Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Tertangkap


__ADS_3

Sedangkan kini di sebuah rumah pohon didekat hutan, ketiga orang yang sedang bersembunyi itu kini tengah menikmati suasana sore hari yang begitu sejuk. Sangat sejuk karena banyak pepohonan besar yang mengelilingi rumah pohon itu. Sungguh licik mereka bertiga yang ternyata memang seperti sudah menyiapakan segala sesuatunya demi melarikan diri dari kejaran polisi.


Mereka bertiga itu adalah Papa Madin, Mama Irene, dan Melinda. Papa Madin tengah menikmati teh bersama dengan istri dan anaknya setelah tadi mereka membersihkan diri di danau dalam hutan. Beruntung Melinda mengenali hutan itu sehingga tak tersesat saat akan kembali dari danau menuju rumah pohon.


Beruntung juga Mama Irene, sudah membawa beberapa pakaian dan perlengkapan lainnya. Mereka memang merasakan akan ada sesuatu yang menimpa ketiganya saat konferensi pers, jadi memutuskan untuk membawa pakaian. Agar nantinya mereka bisa kabur dan bersembunyi di tempat yang aman.


"Tinggal disini kayanya enak banget ya, ma. Jauh dari keramaian, polusi, dan orang-orang yang berisik. Papa ingin lho menikmati masa tua di tempat yang menenangkan seperti disini" ucap Papa Madin tiba-tiba.


Mama Irene tak menjawab ucapan dari suaminya itu. Pasalnya semenjak permasalahan ini terjadi, Papa Madin lebih banyak diam dan seakan menyesal melakukan semua yang sudah terjadi. Ia sendiri yang harus meluruskan pikiran suaminya itu agar bisa mendapatkan hidup layak dihari tua nanti.


Dalam lubuk hati Papa Madin, ia ingin sekali kalau dirinya bisa hidup tenang dimasa tuanya. Tidak seperti ini, dikejar-kejar orang dan polisi malah membuatnya semakin pusing. Kesalahan pada anaknya sudah tak terhitung lagi, membuat dia hanya bisa menyesali perbuatannya. Ia juga tak menyangka kalau sudah melukak hati putri kandungnya sedalam ini.


"Semua sudah terjadi, pa. Andai saja anakmu itu tidak pelit, pasti mama dan aku juga akan menyayanginya. Tapi karena pelit, ya kita harus berbuat seperti ini. Lagian ini bukan murni kesalahan kita, tapi Kak Arlin juga" ucap Melinda yang tak mau disalahkan.


Papa Madin yang mendengar ucapan dari anak tirinya itupun hanya bisa menghela nafasnya kasar. Ia masih tak menyangka jika anak dan istrinya ini selalu menyalahkan Arlin dan mengaitkannya dengan harta. Memang benar sedari dulu ia hanya ingin harta dari mantan istrinya, namun waktu itu juga karena hasutan dari selingkuhannya yaitu Mama Irene.


Kehidupan Mama Irene yang bergaya glamour dan sering foya-foya membuatnya tak bisa berpikir jernih. Pada akhirnya ia melakukan segala cara termasuk mencurangi istrinya dengan menggelapkan dana perusahaannya. Keluarga istrinya yang dulu kaya hingga sekarang, membuatnya gelap mata dan nyaman.

__ADS_1


Ia seakan dibutakan oleh keadaan. Tentunya itu berlangsung hingga saat Arlin dewasa. Ia selalu bergantung pada anaknya untuk memberinya uang dan kehidupan yang layak. Ia bukan tipe orang yang suka bekerja tekun dan keras sehingga sedikit melakukan pekerjaan saja sudah membuatnya malas.


"Benar, ini semua pokoknya salah anakmu itu yang tidak berbakti pada kedua orangtuanya. Apa salahnya memberikan sedikit saja uang dari kekayaannya yang banyak itu. Dasarnya pelit medit" kesal Mama Irene.


Saat mereka msih berbincang dan membahas mengenai Arlin, tiba-tiba saja mata ketiganya membulat saat melihat kebawah rumah pohon. Disana sudah ada polisi mengepung rumah pohon dari bawah bahkan dengan mengacungkan pistolnya. Mereka bertiga hanya bisa diam membeku ditempatnya.


