Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Dua Minggu


__ADS_3

Sudah dua minggu semejak kejadian penculikan itu. Kondisi Lili perlahan sudah mulai membaik, namun bekas lebam pada pipi dan tangan yang diikat terlalu erat itu belum sepenuhnya hilang. Lili tak menyangka kalau apa yang dilakukan oleh Dokter Adnan waktu itu membuatnya sepert ini.


Lili juga menjadi paranoid sendiri jika berada di tempat sepi dan gelap. Bahkan dengan orang asing yang tiba-tiba mendatanginya pun ia was-was. Hal ini langsung membuat Aldo bergerak cepat memanggil seorang psikiater agar masalah psikis istrinya segera ditangani.


"Apa kamu sudah sedikit tenang? Ku harap kamu nggak berpikiran macam-macam lagi dengan orang asing. Kita boleh waspada, hanya saja kasihan kan kalau dia hendak membutuhkan pertolongan namun kamu malah pergi" ucap Aldo sambil bertanya mengenai kondisi Lili.


"Aku sudah baik-baik saja. Untuk sementara ini memang aku harus bersama dengan orang yang ku kenal agar bisa membuatku tenang" ucap Lili sambil tersenyum.


Selain paranoid, Lili mengalami gangguan kecemasan. Setiap malamnya, selalu saja ia mengigau ketakutan akibat peristiwa penculikan itu. Kemarin saja, ia berpikir mobil yang mendekatinya itu membawa seorang peculik karena begitu asing di matanya. Hingga Lili berteriak dan membuat orang-orang langsung mengerumuninya.


Ternyata orang yang berada di dalam mobil itu adalah Aldo. Hanya saja ia meminjam mobil temannya karena ban kendaraannya bocor di tengah jalan. Beruntung para warga tak sempat mengeroyok Aldo karena satpam mengenalinya.


"Kalau ada masalah apapun atau gangguan, langsung bilang ya. Setidaknya kita bisa langsung menyelesaikan semuanya. Apalagi ini masalah kesehatan, semakin cepat diobati pasti segera sembuh" ucap Aldo memberi pesan pada istrinya itu.


Lili menganggukkan kepalanya mengerti. Ia akan berusaha untuk sembuh dan menghilangkan kecemasan yang selalu kambuh saat berada di tempat sep. Apalagi Kei selalu berada di sampingnya, tak mungkin juga kalau keduanya pergi namun Lili masih dalam kondisi seperti ini.


"Mama..." seru Kei yang baru saja memasuki kamar kedua orangtuanya.


"Wah... Bawa apa itu?" tanya Lili dengan senyuman hangatnya.


"Tue cotat. Ini buwat mamana Kei yang palin cantit" ucap Kei yang kemudian meletakkan piring kecil berisi cake cokelat di atas ranjang.


"Terimakasih anak gantengnya mama" ucap Lili yang kemudian mengambil kue yang diberikan oleh Kei.


"Cama-cama, mama" ucap Kei dengan antusiasnya.

__ADS_1


Aldo membawa Kei untuk ikut duduk di atas ranjang tempat tidur. Kei senang karena Lili langsung makan kue pemberiannya itu. Tadi sepulang sekolah, Kei mengajak neneknya untuk membeli kue untuk Lili. Mama Ningrum bilang kalau Lili itu sangat suka dengan apapun yang berhubungan mengenai cokelat. Akhirnya Kei memilih kue cantik berwarna cokelat dengan taburan buah di atasnya.


"Jadi cuma mama saja nih yang dikasih kuenya? Papa enggak nih" ucap Aldo dengan wajah yang disedih-sedihkan.


"Papa memangna mau? Tan papa ndak cuka cotat" ucap Kei dengan wajah polosnya.


"Talo papa mau, ya minta caja cama mama" lanjutnya dengan santai.


Lili hanya bisa menahan tawanya melihat Aldo yang seakan mati kutu karena ucapan dari anaknya itu. Padahal sudah jelas kalau itu hanya candaan saja, namun Kei membantahnya dengan ucapan serius. Bahkan ia tak peduli dengan wajah masam papanya itu.


