Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Kesal


__ADS_3

"Itu dia beneran sakit atau hanya akting saja?" tanya Aldo dengan sinisnya.


Aldo kini sudah sampai di salah satu rumah tahanan yang menjadi tempat tinggal Papa Madin selama beberapa tahun ke depan. Aldo yang memang dihubungi oleh salah satu polisi sebagai penanggungjawab dari Papa Madin, mereka mengatakan kalau beliau sakit dan masuk rumah sakit.


Tentu saja Aldo tak mudah percaya dengan apa yang diucapkan oleh polisi tersebut. Bukannya meragukan salah satu aparatur negara itu, hanya saja ia tak mau termakan akting dari Papa Madin. Tentu saja Also harus waspada, apalagi Papa Madin itu dulunya adalah Raja Drama hingga viral dimana-mana.


"Pak Madin memang benar sakit, Pak Aldo. Kami sudah memeriksakannya di rumah sakit. Beliau juga langsung dirawat di sana karena penyakit diabetes dan jantung yang dideritanya" ucap salah satu polisi menjelaskan.


"Jantung? Bagaimana bisa penyakit itu kambuh? Bukannya kalau kelelahan atau mendapatkan kabar mengejutkan yang tiba-tiba ya biasanya bakalan kambuhnya" tanya Aldo yang memang sedikit tahu dengan penyakit itu.


"Ya. Pak Madin mendapatkan kabar kalau istrinya memilih untuk meninggalkannya karena sudah tak punya apa-apa. Apalagi saat ini keduanya juga tengah menjalani hukuman di balik jeruji besi. Hal itu membuat Pak Madin terkejut dan sempat merasakan sakit pada dadanya" ucap polisi itu.


Aldo hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia tak peduli dengan masalah yang terjadi pada kedua mantan mertuanya itu. Lagi pula Arlin yang memasukkan mereka ke penjara, jadi ia tak mau mengotak-atiknya. Aldo pun diantar oleh salah satu polisi ke salah satu ruangan khusus untuk tahanan yang sakit.


"Apa kabar, mantan papa mertua?" sapa Aldo dengan raut wajah datarnya berdiri di samping brankar milik Papa Madin.


Papa Madin yang tadinya hanya melamun dan melihat langit-langit ruangan itu pun kemudian mengalihkan pandangannya. Papa Madin terlihat biasa saja melihat kehadiran Aldo di sini. Pasalnya polisi memang sudah memberitahunya kalau akan menghubungi salah satu keluarganya.


Papa Madin yakin kalau polisi itu akan menghubungi Aldo. Pasalnya Arlin sudah tiada dan istri juga anak tirinya sedang berada di dalam jeruji besi. Waktu Arlin meninggal pun sebenarnya Papa Madin ingin sekali datang dan melihat anaknya untuk terakhir kalinya. Namun tak diperbolehkan oleh Aldo karena itu hanya akan membuat Kei dan keluarganya terluka saja.


"Seperti yang kau lihat, nak. Bagaimana dengan keadaan Kei?" tanya Papa Madin yang sudah terlihat baik-baik saja walaupun masih pucat.


"Baik. Kei akan baik-baik saja asalkan tanpa kehadiran anda" ucap Aldo dengan ucapan pedasnya.

__ADS_1


Papa Madin hanya menyunggingkan senyum tipisnya mendengar apa yang diucapkan oleh Aldo itu. Ia tahu kalau Aldo itu sangat membencinya, apalagi berulangkali ingin menghasut dan mencelakai Arlin. Jadi pantas saja kalau Aldo tak peduli terhadap papa kandung dari istri yang dicintainya itu.


"Sampaikan salam sayangku pada Kei" ucap Papa Madin yang seakan tak peduli dengan ucapan pedas Aldo.


"Kei tidak butuh kasih sayang anda" ucap Aldo dengan tatapan sinisnya.


"Sepertinya anda sudah sehat, jadi tak perlulah kalau saya jauh-jauh ke sini untuk menjenguk. Oh ya... Minta saja sama polisi untuk menghubungi saya kalau anda sudah pergi jauh" lanjutnya.


