menyebar undangan ke semua orang-orang penting di kampus. Mereka pasti juga sama hebohnya, apalagi ini baru pertama kali terjadi. Dosen menikahi mahasiswanya sendiri.
***
"Ya ampun, kamu cantik banget. Udah kaya mau melangsungkan akad nikah aja nih. Mana nih dekornya ramai sekali" ucap Fina yang kini duduk di kasur milik Lili.
Kini keduanya berada di dalam kamar Lili karena gadis itu baru selesai dirias. Nantinya Lili akan keluar dari kamar didampingi oleh Fina. Sedangkan kedua orangtuanya saat ini sedang menyambut tamu yang telah berdatangan.
"Nikah-nikah, sidang skripsi aja belum. Ntar juga masih ada hal-hal lainnya lagi, baru nikah" kesal Lili dengan ucapan Fina yang seakan menginginkan dirinya segera menikah.
"Mending kamu aja yang nikah duluan" lanjutnya.
__ADS_1
"Enak aja, aku masih ingin berkelana nih. Jalan-jalan terus menikmati kejombloanku ini" ucap Fina sambil berkhayal tentang apa saja yang akan ia lakukan demi menghilangkan kesepiannya.
"Kelamaan jomblo ntar jadi lupa lho kalau udah waktunya nikah" ucap Lili.
Fina merasa bodo amat dengan apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu. Apalagi ia memang masih muda dan merasa kalau belum siap menempuh jenjang pernikahan. Kalau Fina melihat Lili, gadis itu lebih siap terlebih sudah dekat dengan anak-anak.
***
"Astaga... Mama, buruan napa. Ini Lili sudah hubungi aku lho, katanya sudah siap. Kok ini mama malah lama sekali dandannya" teriak Aldo yang kesal dengan sang mama.
Sudah satu jam lebih mamanya itu dandan namun tak juga keluar dari kamarnya. Padahal Papa Tito, dia, dan Kei sudah memberengut kesal. Semua cemilan yang ada di hadapan ketiganya itu sudah habis disantap mereka.
"Sabar kenapa sih? Namanya juga cewek. Kalau dandan lama ya maklumin aja" ucap Mama Nei yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Ayo berangkat" ajak Papa Tito tanpa menggubris istrinya itu.
Papa Tito, Aldo, dan Kei yang sudah malas memilih untuk menjawab ucapan Mama Nei. Mereka malah keluar dari mansion kemudian duduk di dalam mobil. Mama Nei yang ditinggalkan begitu saja pun langsung saja berlari menyusul mereka sambil terus menggerutu.
Brakk...
"Main seenaknya ninggalin mama ya? Dipikir kalian itu nanti kalau nggak ada mama ya nggak berlangsung tuh acara lamaran" ucap Mama Nei.
Tak.ada yang menyahuti ucapan Mama Nei itu. Apalagi kini Mama Nei langsung sibuk dengan lipstik juga kaca kecil yang ada di tangannya. Papa Reza langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
"Jangan kencang-kencang bawa mobilnya, Al. Bisa-bisa nanti malah ini muka mama jadi kaya badut" ucap Mama Nei memperingati anaknya.
"Biarin ajalah. Mama lama sih, ini nanti keburu tamu pada datang tapi calonnya belum ada. Kalau nanti Lili malah dinikahin sama laki-laki lain gimana? Memangnya mama mau tanggungjawab?" tanya Aldo meluapkan kekesalannya.
"Lili itu perempuan yang setia. Mana mungkin dia mau dinikahkan atau dilamar perempuan lain kalau hatinya sudah tertambat padamu?" ucap Mama Nei dengan sedikit mendramatisir.
Aldo berdecih sinis mendengar ala yang diucapkan oleh mamanya itu. Apalagi mengenai cinta, padahal mamanya itu tak tahu saja bagaimana dia meyakinkan Lili. Dia selalu mencintai Lili, tapi tak tahu seberapa besar cinta gadis itu padanya. Ia hanya khawatir kalau sampai Lili berpaling.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Aldo sampai di depan rumah Lili. Semua bawaan untuk Lili sudah diantar ke rumah Lili langsung semalam. Saat Aldo dan keluarganya datang, sanak saudaranya segera berbaris di belakang dengan membawa hantaran itu.
"Selamat datang Aldo dan calon besan" sambut orangtua Lili di depan pintu masuk.
"Terimakasih atas sambutannya" ucap Mama Nei sambil tersenyum.
Semua hantaran sudah diletakkan di atas meja oleh sanak saudara dari Aldo. Sedangkan Aldo, kedua orangtuanya, dan Kei sudah duduk di kursi khusus. Mereka akan menunggu kedatangan Lili yang akan diantar oleh Fina.
"Selamat siang dan selamat datang kepada para hadirin yang terhormat. Di hari yang berbahagia ini, ijinkan kami sebagai pembawa acara untuk membawakan acara ini sampai akhir nanti. Baiklah... Langsung saja kami panggilkan Nona Lilian untuk segera memulai acara lamaran ini" ucap salah satu MC.
Lili datang dengan digandeng oleh Fina. Riasan natural dengan rambut disanggul modern membuatnya sangat cantik dan anggun. Bahkan kebaya yang tampak pas di badannya. Lili berjalan pelan kearah dekat dengan Aldo juga keluarganya.
"Baiklah... Karena Nona Lilian sudah hadir, kita bisa memulai acara lamaran ini. Silahkan kepada pihak laki-laki untuk mengungkapkan maksud dan tujuan kedatangannya ke sini" ucap MC itu.
Aldo dan Papa Tito berdiri kemudian mendekat kearah panggung kecil. Wajah Aldo tampak sangat gugup apalagi melihat Lili menatap dirinya. Tadi saat Lili hadir, wajah gadisnya yang biasanya biasa saja terlihat begitu memukau di hadapannya.
__ADS_1
"Hmm... Selamat siang. Saya perwakilan dari keluarga pihak laki-laki, Aldo datang ke sini untuk meminta sekaligus melamar Lilian sebagai calon istri dari anak kami. Jika berkenan, kami meminya kesediaan Lilian dan orangtuanya untuk menjawab keinginan baik kami" ucap Papa Tito dengan tegas.
Lili tersenyum mendengar ucapan dari calon mertuanya itu. Ia masih merasa kalau semua ini adalah mimpi. Apalagi orangtuanya yang sebentar lagi akan menjawab semua keinginan dari pihak Aldo itu. Ia tak menyangka akan dilamar atau segera menikah di umurnya yang masih muda.