
Gosip yang beredar di kampus semakin panas. Bahkan sampai ada yang menyebut Lili hanya penghangat ranjang sang duda anak satu itu. Hal itu membuat Lili kepikiran dan geram. Bahkan orangtua Aldo sampai ingin melabrak oknum yang membuat berita tidak benar itu.
Lili dan Aldo memang sudah dekat sehingga jika diperhatikan pun mereka seperti telah menjalin suatu hubungan. Namun tak ada yang menyadarinya karena terlalu fokus dengan informasi mengenai Lili yang tak lulus-lulus skripsi karena Aldo. Bahkan mereka saja sering makan siang bersama di kantin. Ada Kei juga malahan di sana.
"Sudahlah, ma. Jangan seperti ini. Yang ada nanti malah semakin runyam" ucap Aldo yang melarang mamanya datang ke kampus.
"Apaan sih? Mama nggak terima ya calon menantu dibilang yang tidak-tidak seperti itu. Padahal mereka nggak kenal sama sekali sama Lili dan kamu" ucap Mama Nei dengan ketus.
"Aldo juga nggak terima, ma. Tapi kita juga nggak bisa membungkam mulut semua orang buat berhenti mengucapkan sesuatu yang tak kita inginkan bukan? Cukup kita jelaskan saja. Perkara nanti mereka percaya atau tidak, itu bukan urusan kita" ucap Aldo memberi pengertian pada mamanya.
Mama Nei hanya menghela nafasnya kasar. Papa Tito juga langsung mengelus lembut punggung istrinya itu agar segera menenangkan diri. Benar kata Aldo, kita tak bisa membungkam mulut atau ketikan semua orang maka lebih baik kita menjelaskan dibandingkan melabraknya.
"Baiklah, kita ke kampus lalu jelaskan pada semua yang ada di sana. Terutama dalang dari postingan yang tersebar itu. Jangan lupa bawa Lili, kita umumkan saja sekalian kalau kalian akan segera menikah dan sudah melangsungkan lamaran" ucap Mama Nei memutuskan.
Papa Tito dan Aldo menganggukkan kepalanya setuju. Setelah Kei diantar ke sekolah dan Lili dibawa diam-diam ke kampus, kini mereka sudah ada di sini. Di kampus, tempat Lili berkuliah dan Aldo sebagai pengajarnya. Semua orang masih menatap Lili dengan pandangan merendahkan. Kecuali Fina dan teman-temannya yang merasa kasihan dengan Lili akibat fitnah yang beredar itu.
"Kalian tenang saja. Lili nggak papa. Cuma pengen colok aja tuh mata mereka biar nggak ngelihat aku kaya merendahkan gitu" bisik Lili pada Fina dan teman-temannya.
__ADS_1
"Ada-ada aja sih mereka. Harusnya kemarin kamu undang saja semua mahasiswa dan dosen di sini buat hadir di acara lamaran kamu. Biar mereka nggak bikin gosip kaya gini" ucap Fina yang ikut sebal dengan fitnah itu.
"Rencananya memang aku akan mengundang semuanya. Tapi kan di acara pernikahan soalnya waktu lamaran kemarin itu hanya buat keluarga saja. Lagian rumahku kan kecil, kalau undang banyak orang ya nggak akan muat" ucap Lili memberi alasan.
Lili dan yang lainnya segera saja duduk di taman. Di sana sudah ada beberapa dosen yang hadir. Mereka sangat penasaran dengan apa yang akan diucapkan oleh Aldo. Terlebih di sana juga ada beberapa mahasiswa yang ingin tahu.
"Maaf saya mengganggu waktu mengajar atau kuliah kalian semua pagi ini. Saya hanya ingin meluruskan mengenai berita yang beredar. Ah... Lebih tepatnya gosip dan ucapan-ucapan pedas yang ada di beberapa grup mahasiswa pada sebuah aplikasi pesan" ucap Aldo yang langsung membuka omongan pagi ini.
"Saya tekankan di sini, Lili bukanlah penghangat ranjang saya. Bahkan saya menyentuhnya saja tidak. Yang mengetik dan membuat meme seperti itu, saya jamin kalau dia akan menjadi dalam daftar black list saya dari segi apapun" lanjutnya yang kemudian menghela nafasnya.