Bahkan tanpa memikirkan perasaan Papa Madin, Aldo langsung keluar dari ruangan itu. Ia meninggalkan Papa Madin yang sedikit shock dengan ucapan Aldo. Sepertinya Papa Madin sedikit menyadari atas kesalahannya di masa lalu sehingga membuat Aldo benci sekali padanya.


"Mungkin ini karma karena aku dulu selalu menyakiti anakku sendiri. Di usiaku yang sudah tua seperti ini, justru tak ada yang menemani. Bahkan istri yang dulunya mencintaiku malah ingin meninggalkanku. Miris sekali hidupku, hidup di penjara dan saat keluar nanti tak punya apa-apa terutama pendamping hidup" gumam Papa Madin sambil tersenyum miris.


***


"Asyik.... Baitlah. Ayo ajak Ante Pina buwat alan-alan ke mall. Tita matan dan beli mainan banak-banak" seru Kei yang sudah merencanakan sesuatu saat di mall nanti.


Lili diam-diam hanya menahan tawanya karena berhasil membujuk Kei agar nantinya meminta Fina membayar jajan mereka. Kebetulan kini Fina sedang masuk dalam kelas. Sedangkan Lili dan Kei menunggu di taman kampus.


Tak berapa lama, Fina keluar kelas kemudian mendekat kearah Lili dan Kei yang tengah bercanda. Fina merasakan aura-aura tidak enak saat melihat tatapan Kei yang mengarah kepadanya itu. Apalagi Lili terlihat menahan senyumnya.


"Ante Pina, ayo ke mall. Beyi matanan nenak-nenak dan mobil-mobilan" seru Kei yang langsung mengutarakan keinginannya itu.


"Aduh... Tante nggak bawa dompet nih kalau ke mall. Mending kita ke warung depan aja makan gorengan" ucap Fina sambil melirik sinis kearah Lili.

__ADS_1


Fina seakan tahu kalau Lili ini yang mengajarkan Kei untuk mengajaknya ke mall. Ia yakin kalau di sana nanti, Lili akan membeli sesuatu yang membuatnya harus membayar semuanya. Ia sebenarnya tak masalah kalau harus membayar semuanya, tapi kini uangnya sedang dibatasi oleh kedua orangtuanya.


"Wah... Di walung ndak ada mainan lho, Ante Pina. Ndak celu..." ucap Kei yang seakan kecewa dengan ucapan dari Fina itu.


"Yah... Gimana dong? Tante Fina nggak bawa dompet beneran nih" ucap Fina yang sedikit berbohong.


Padahal Fina membawa dompet, namun uangnya itu tentu tak cukup kalau untuk membeli mainan dan makanan di mall. Mereka nanti pasti akan main pada beberapa wahana mainan yang tidak bisa kalau tak menggunakan uang. Namun tiba-tiba saja Fina langsung mendapatkan ide berlian.


"Tante Fina punya ide" serunya dengan mata yang berbinar cerah.


"Ide apa, ante?" tanya Kei dengan tatapan penasarannya.


"Tante Lilimu itu bawa banyak uang lho. Gimana kalau kita minta Tante Lili bayarin?" seru Fina dengan senyum puasnya.


Sedangkan Lili yang melihat hal itu hanya bisa memelototkan matanya tak percaya. Bahkan Lili menatap sinis Fina yang kini tersenyum penuh kemenangan. Sungguh Lili kesal karena idenya yang ingin menjahili Fina malah berbalik kepadanya.


"Wah... Ide yang badus. Ante Lili, boleh ya?" ucap Kei sambil mengedip-ngedipkan matanya kearah Lili.


Tentu saja Lili merasa gemas dengan tingkah anak dari Aldo ini. Akhirnya Lili hanya bisa pasrah saja mendengar permintaan dari Kei. Fina pun langsung merangkul bahu temannya yang tampak lesu itu dengan antusias.


"Rasakan... Senjata makan tuan, bestie" bisik Fina sambil terkekeh pelan.


Lili menatap sinis kearah Fina kemudian melepas paksa rangkulan temannya itu. Lili langsung berdiri dari duduknya kemudian menggandeng tangan Kei untuk menuju parkiran.

__ADS_1


"Oyy... Jangan tinggalin aku dong. Kalau dapat traktiran gratis gini, siapa yang nolak" ucap Fina yang langsung berlari mengejar Lili dan Kei.


__ADS_2