
Ternyata adanya olah TKP di kampus ini juga terdengar di telinga Aldo. Tadi pagi memang Aldo sudah diberitahu oleh pengacaranya kalau akan adanya olah TKP itu. Namun Pak Lion yang notabene adalah pengacaranya itu sama sekali tak bilang kalau pelaku akan dihadirkan.
Justru saat ini grup pesan aplikasi hijau dengan para dosen di sinilah yang membuat Aldo tahu kalau para pelaku akan dihadirkan. Ingin sekali Aldo melihat bagaimana wajah pelaku yang saat bertemu dengannya waktu itu masih menampilkan kesongongannya. Sudah beberapa hari dia memang tidak update mengenai kasus itu.
"Lebih baik aku melihat wajah mereka saat ini. Apa masih sombong atau bagaimana jika bertemu denganku? Ku rasa jika masih sombong langsung aku tendang saja itu mukanya" ucap Aldo sambil terkekeh sinis.
Aldo memutuskan untuk melihat olah TKP itu secara langsung. Ada CCTV memang di kantin itu, namun kemarin hanya mengarah sebagian saja. Ada sebagian yang tak terlihat dan itu membuatnya penasaran. Aldo keluar dari ruangannya bersama dengan beberapa dosen yang juga ingin ke sana.
"Mau lihat juga, pak? Jangan emosi nanti kalau lihat adegannya secara langsung" ucap Pak Ino yang juga merupakan salah satu dosen di kampus itu.
"Saya usahakan, pak. Kalau emosi ya tinggal tendang saja pelakunya, mumpung ketemu di sana kan?" ucap Aldo sambil terkekeh pelan.
Pak Ino dan beberapa dosen lainnya tentunya hanya bisa tertawa mendengar apa yang diucapkan oleh Aldo itu. Walaupun terkesan hanya candaan semata, namun bagi rekan dosen Aldo yang baru pertama kalinya mendengar seperti itu dari duda satu anak itu tentu terkejut. Bahkan mereka sebelumnya tak pernah berkumpul dan bercanda seperti ini.
Selama perjalanan menuju kantin, mereka terus berbincang walaupun Aldo hanya sekadarnya saja dalam berbicara. Sesampainya di kantin, ternyata di sana sudah ada banyak mahasiswa yang berkerumun untuk melihat. Akibat adanya olah TKP ini, semua kegiatan perkuliahan ditiadakan.
"Anak-anak, tolong beri Pak Aldo jalan. Biar dia tahu tentang kejadian sebenarnya" seru Pak Ino pada mahasiswa yang berkerumun.
Sontak saja semua mahasiswa yang tadinya berkerumun langsung terbelah seolah memberi jalan pada Aldo. Aldo pun langsung berjalan kearah depan dan langsung berdiri paling depan. Ternyata di sana sudah ada Lili juga dua pelaku. Beberapa polisi juga sudah siap siaga di sana agar tak terjadi sesuatu yang diinginkan.
__ADS_1
"Jangan nangis... Ketemu mantan pacar dan sahabat yang bakalan mesra-mesraan" ucap Aldo pada Lili yang ada di sampingnya itu.
Lili yang terkejut dengan kehadiran dan suara Aldo yang berada di sampingnya pun seketika berjengit kaget. Bahkan tadi ia begitu fokus dengan instruksi yang diberikan polisi kepada dua pelaku itu sehingga tak sadar kalau ada seseorang di sampingnya. Yang paling Lili kesalkan adalah kalimat yang diucapkan oleh Aldo.
"Nggak usah ngada-ngada. Mereka itu bagi saya adalah orang asing. Bahkan sudah tak berharga di hidup saya" ketus Lili sambil menatap Aldo yang berada di sampingnya.
"Di sini sih cuek, lha coba aja nanti kalau udah pulang ke rumah. Pasti langsung nangis sesenggukan di pojokan kamar" ledek Aldo pada mahasiswanya itu.