Beberapa dosen dan mahasiswa langsung terkejut dengan pengumuman yang diberikan. Pasalnya mereka tak mendapatkan kabar apapun. Bahkan orang terdekat Lili seperti Fina tak pernah membuat status atau story sedang berada di acara lamaran Lili. Aldo dan Lili juga tampak biasa saja saat bertemu walaupun perlu dicurigai karena gadis itu sangat dekat dengan Kei.
"Kalian itu kalau ngetik suka bikin sakit hati. Hati-hati sama jari kalian. Ketikan kalian itu bisa jadi barang bukti atas pencemaran nama baik atau berita bohong" ucap Papa Tito memperingatkan.
Semuanya terdiam. Apalagi kalimat yang diucapkan oleh Papa Tito itu sudah seperti ancaman buat mereka. Walaupun sebenarnya ada dalang utama yang membuat artikel atau tulisan itu. Namun mereka ikut menyebarkan hingga bisa saja itu dijadikan Aldo sebagai barang bukti.
Aldo dan Lili maju ke depan kemudian menunjukkan cincin lamaran keduanya. Bahkan Aldo juga memperlihatkan foto-foto saat keduanya lamaran lewat layar ponselnya. Semuanya bungkam dan tak ada yang menanggapi. Seperti malu karena sudah menyebarkan hal yang tidak-tidak tentang Lili dan Aldo.
__ADS_1
"Dan buat Bu Amel, berhenti membuat ulah atau menyebarkan sesuatu yang bukan kapasitas anda. Asal anda tahu, saya mengetahui semuanya dan saya memilih diam saat ibu menyebarkan tangkapan layar story saya. Tapi fitnah yang ibu buat dalam bentuk artikel, itu membuat saya geram" ucap Aldo yang kesal dengan ulah rekan satu profesinya itu.
"Tapi Lilian itu di foto menggunakan piyama tidur. Bagaimana saya tidak berpikiran macam-macam?" ucap Bu Amel membela dirinya.
Ada rasa takut dalam diri Bu Amel saat mendengar ucapan dari Aldo. Namun dengan tenang, ia menatap Aldo dan langsung mengungkapkan pikirannya. Bahkan pandangan Bu Amel masih terlihat memuja Aldo dan tatapannya begitu polos namun dibuat-buat.
"Waktu itu Lili tidak tahu kalau saya mau beri surprise di pantai. Bahkan Lili sudah bersiap untuk tidur malam itu. Saya datang ke rumahnya dan minta ijin sama orangtuanya untuk membawa Lili. Walaupun dengan pakaian asal, yang penting tidak menampakkan lekuk tubuhnya" ucap Aldo dengan tegas.
"Tak mungkin juga bukan? Kalau saya bilang seperti ini pada Ibu Amel yang terhormat ini. Kalau pun saya melakukan sesuatu dengan Lili di luar itu, menurut saya itu bukan urusan anda" lanjutnya dengan tatapan tajam.
Bu Amel langsung melengoskan wajahnya, tak mau lagi menatap Aldo. Ia tak kuat melihat Aldo yang menatapnya penuh kebencian. Apalagi genggaman tangan keduanya yang seperti remaja ABG sedang jatuh cinta. Bu Amel membenci itu karena laki-laki yang dipujanya sudah mempunyai tambatan hati.
"Aldo dan Lili bukan artis atau pejabat. Merema sebenarnya tak ingin juga membuat pernyataan atau seperti konferensi pers begini. Namun gosip di beberapa grup sudah menyangkut harga diri Lili, jadi sekiranya kami perlu meluruskannya. Sekali lagi terimakasih atas waktunya dan maaf telah mengganggu kegiatan kalian" ucap Papa Tito mengakhiri acara pagi ini.
Mama Nei langsung menarik tangan Lili agar segera pergi ke sekolah Kei. Ia tak ingin cucunya ngambek karena tak ada Lili yang menunggu di sana. Sedangkan Aldo memilih masuk ke ruangannya dan Papa Tito pergi bekerja. Semuanya membubarkan diri, meninggalkan Bu Amel yang terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Kalian telah mempermalukan saya. Akan saya buat kehidupan dan hubungan kalian tak harmonis" gumamnya dengan segala rencana licik yang ada di kepalanya.
__ADS_1