
"Apa yang kamu lakukan, Kei? Ha?" tanya Mama Nei yang tiba-tiba datang ke ruang keluarga sambil berkacak pinggang.
Kei hanya meringis pelan. Apalagi melihat omanya yang sudah menampilkan wajah garangnya itu. Sedangkan Baby Della sudah menghentikan tangisannya dan merangkak kearah sang oma. Mama Nei langsung menggendongnya dan mengusap lembut wajah cucunya yang basah dengan air mata.
"Kei nggak ngapa-ngapain, oma. Tadi adek itu lho yang nakal. Masa mau digendong nggak mau," ucap Kei menyalahkan adiknya yang masih sesenggukan dalam gendongan omanya.
"Kamu itu kan belum kuat kalau gendong-gendong gitu. Yang ada nanti malah adiknya jatuh dan terguling" ucap Mama Nei sambil geleng-geleng kepala.
"Memang ndak ada yang belain Kei. Selalu saja Kei yang salah, padahal adik yang nakal lho ini. Kei ingin jadi anak kecil saja biar nggak disalahin terus" ucap Kei yang kesal dengan omanya.
Mama Nei pun duduk di samping Kei yang masih mengerucutkan bibirnya. Tak lupa dengan Baby Della yang langsung duduk di pangkuan kakaknya itu. Mama Nei mengelus lembut kepala Kei yang kesal padanya. Ia tak bermaksud untuk terus menyalahkan cucu laki-lakinya itu.
"Kalau adiknya nggak mau digendong, nggak usah ya kamu angkat. Nanti yang ada malah jatuh dan membahayakan kalian. Pokoknya kalian berdua itu nggak boleh terluka sedikit pun" ucap Mama Nei.
"Iya, oma. Kei juga minta maaf karena sudah buat Baby Della nangis" ucap Kei yang kemudian memeluk adik perempuannya itu.
Mama Nei hanya berharap kalai keduanya selalu akur dalam keadaan suka dan duka. Apalagi Kei selaku abang pasti dituntut untuk menjaga adiknya itu. Hanya ada Kei yang nantinya saat dewasa menjadi penopang keluh kesah adiknya saat semua yang tua telah tiada.
***
"Nanad, dicari sama Baby Della. Kapan kamu mau ke rumah?" tanya Kei pada sahabatnya yang tengah sibuk bergosip dengan teman satu kelasnya.
Kei dan Nadeline kembali dipertemukan di satu sekolah yang sama. Kedua orangtua mereka sepakat untuk membuat Kei dan Nadeline satu sekolah. Pasalnya Nadeline yang memang dekat dengan keluarga Kei nanti pasti akan lebih cepat beradaptasi.
Terlebih Brama yang bisa menitipkan Nadeline pada mereka jika menjemputnya terlambat. Lagi pula Nadeline sudah dianggap sebagai saudara sendiri oleh keluarga Kei. Kini Nadeline tengah berada di kelasnya yang berbeda dengan Kei.
"Nanti habis pulang sekolah. Nanad mau ketemu sama Baby Della. Tungguin Nanad ya kalau belum keluar dari kelas" ucap Nadeline yang melihat Kei memasuki kelasnya.
"Baiklah. Jangan lama-lama ya, Nanad. Laki-laki malas menunggu" ucap Kei yang kemudian keluar dari kelas Nadeline.
Nadeline hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah acuh dari sahabatnya itu. Padahal banyak sekali siswa di sini yang ingin berteman dengan Kei. Namun bocah laki-laki itu tak pernah mau menanggapi. Bahkan saat awal tahu kalau kelas keduanya terpisah pun membuat Kei merengek pada keluarganya.
"Kei mau satu kelas sama Nanad. Nanti Kei nggak ada temannya kalau tidak sama Nanad" ucap Kei yang kesal karena mengetahui dirinya tak satu kelas dengan sahabatnya.
"Kei harus mau dong berteman dengan siapapun. Kan nanti di kelas itu juga ada banyak siswa yang bisa kamu ajak berteman. Nggak boleh yang namanya pilih-pilih teman" ucap Aldo memberi pengertian pada anaknya waktu itu.
"Tapi Kei maunya sama Nanad, papa. Kei malas harus berkenalan dengan yang lain. Apalagi mereka suka gangguin Kei" ucap Kei.
"Darimana kamu tahu kalau mereka suka gangguin? Kamu aja belum lho masuk sekolah, baru besok. Jangan aneh-aneh Kei kalau buat alasan" ucap Aldo memperingati anaknya.