Lili sungguh kesal dengan ledekan yang dilontarkan oleh Aldo itu. Padahal ia ingin melihat apakah kejadian waktu itu semua sudah dilakukan reka ulang atau belum. Ia ingin memastikan kalau masalah ini benar-benar transparant sehingga jelas.
Akhirnya polisi memulai reka adegan yang terjadi. Dimulai dari Kei dan Arlin yang duduk di sebuah meja kantin kemudian datanglah Rio dan Nada. Adegan demi adegan terus dilakukan hingga puncaknya saat Kei disandera. Aldo yang melihat hal itu ingin sekali menendang wajah Rio.
Aldo yang memang sedang emosi itu langsung memejamkan matanya dan menghela nafasnya kasar. Berulangkali ia mengambil nafas dan mengeluarkannya karena tak ingin kalau emosinya itu malah membuat dirinya dalam masalah.
"Entar kalau saya emosi, tolong diingatkan" ucap Aldo dengan nada datarnya setelah berhasil menetralkan emosinya.
"Dih... Dikira saya ini apaan? Alarm bahaya atau gimana?" ucap Lili acuh.
Tumben sekali dosennya ini mau mengajaknya bekerjasama. Mana minta tolong kepadanya, padahal selama ini tak pernah seperti ini. Aldo yang mendengar jawaban acuh dari Lili pun hanya bisa meraup wajahnya kasar.
__ADS_1
"Nanti saya pertemukan kau dengan Kei. Kemarin dan pagi tadi dia nangis-nangis pengen ketemu kamu. Kalau sampai saya emosi terus ngehajar dia, Kei nanti tambah nangis dan sedih. Memangnya kamu tega kalau Kei sedih? Sudah ditinggal mati ibunya, masa bapaknya di penjara" ucap Aldo dengan membawa nama anaknya.
Lili yang mendengar hal itu langsung menatap kearah Aldo yang menatapnya datar. Tentu saja Aldo kini sudah tahu kelemahan Lili jika berhubungan dengan anaknya. Apalagi setiap kali Kei sedih atau bercerita pasti menceritakan tentang kebaikan Lili.
Sontak saja Aldo yang mendengar hal itu langsung saja menyimpulkan kalau keduanya sudah sangat dekat. Tak lupa dengan saat melihat kedekatan keduanya ketika bertemu. Bahkan ia selalu tak dianggap jika keduanya sudah bertemu.
"Sedih karena nggak ketemu sama aku? Harusnya bapak itu langsung bawa Kei ke sini buat ketemu saya" kesal Lili pada Aldo yang tidak peka pada anaknya.
"Dih... Buat apa bawa Kei ke sini? Buat kamu lukai. Saya membiarkan dia ketemu denganmu pun kalau ada saya di situ" ucap Aldo.
Ternyata dugaan Lili mengenai penilaian Aldo kepadanya yang telah berubah itu salah besar. Ternyata Aldo masih menganggapnya sebagai penyebab dari Arlin meninggal. Lili pun sudah mau menimpali apa yang diucapkan oleh Aldo.
Ia kini lebih memilih menatap Rio dan Nada yang tengah melakukan adegan waktu itu. Berulangkali Rio dan Nada melayangkan tatapan tajam kearahnya namun Lili cuek saja. Toh di sini ia tidak bersalah sama sekali.
"Sekalian pak polisi, adegan mereka berkhianat dengan pacaran di belakang sahabat dan kekasihnya yang lagi koma dong" teriak salah satu mahasiswa setelah adegan kejadian waktu itu selesai.
Semua orang yang ada di sana begitu riuh dengan apa yang diserukan oleh mahasiswa itu. Semuanya setuju membuat Rio dan Nada hanya bisa menundukkan kepalanya. Keduanya malu karena masalah ini malah merembet pada kehidupan pribadi. Sedangkan Lili hanya diam melihat kedua orang yang pernah menduduki posisi penting dalam hidupnya itu tengah malu.
"Tuh... Coba aja ikut reka adegannya. Terus nanti tampar-tamparan, saya videoin biar viral" bisik Aldo yang kemudian pergi berlalu dari kantin.
__ADS_1