Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Kembali 2


__ADS_3

"Halo ibu... Calon dokter cantik ini datang kembali untuk memeriksa. Pasti kangen kan sama calon dokter ini? Soalnya ibu kok dirawat inap lagi di rumah sakit ini. Pasti kangen kan sama aku?" seru Lili saat memasuki ruangan Ibu Novia.


Ibu Novia merupakan pasien yang saat awal hamil Lili dulu diperiksa oleh perempuan itu. Sungguh keberuntungan saat Lili kembali ke rumah sakit, ia harus dihadapkan dengan Ibu Novia. Apalagi Ibu Novia sudah lama tak bertemu dengan Lili karena kondisinya lebih membaik.


"Astaga... Kenapa harus ketemu sama perempuan hamil ini? Eh... Ini kan sudah lebih dari 9 bulan, berarti udah lahiran ya?" tanya Ibu Novia pada Lili yang tersenyum dengan ceria.


"Iya dong. Calon dokter ini sudah melahirkan satu bulan yang lalu kira-kira. Emm... Anak aku perempuan lho, lucu. Mau lihat nggak fotonya, bu?" tanya Lili dengan antusiasnya.


Bahkan kini Lili langsung mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah foto pada layar ponselnya kearah Ibu Novia. Perempuan paruh baya itu begitu senang melihat anak perempuan Lili yang terlihat menggemaskan.


"Sangat menggemaskan. Semoga saja tidak menyebalkan dan cerewet seperti ibunya" ucap Ibu Novia dengan acuh.


"Astaga... Sakit hati saya ini, bu. Lalu kalau bukan mirip saya, sama dengan siapa dong? Masa sama dengan ibu" ucap Lili sambil geleng-geleng.


"Mending mirip saya daripada kamu. Saya ini paket komplit. Cantik, senyum terus, baik hati, dan tidak cerewet seperti kamu" ucap Ibu Novia dengan percaya dirinya.


"Sudahlah... Buruan periksa saya, sus. Menghadapi calon dokter yang begini bikin darah tinggi saya sepertinya kumat" lanjutnya yang langsung memanggil Nina dan Rahma.


Lili hanya terkekeh geli melihat kefrustasian dari Ibu Novia itu. Ibu Novia menderita diabetes dan kondisinya naik turun sehingga sering masuk rumah sakit. Apalagi Ibu Novia ini sangat susah untuk makan makanan yang disarankan.


Lili segera memeriksa semuanya dengan dibantu oleh perawat. Tak berapa lama, pemeriksaan telah selesai. Kondisi Ibu Novia sudah membaik membuat perempuan paruh baya itu akan segera pulang. Namun Lili akan memastikan pada dokter yang bertanggungjawab pada pasien ini.


"Saya hari ini mau pulang. Jangan ditahan" ucap Ibu Novia.


"Nggak ada yang nahan, bu. Ibu Novia boleh pulang kalau kondisinya memang sudah membaik" ucap Lili.

__ADS_1


"Sok bijak" ucap Ibu Novia dengan sedikit menyindir.


Lili sama sekali tak tersinggung dengan sindiran atau ucapan pedas yang dilayangkan oleh Ibu Novia itu. Memang wajahnya yang tak pantas untuk berkata sok bijak itu. Setelah menyampaikan beberapa pesan, Lili dan yang lainnya segera keluar dari ruangan itu.


"Ibunya kaya habis makan cabe satu kilo" ucap Mega sambil geleng-geleng kepala.


"Anggap saja itu hanya candaan saja, Mega. Kita nggak bisa tersinggung sama ucapan orang yang belum kita kenal. Apalagi kita baru mengenal Ibu Novia beberapa waktu saja. Pasti ada sisi lain ibu itu yang baik, hanya saja luarnya memang judes" ucap Lili.


"Tapi agak sebal juga dengan ibu itu" ucap Mega dengan mengerucutkan bibirnya kesal.


"Sabar, Mbak Mega. Masih ada banyak yang lebih menyebalkan dari Ibu Novia. Tapi kita sebagai seorang yang berkecimpung di dalam pelayanan masyarakat, tak boleh langsung ikut menjuteki orang" ucap Rahma.


