
Lili sampai kampusnya beberapa menit yang lalu setelah diantar oleh papanya. Ia pun kini masih berada di halaman depan kampus setelah 10 menit berlalu. Lili menatap gedung kampusnya yang kini terasa asing baginya walaupun baru satu bulan ia meninggalkannya.
"Kaya berasa ada yang aneh gitu, padahal saat masih berada dalam tubuh Arlin juga aku sering ke sini" gumam Lili sambil menghela nafasnya kasar.
Ia gugup saat memasuki kampus ini kembali. Beberapa mahasiswa yang mengenalnya itu juga melihat kearah Lili dengan tatapan heran. Mereka tak menyangka kalau Lili yang menghilang karena kecelakaan itu ternyata sudah kembali lagi.
"Lili... Akhirnya kamu kembali. Kamu harus tahu berita hot yang ada di kampus ini saat kamu nggak datang" seru seorang temannya di kampus yang memang suka menggosip.
Walaupun Lili tak dekat dengan beberapa teman kampusnya kecuali Nada, namun mereka mengenal gadis itu. Lili pun hanya sekedar mengenal nama saja tanpa tahu dalam-dalamnya. Namun mulai saat ini, sepertinya Lili akan berteman dengan semua orang di kampusnya. Sebisa mungkin, Lili akan berdekatan dengan mereka dan membuka diri untuk berteman sesamanya.
Lili yang melihat salah satu teman sekelasnya itu mendekat kearahnya pun hanya bisa tersenyum kikuk. Sedangkan temannya itu langsung menarik tangan Lili untuk menceritakan berita yang sedang panas-panasnya dibahas di kampus. Mereka semua tahu kalau Lili mengalami kecelakaan dan koma yang pasti membuat gadis itu tak tahu tentang berita ini.
"Memang ada berita apa?" tanya Lili pura-pura tak tahu.
"Itu lho pacar dan sahabatmu. Mereka ketangkap polisi karena ingin melukai anaknya salah satu dosen di kampus ini. Sungguh kelewatan sih, mana tuh mereka berdua tuh selama nggak ada kamu di sini ternyata dekatan terus lho. Kaya orang pacaran" ucap teman kampusnya yang bernama Alfina atau Fina itu dengan menggebu-gebu.
Walaupun mulutnya begitu ember dan suka bergosip, Fina itu termasuk orang yang tidak tegaan. Fina tak bisa melihat orang yang dikenalnya disakiti atau dimanfaatkan oleh sekitarnya. Fina bahkan seringkali melihat kearah Rio dan Nada dengan sinis karena tak menyangka kalau orang yang berada di dekat Lili ternyata pengkhianat.
"Eh... Maaf ya Lili, kok aku jadi keceplosan mereka sering dekat di belakang kamu sih" lanjutnya dengan memukul pelan bibirnya.
__ADS_1
"Nggak papa, Fina. Lagian aku juga sudah tahu kok kalau selama ini mereka memang pacaran di belakangku. Akunya saja yang munafik dan bodoh karena tidak peka dengan kebohongan mereka" ucap Lili sambil menampilkan senyum getirnya.
Fina langsung mengelus lembut punggung Lili. Lili menampilkan senyum tipisnya, tak dapat dipungkiri kalau Lili begitu kesal dan sakit hati atas pengkhianatan dua orang terdekatnya itu. Terlebih Lili sudah menganggap keduanya orang penting.
"Sudahlah, lupakan semua yang menyakitkan. Kita sambut hidup baru dengan skripsi yang sampai sekarang masih revisi" seru Fina mengalihkan pembicaraan.
Tentunya Lili semakin meluruhkan bahunya lesu setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Fina. Selain pembahasan mengenai Rio dan Nada, masalah skripsinya itu yang juga membuat moodnya berantakan. Lili masih sedikit takut bertemu dengan Aldo.