"Jangan bergerak" sentak salah seorang polisi.


Yang berada di rumah pohon itu sudah ada pihak kepolisian yang siap menangkap ketiganya. Sedari tadi mereka sudah melihat bagaimana gerak-gerik ketiganya. Sehingga saat kondisinya sudah tepat, mereka pun langsung mengepung hutan itu terutama pada bagian rumah pohon. Mereka bertiga masih mencari area sekitar yang kiranya lengah dan bisa untuk dibuat kabur.


Ketiganya saling lirik kemudian menganggukkan kepalanya seakan tengah berdiskusi. Mereka akhirnya segera turun dari rumah pohon itu dengan Papa Madin yang paling depan diikuti oleh Mama Irene dan Melinda. Terlihat sekali kalau mereka panik dan khawatir karena badannya bergetar hebat kini.


Dengan mengangkat kedua tangannya keatas setelah sampai dibawah rumah pohon, ketiganya kini memandang kearah semuanya dengan sedikit menundukkan kepalanya. Mereka kini tengah mencari kesempatan untuk kabur namun melihat penjagaan yang begitu ketat membuat nyalinya menciut.


"Segera borgol tangannya. Kalau perlu kakinya sekalian biar nggak kabur. Mereka udah saling lirik sedari tadi, pasti ketiganya mau cari cara buat kabur" ucap salah satu polisi.


Beberapa polisi merangsek maju kedepan kemudian memasangkan borgol pada kedua tangan pelaku. Mereka sudah tak bisa berkutik apalagi mendengar perintah juga ancaman yang dilayangkan oleh salah satu polisi itu. Mereka kini pasrah kalau sampai harus mendekam di penjara.

__ADS_1


"Pak, tapi kita tuh nggak salah lho. Ngapain sih pakai ditangkap segala" ucap Melinda tak terima.


"Kalian sudah mencemarkan nama baik seseorang bahkan membuat cerita palsu. Lalu uang donasi itu bagaimana? Jangan suka membela diri kalau tak punya bukti kongkrit" ucap salah satu polisi.


Tentunya ucapan polisi itu membungkam Melinda yang ingin membela dirinya sendiri. Walaupun Melinda itu tidak masuk dalam kejahatan kedua orangtuanya, namun gadis itu menghalang-halangi penangkapan dan pemeriksaan. Bahkan aksinya juga membahayakan oranglain saat menghentikan mobil dengan dadakan seperti tadi.


Mereka bertiga digiring masuk dalam mobil polisi tanpa perlawanan apapun. Karena percuma jika melawan, semua polisi sudah siap dengan senjatanya masing-masing. Sedangkan untuk mobil pelaku, segera saja dibawa oleh salah satu polisi untuk dijadikan barang bukti.


***


Berita mengenai penangkapan pelaku itu langsung saja membuat semuanya heboh. Semua awak media dan massa yang tadinya berkerumun di gedung yang digunakan untuk konferensi pers dan rumah ketiganya segera membubarkan diri. Mereka berbondong-bondong pergi ke kantor polisi untuk menuntut pertanggungjawaban.


Hal ini memang sudah dikonfirmasi oleh kepala kepolisian setempat saat ditanya oleh awak media. Semuanya sedikit menghela nafas lega karena setidaknya mereka tak lagi berkeliaran diluar tanpa ada penjagaan.


"Benar. Sudah tertangkap, sedang dalam perjalanan menuju kantor. Tapi kami belum tahu pastinya jam berapa akan sampai" ungkap kepala kepolisian setempat.


Arlin dan keluarganya yang melihat tayangan berita itu juga tak kalah bahagianya. Tentu hal ini bisa membuat mereka sedikit menghela nafasnya lega walaupun setelahnya harus pusing menghadapi drama ketiganya. Arlin yakin kalau keluarganya itu takkan berhenti berdrama sampai mereka bisa bebas dari tuntutan. Beruntung semua orang kini sudah sadar dan berbalik menyerang mereka.

__ADS_1


__ADS_2