"Ish... Kei tadi lihat didaftar nama kalau teman satu kelasku itu kebanyakan berasal dari TK yang sama. Mana namanya familiar lagi" ucap Kei sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
Aldo segera menatap Lili agar membantunya untuk memberi pengertian pada Kei. Aldo tak mau kalau sampai anaknya ini tak mau bersosialisasi dengan yang lainnya. Aldo tak mau kalau Kei hanya punya satu teman saja yaitu Nadeline.
__ADS_1
"Kei, jika besar nanti kamu harus mempunyai relasi yang banyak untuk memudahkan dalam menjalankan usaha. Jadi sebisa mungkin saat masih kecil begini belajar buat berteman dengan yang lain. Kalau memang anak itu nakal, kamu nggak usah dekati dia. Diamkan saja," ucap Lili membujuk anaknya.
Beberapa kali Lili berganti alasan untuk meyakinkan anaknya dan berhasil. Akhirnya Kei menerima saja jika harus berbeda kelas dengan Nadeline. Walaupun begitu, setiap istirahat Kei selalu datang ke kelas Nadeline.
***
"Kei, ayo main bola setelah pulang sekolah. Itu lho di lapangan belakang sekolah kan kosong" ajak seorang teman satu kelas Kei, Raka.
"Enggak ah. Aku udah janjian sama Nanad buat pulang bersama. Kasihan dia kalau nungguin Kei main sepak bola" ucap Kei menolak dengan halus.
Semua teman sekelas Kei hanya bisa mendengus kesal. Setiap kali mengajak Kei bermain, selalu saja menggunakan Nadeline sebagai alasannya. Ada beberapa di antara mereka yang memang mengenal Nadeline karena berasal dari satu sekolah yang sama.
"Payah amat sih, Kei. Masa tiap hari alasannya gitu terus. Kita udah ajak kamu main lho, masa kamu nggak ngehargain sama sekali sih" ucap yang lainnya, Tara.
"Iya nih. Setidaknya mainlah sekali-sekali. Masa kamu besok mainnya sama Nadeline terus. Dia cewek lho, masa diajak main sepak bola" ucap Raka.
Kei terdiam setelah mendengar apa yang diucapkan oleh teman-temannya. Tak mungkin juga kalau ia hanya berteman saja dengan Nadeline. Ia jadi mengingat pesan mamanya yang menginginkan dia agar mencari relasi yang banyak dan bisa membantu di masa depan.
"Baiklah. Tapi jangan hari ini ya, besok saja. Aku hari ini belum ijin sama mama dan papa. Terus udah terlanjur mau pulang sama Nadeline" ucap Kei.
"Kami tunggu, Kei. Jangan bohong lho ya, besok kita main sepak bola di lapangan belakang sekolah" ucap Raka.
Kei pun menganggukkan kepalanya. Ia sudah terlanjur membuat janji dengan Nadeline sehingga tak mungkin mengingkarinya. Apalagi ia juga belum meminta ijin pada orangtuanya jika pulang terlambat.
***
"Sama Pak Yono. Sekalian Pak Yono juga mau jemput nenek pulang ke rumah" ucap Kei membuat Nadeline menganggukkan kepalanya.
Keduanya ikut menunggu bersama dengan siswa lainnya. Bahkan ada beberapa orangtua yang menunggu anaknya yang tengah jajan di dekat pintu gerbang. Sudah hampir setengah jam keduanya menunggu, namun Pak Yono belum juga terlihat.
"Kei, beneran ini Pak Yono yang jemput? Kita udah lama nunggu tapi kok nggak datang-datang ya" ucap Nadeline dengan raut khawatirnya.
"Tunggu sepuluh menit lagi. Kalau belum datang juga biar Kei bilang sama bu guru buat telfon mama atau papa" ucap Kei.
Keduanya terus menunggu dan duduk di dekat pos satpam. Bahkan sudah banyak siswa yang telah pulang membuat suasana sekolah sepi. Bahkan satpam yang berjaga pun pergi entah kemana. Sepertinya satpam itu memeriksa area sekolah.
"Kamu mau ikut ke ruang guru atau nunggu di sini?" tanya Kei.
"Nanad di sini saja. Nanad capek kalau harus kembali masuk sekolah" ucap Nadeline.
"Baiklah. Kalau ada apa-apa, langsung teriak ya. Jangan kemana-mana" ucap Kei memberi pesan membuat Nadeline menganggukkan kepalanya.
***
__ADS_1
"Nadeline..." panggil seorang perempuan cantik dan seksi pada Nadeline yang masih menunggu kedatangan Kei.