"Memangnya Pak Aldo sudah berangkat ke kampus? Aku dengar-dengar kalau istrinya Pak Aldo itu meninggal beberapa hari yang lalu" ucap Lili dengan tatapan penasarannya.
"Nggak tahu juga sih. Kalau kemarin sih belum masuk, nggak tahu jika hari ini" ucap Fina sambil menggelengkan kepalanya.
Fina beranjak berdiri untuk masuk dalam kantin. Ternyata gadis itu membeli minuman untuknya dan dirinya sendiri. Selama ini Lili ternyata merasa bodoh karena menyia-nyiakan banyak hal dalam hidup ini hanya demi terpaku pada dua orang yang tak berharga sama sekali. Lili tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada Fina yang baik padanya.
"Terimakasih. Ternyata banyak orang yang baik padaku, eh akunya malah mau dekatnya sama pengkhianat" ucap Lili sambil terkekeh miris.
"Namanya juga hatinya masih dibutakan oleh cinta dan kasih sayang semu" ucap Fina sambil sedikit meledek.
Lili menganggukkan kepalanya dan tertawa menertawakan nasibnya. Mereka pun akhirnya berbicara panjang lebar mengenai beberapa hal yang seru. Bahkan hal yang tak penting pun dibahas oleh Fina membuat Lili paham kalau temannya ini ternyata begitu cerewet. Cerewetnya malah melebihi dirinya.
__ADS_1
"Eh... Itu kan mobilnya Pak Aldo" ucap Fina tiba-tiba sambil menunjuk kearah mobil yang baru saja memasuki area parkir.
Lili yang mendengar hal itu tentunya segera saja mengalihkan pandangannya. Benar saja, itu adalah mobil Aldo. Bahkan saking seringnya ia naik mobil itu saat menjadi Arlin, membuatnya begitu hafal dengan plat nomor dan modelnya. Di kampus ini, hanya Aldo yang mempunyai mobil dengan tipe itu.
Sepertinya perjuangannya untuk menyelesaikan tugas akhirnya itu akan dimulai hari ini. Apapun yang terjadi dan dengan terpaksa, Lili harus bisa menaklukkan Aldo agar bisa segera menyelesaikan skripsinya. Lili melirik kearah Fina yang begitu antusias dengan kehadiran Aldo. Sepertinya Fina ini juga termasuk fans garis keras Aldo.
"Kamu mau segera ke ruangannya Pak Aldo, Li? Kalau iya, titip salam ya buat beliau. Mayan nih ada duda tampan, masa dianggurin" ucap Fina sambil terkekeh geli.
"Emangnya dia kenal sama loe? Percuma mau titip salam buat dia, toh dianya nggak kenal sama loe" ucap Lili sambil terkekeh geli karena berhasil meledek temannya.
Fina yang mendengar hal itu hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal. Tak menyangka juga kalau temannya itu bisa mengucapkan kalimat pedas seperti itu. Padahal sudah jelas kalau dirinya hanya ingin titip salam, namun temannya tak peduli.
Lili pun berdiri dari duduknya kemudian pergi berlalu dari hadapan Fina yang masih cemberut. Fina kesal karena temannya itu sama sekali tak mempedulikan mengenai apa yang diinginkannya.
"Dasar, punya teman kok nggak ada yang niat buat bantuin dekat. Ucapanmu itu lho, pedas sekali. Bikin aku maunya minum terus" seru Fina namun tak digubris oleh Lili.
Fina bahkan kini langsung saja pergi berlalu dari area taman itu. Sebentar lagi dirinya akan ada jam di kelasnya. Fina juga harus menemui beberapa temannya yang belum datang untuk bergosip ria.
Beberapa mahasiswa tadi memang hanya melihat Lili dan Fina dengan tatapan sulit diartikan. Mereka begitu penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Ratu gosip itu pada Lili. Namun mereka tak berani terlalu dekat, pasalnya Fina itu termasuk orang yang jutek dan ketus kalau ada yang ikut campur tentang urusannya.
__ADS_1