"Kei mau?" tanya Lili yang sudah menyodorkan sebuah sendok berisi potongan kue di depan wajah Kei.


"Ndak, mama. Buat mama caja" ucap Kei sambil menggelengkan kepalanya.


Kei segera menolak tawaran dari mamanya itu. Itu merupakan kue yang dibelinya khusus untuk sang mama jadi tak mau dia memakannya juga. Interaksi keduanya itu membuat Aldo mendengus kesal. Selalu saja seperti itu, setiap kali dia berada di antara keduanya pasti akan dicueki.


"Ndak pentin nemang. Balu cadal?" tanya Kei dengan polosnya.


"Iya, siapa sih itu tadi yang ngomong? Kok kaya nggak ada wujudnya, Kei" tanya Lili dengan sedikit kebingungan.


"Woh... Ndak teliatan? Tayak cetan dong, mama" ucap Kei berceletuk asal.


Hahaha..


Lili langsung saja tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Kei itu. Aldo memberengut kesal kemudian pergi keluar dari kamar. Sedangkan Lili dan Kei langsung saling berpelukan. Mereka bahagia bisa menjahili Aldo yang wajahnya memang sangat cocok dibuat kesal.

__ADS_1


"Papa malah mama" ucap Kei memberitahu.


"Apa kamu takut kalau papa marah? Papa tuh nggak bisa marah kalau sama mama dan Kei. Santai saja..." ucap Lili.


"Ndak duga. Napain tatut cama papa. Papa caja tatut talo tehilangan Kei dan mama kok" ucap Kei dengan percaya dirinya.


***


Lili memutuskan untuk berangkat menuju rumah sakit. Hari ini dia mulai praktik mandiri setelah satu minggu yang lalu diberikan bimbingan. Pihak rumah sakit masih melakukan seleksi untuk beberapa dokter yang akan masuk ke sana. Ada juga pergantian dokter yang sudah masuk waktu pensiun.


"Lili, hari ini kita dapat pada bagian anak-anak kan buat bantu dokter senior di sana?" tanya Mega yang masuk area rumah sakit bersamaan dengan kedatangan Lili.


"Iya, tapi aku siang pindah ke bagian umum sih. Aku deg-degan karena untuk pertama kalinya praktik sendiri. Walaupun nantinya kalau mau kasih resep harus tanya dulu sama dokter senior" ucap Lili yang raut wajahnya sedikit panik.


"Memang luar biasa sih ini. Apalagi kita memeriksa langsung pasien yang entah penyakitnya apa. Kita mendiagnosis dan memutuskan memberi obat apa yang cocok. Benar-benar nyawa seorang pasien di tangan kita" ucap Mega.


Lili menganggukkan kepalanya. Ia sangat antusias dalam praktiknya kali ini. Namun ada juga rasa sedikit takut karena ini berhubungan dengan nyawa seseorang. Setelah berbincang lumayan lama, Lili dan Mega langsung memasuki ruangan dokter.


"Lili, Mega... Tolong gantikan dulu asisten dokter yang tidak masuk ke bagian poli anak ya. Di sana kalian bisa ikut membantu pemeriksaan yang sederhana dulu" ucap dokter senior itu.


"Baik, dok" ucap keduanya serentak.


Lili dan Mega segera saja menyelesaikan persiapannya kemudian berjalan pergi ke arah poli anak. Di sana sudah ada beberapa perawat yang menyiapkan semua perlengkapannya. Bahkan pasien anak juga sudah banyak yang berdatangan. Mendapatkan shift pagi memang lebih banyak pekerjaannya dibandingkan jadwal siang.


"Wow... Banyak amat pasiennya. Kalau malam, dah lega-leha nih kita" ucap Mega dengan sedikit berbisik.

__ADS_1


"Do'akan saja mereka cepat sembuh agar kita bisa leha-leha" ucap Lili dengan pelan.


Mega dan Lili langsung membantu di dalam. Dokter senior spesialis anak juga sudah di sana dengan peralatannya. Lili dan Mega langsung berbagi tugas agar semuanya selesai sebelum jam makan siang.


__ADS_2