Nadeline yang tadinya menunduk pun langsung saja mengangkat kepalanya. Dahinya mengernyit heran melihat sosok perempuan yang mirip dengannya itu mendekat kearahnya. Ia tak mengenal sosok itu namun ada desiran aneh yang dirasakan. Nadeline seperti mempunyai ikatan batin yang kuat dengan sosok perempuan ini.
"Tante siapa?" tanya Nadeline yang penasaran.
"Aku mamamu. Lihat... Wajah kita mirip kan?" ucap seorang perempuan yang mengaku ibu dari Nadeline.
"Mama? Papa bilang mamaku sudah pergi jauh dan nggak akan kembali kok. Berarti ini bukan mamaku dong" ucap Nadeline yang ingat dengan pesan papanya.
Walaupun wajahnya mirip dengan dia, namun ia tak boleh percaya dengan orang asing seperti pesan papanya. Apalagi di sini dia hanyalah seorang diri, bisa saja kalau perempuan di depannya ini adalah orang jahat.
"Papamu bohong, nak. Ini mamamu. Mama Ajeng yang seharusnya bersama kamu. Tapi malah mama disuruh papa pergi, padahal mama mau lho mengurus kamu" ucap seorang perempuan bernama Ajeng dengan mimik muka disedih-sedihkan.
Terlihat sekali kalau apa yang diucapkan itu hanyalah akting semata. Bahkan air mata yang diteteskan itu juga palsu. Namun Nadeline yang polos tak bisa membedakannya hingga terpengaruh.
"Tante benaran mama aku? Mamanya Nadeline? Berarti papa jahat dong" tanya Nadeline memastikan.
"Iya, papamu jahat karena memisahkan kita berdua. Ayo ikut mama saja. Mama harus menjauhkanmu dari orang jahat seperti papa" ucap Ajeng mulai membujuk Nadeline.
"Tapi selama ini papa baik sama Nadeline. Nggak pernah marah-marah dan selalu menuruti keinginan Nadeline" ucap Nadeline yang masih ragu.
"Papamu itu jahat. Dia memisahkan kita. Padahal mama adalah ibu kandungmu. Mama mohon... Memangnya kamu nggak kangen sama mama?" tanya Ajeng yang kini memasang pandangan sendu.
Nadeline pun langsung memeluk Ajeng karena tak tega dengan kesedihan perempuan itu. Bahkan Ajeng langsung menggendong Nadeline yang terbuai dengan usapan lembutnya agar pergi dari area sekolah. Nadeline begitu nyaman karena ia merasakan sentuhan lembut dari mama kandungnya.
Memang benar jika Ajeng adalah ibu kandung dari Nadeline. Namun Ajeng datang dengan maksud jelek yaitu mengambil Nadeline dari mantan suaminya demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Sesaat setelah Nadeline dibawa pergi, Kei datang dengan salah satu guru.
"Nanad... Lho, Nanad kok hilang?" tanya Kei yang langsung melihat kearah sekitar.
"Mana Nadeline, Kei? Katanya tadi nunggu di sini" tanya guru itu.
"Kei juga nggak tahu, bu. Tadi Kei sudah minta sama Nanad buat tunggu di sini. Tapi kok ini malah hilang sih. Apa jangan-jangan Nanad diculik?" tanya Kei yang langsung panik.
"Jangan langsung panik gitu, Kei. Kita cari dulu di sekitar sekolah, siapa tahu lagi jajan atau ke kamar mandi" ucap guru itu.
Kei menganggukkan kepalanya kemudian ikut mencari keberadaan Kei. Guru itu juga meminta satpam dan guru lain membantu. Namun setelah setengah jam dicari, Nadeline tak juga ditemukan. Hingga akhirnya Pak Yono datang dengan langkah tergesa-gesa.
"Maafkan saya, Den Kei. Tadi ada masalah di jalan" ucap Pak Yono dengan nafas terengah-engah.
"Tak apa, Pak Yono. Sekarang minta tolong hubungi mama atau papa. Bilang kalau Nanad diculik" ucap Kei yang langsung minta tolong pada Pak Yono.
"Apa? Diculik?" tanya Pak Yono yang sangat terkejut dan Kei menganggukkan kepala meyakinkan.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Pak Yono segera saja menghubungi majikannya. Mereka juga sama terkejutnya dengan informasi yang diberikan. Guru juga langsung mengirimkan video CCTV ke nomor ponsel milik Brama selaku wali Nadeline.