
Kei diajak berkeliling di perusahaan itu dengan wajah yang begitu antusias. Bahkan Kei beberapa kali menanyakan tentang beberapa dokumen yang dikerjakan oleh karyawannya. Kei terlihat begitu antusias dengan dengan lembaran kertas itu walaupun mungkin bocah kecil itu tak mengetahui tentang hal yang bisa menghasilkan uang itu.
"Ini bica kelual uwangna?" tanya Kei dengan polosnya.
"Bisa. Kertas ini bahkan bisa jadi bangunan yang megah kalau bisa merealisasikannya" ucap Papa Tito sambil tersenyum tipis.
"Mana bica? Opa ohong tan? Talo adi dangunan ya ndak bica dong. Bicana talo adi lumah-lumahan atau wawat telbang dali keltas tu" protes Kei tak terima.
Papa Tito yang hendak menyautinya lebih memilih diam. Pasalnya mau dijelaskan seperti apapun, nanti hasilnya juga Kei tak mengerti sama sekali. Papa Tito langsung membawa cucunya pergi dari sana kemudian mereka berlalu keluar menuju ke ruang CEO.
Aldo yang memang tak mengikuti mereka dan ada di ruangannya pun langsung mengalihkan pandangannya kearah pintu yang terbuka. Aldo tersenyum melihat anaknya yang kini lebih ceria walaupun hanya bermain di perusahaan. Bahkan di ruangan ini, bau parfum Arlin masih terasa begitu menyengat hingga membuat nyaman Aldo.
"Kok tayak bau palfumna mama ya? Huh... Adi tangen tama mama" ucap Kei yang memejamkan matanya dan menghirup udara yang ada di ruang CEO itu.
Aldo dan Papa Tito yang mendengar ucapan lirih dari Kei pun segera saja mengalihkan pandangannya. Mereka tak menyangka kalau anaknya masih mengingat bagaimana bau parfum dari mamanya. Mereka tak ingin terlihat lemah atau menangis di depan Kei yang kini mungkin jauh lebih terluka hatinya.
"Ayo kita pulang" ajak Aldo untuk mengalihkan perhatian dari Kei.
"Iya, ayo. Kei cuda lapal, pengen temu oma duga" ucap Kei dengan antusias.
Aldo dan Papa Tito langsung menganggukkan kepalanya mengerti. Beruntung Kei mudah dialihkan perhatiannya sehingga segera saja mereka berdua keluar dari ruangan itu. Semakin lama berada di ruangan itu membuat Aldo dan Papa Tito sesak perasaannya. Pasalnya mereka akan selalu teringat dengan Arlin.
***
__ADS_1
"Mama, aku udah mulai masuk kuliah kapan?" tanya Lili saat kini tengah duduk di ruang keluarga bersama mamanya.
"Besok senin. Mama dan papa sudah urus semuanya, juga administrasi kuliah. Mulai sekarang, kamu tak lagi menggunakan beasiswamu. Pokoknya semua ditanggung papa dan mama, kamu tinggal selesaikan urusan dengan dosen pembimbing skripsi. Semua kelulusanmu kini tergantung dari skripsimu" ucap Mama Ningrum sambil tersenyum.
Lili yang mendengarnya hanya menganggukkan kepalanya lesu. Ia tak menyangka kalau harus berurusan kembali dengan dosen pembimbingnya itu. Ia pikir kalau kabar dari orangtuanya itu akan membuat dosen pembimbingnya ganti, ternyata tetap sama saja. Ia ingin sekali mengajukan penggantian dosen pembimbing, walaupun persyaratannya begitu rumit.
Tatapannya saat bertemu saja sudah mengerikan apalagi harus bertemu secara intens. Apalagi ditambah dengan masalah Rio yang membuat Arlin meninggal. Sepertinya akan sangat susah bagi dirinya untuk menyelesaikan skripsinya. Aldo pasti akan mempersulit dirinya untuk segera lulus.
"Apa aku mengajukan ganti judul dan dosen pembimbing skripsi saja ya, ma?" ucap Lili yang meminta saran dari mamanya.