Lili langsung merangkul bahu temannya yang sedang badmood itu. Mereka kembali ke dalam ruangan dokter untuk beristirahat. Tugas mereka selesai dan nanti akan kembali bekerja untuk memeriksa pasien anak-anak.


***


Setelah pulang sekolah, Nadeline ikut pulang bersama dengan Kei ke rumah Aldo. Tentu saja setelah mendapatkan ijin dari Papa Brama. Nanti Papa Brama akan menjemput Nadeline setelah pulang dari kantornya.


Saat ini Nadeline bersama Kei duduk di samping Baby Della yang tengah memainkan tangannya. Di sana juga ada Mama Nei dan Mama Ningrum yang mengawasi kegiatan anak-anak itu. Jangan sampai Baby Della nanti terluka karena tak diawasi.


"Iya, adiknya Kei lucu sekali. Adiknya Nadeline juga kan, Kei?" tanya Nadeline sambil tersenyum.


"Iya dong. Adiknya Nanad juda" ucap Kei dengan tersenyum antusias.


Mama Nei dan Mama Ningrum hanya tersenyum melihat keakraban keduanya. Bahkan Nadeline juga membawakan boneka untuk diberikan pada Baby Della. Nadeline mengelus lembut pipi Baby Della yang gembul itu.

__ADS_1


"Perasaan kamu nggak bolehin siapa pun pegang pipinya Baby Della, Kei. Kok sekarang sama Nadeline dibolehin sih?" tanya Mama Nei yang penasaran dengan sikap dari Kei.


"Nanad tan duga kakakna Baby Della, oma. Dadi ya olehlah talo cuma detat-detat, acal ndak nakitin" ucap Kei dengan bijaknya.


Mama Nei mencibir cucunya yang plin-plan itu. Keduanya kini malah tidur di atas karpet yang ada di sebelah kasur kecil Baby Della. Padahal Mama Nei dan Mama Ningrum hanya meninggalkan mereka dengan berbincang saja.


"Lihatlah mereka... Sudah kaya tiga bersaudara. Buruan foto tuh, mbak. Kita kirimkan ke Lili dan Aldo biar mereka segera pulang ke rumah" ucap Mama Ningrum.


"Benar juga tuh. Biar mereka kangen rumah dan cepat pulang" ucap Mama Nei yang menyetujui apa yang diucapkan oleh besannya itu.


Cekrek...


Mama Nei pun segera saja mengambil beberapa gambar dengan kamera ponselnya itu. Begitu lucu dengan pose yang sama. Setelah selesai mengambil gambar, Mama Nei langsung mengirimkannya pada Aldo dan Lili.


"Sudah ku kirimkan pada mereka. Pasti bentar lagi Aldo atau Lili akan mengomeli kita karena bikin kangen anak" ucap Mama Nei sambil terkekeh geli.


"Kita pindahkan ke kamar atau gimana ini, mbak? Kasihan Kei sama Nadeline yang tidur hanya beralaskan karpet saja" tanya Mama Ningrum.


"Kita pindahkan saja ke kamar. Lagian kita juga masih kuat buat gendong mereka. Pastiin dulu mereka sudah tidur apa belum" ucap Mama Nei.


Mama Ningrum menganggukkan kepalanya mengerti. Mama Ningrum juga langsung memeriksa cucu-cucunya yang ternyata sudah tertidur pulas. Mama Nei segera menggendong Kei sedangkan Mama Ningrum membawa Nadeline.


"Astaga... Ternyata aku sudah tua. Kei kok berat gini ya" keluh Mama Nei setelah berhasil meletakkan cucunya ke atas kasur.


"Iya. Aku juga nih, punggungku agak pegal. Mungkin ini karena kita jarang olahraga juga, mbak" ucap Mama Ningrum.

__ADS_1


Mama Nei hanya menganggukkan kepalanya kemudian kembali ke ruang keluarga. Mereka berbincang tentang gosip dan fashion yang lagi panas. Tentu saja sambil memperhatikan cucu perempuannya yang masih tidur.


Mereka seakan tak merasa bersalah sama sekali telah membuat kegaduhan. Tentunya karena foto yang dikirimkan pada Lili dan Aldo. Kedua orangtua itu semakin tak sabar ingin pulang karena foto yang dikirim.


__ADS_2