"Sepertinya tidak perlu, nak. Kamu saja sudah lumayan lama berkutat dengan judul itu bahkan materinya sudah siap. Masa iya kamu mau mengulangnya lagi? Oh jangan lupa kalau dosen pembimbing skripsimu itu adalah sosok yang paling cerdas di kampus. Bahkan dia masuk dosen muda terbaik" ucap Mama Ningrum dengan antusias.
Sepertinya saat di kampus, Mama Ningrum mendapatkan banyak informasi tentang dosen idola itu. Pasti beberapa dosen tentu akan memuji Aldo yang memang cerdas dan berkompeten. Mereka takkan menceritakan tentang bagaimana killernya Aldo jika sudah berhubungan dengan skripsi.
"Baiklah, kalau gitu biar Lili menyiapkan beberapa revisi yang harus dilanjutkan" ucap Lili yang membuat Mama Ningrum menganggukkan kepalanya.
Lili berjalan masuk dalam kamarnya dengan langkah yang gontai. Ia merasa hidupnya tak tenang jika harus berhadapan dengan Aldo. Bagaimanapun juga, selama beberapa minggu menjadi Arlin itu membuat Aldo mempunyai tempat tersendiri di hatinya.
"Astaga... Jangan-jangan aku udah jatuh cinta sama dia" ucap Arlin sambil mengacak rambutnya frustasi saat dia sudah masuk dalam kamarnya.
Lili pun memilih tidur daripada harus memikirkan perasaannya dengan Aldo. Ia tadi memang sengaja berpamitan masuk dalam kamar karena malas membahas kuliahnya dan juga pujian dari Mama Ningrum pada Aldo. Ia pun juga masih sakit hati dengan ucapan pedas Aldo saat bertemu dengannya di depan kantor polisi.
***
__ADS_1
Hari yang paling dibenci oleh Lili kini telah tiba. Hari ini merupakan hari dimana ia mulai masuk kuliah. Hanya ada rasa malas tanpa semangat yang ditunjukkan oleh Lili. Lili bahkan masih tak menyangka harus melakukan bimbingan skripsi dengan Aldo. Selama beberapa hari ini, ia sudah menyiapkan hati dan mentalnya agar mampu menghadapi Aldo. Namun tetap saja ia begitu khawatir dan nyalinya menciut.
"Bismillah... Semoga saja itu dosen nggak buat hidupku makin susah" gumam Lili meyakinkan diri.
Setelah menenangkan dirinya, Lili segera keluar dari kamarnya dengan membawa tas ransel miliknya. Tas ransel berisi laptop dan lembaran kertas skripsinya yang terakhir kali minta direvisi oleh Aldo. Ia juga tak yakin kalau skripsinya ini akan diterima dengan cepat, pasti ada saja kesalahannya.
"Kok lesu gitu sih, nak?" tanya Mama Ningrum.
"Apa masih ada yang sakit?" tanya Papa Dedi dengan sedikit khawatir.
"Enggak kok, pa. Lili cuma ngantuk aja, makanya kelihatan lesu" ucap Lili mengelak.
Mama Ningrum dan Papa Dedi menganggukkan kepalanya mengerti. Diam-diam keduanya menghela nafasnya lega karena ternyata anaknya itu sudah tak kesakitan lagi. Mereka pun segera saja sarapan bersama dengan suasana penuh kekeluargaan.
Setelah sarapan, Lili berpamitan kepada mamanya untuk berangkat kuliah. Hari ini Lili akan diantar oleh Papa Dedi karena pria paruh baya itu belum bisa meninggalkan anaknya dalam pantauan. Papa Dedi langsung saja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kalau ada yang gangguin kamu, langsung bilang sama papa. Biar papa tonjok satu-satu" ucap Papa Dedi sambil terkekeh pelan.
"Hati-hati encok tuh tangan papa kalau mau nonjok orang yang masih muda" ucap Lili dengan meledek papanya.
"Jangan salah, dulu papa waktu muda seorang atlet tinju lho. Lihat nih otot tangan papa" ucap Papa Dedi dengan memperlihatkan sebelah lengan tangannya.
Lili hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan papanya yang terlalu percaya diri. Ia kini sedikit bahagia karena bisa tertawa hanya karena hal kecil, apalagi ini karena candaan papanya. Papa Dedi tersenyum melihat anaknya bisa tertawa begitu lepas seperti itu.
__ADS_1