
"Mama mana?" tanya Kei yang baru saja memasuki mansion keluarganya.
Kei yang baru saja pulang sekolah pun langsung berlari memasuki mansionnya. Pasalnya ia mendengar dari omanya kalau sang mama dan papanya berada di rumah. Tentu saja itu membuat Kei kesal karena orangtuanya itu sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya di sekolah.
Seharusnya jika mereka tidak bekerja atau pergi, wajib untuk datang ke sekolah. Namun keduanya mengingkari janjinya. Kei yang kesal pun segera saja menggedor pintu kamar sang mama.
Dugh... Dugh... Dugh...
"Mama..." seru Kei karena tak mendapatkan jawaban dari beberapa maid yang ia lewati.
Kunci pintu kamar orangtuanya juga masih belum terbuka. Tentu saja akibat dari kejadian semalam, membuat keduanya sama sekali belum bangun. Bahkan keduanya tidak keluar untuk sarapan bersama tadi pagi.
"Mama, Kei malah ya cama mama talo ndak kelual" seru Kei lagi.
Kei terus saja menggedor pintu kamar orangtuanya. Sedangkan Mama Nei hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah cucunya itu. Pasalnya Kei sama sekali tak sabaran dalam mengetuk pintu membuat tangan bocah kecil itu lecet.
"Kei, ganti baju dulu yuk. Biar oma yang mengetuk pintu kamar orangtuamu" ucap Mama Nei.
Mama Nei segera menarik lembut tangan cucunya itu. Ia tak ingin kalau tangan cucunya terluka akibat dari aksinya itu. Setelah menyerahkan sang cucu pada ART, Mama Nei segera kembali menuju kamar anaknya.
"Lili, Aldo... Keluar kalian. Makan, dicari Kei. Nanti dia marah sama kalian lho" seru Mama Nei dengan menggerakkan handle pintu kamar keduanya.
***
"Mas, bangun dong. Itu mama udah teriakin lho. Mana tadi aku sempat dengar Kei manggil lagi. Ini sudah siang, lihat tuh kaca yang tertutup gorden saja udah terang gitu" ucap Lili yang membangunkan suaminya.
Sebenarnya Lili mendengar panggilan dari Kei dan Mama Nei, hanya saja Aldo itu masih memeluknya dengan erat. Lili tak bisa bergerak bebas karena pelukan yang begitu erat. Bahkan keduanya juga masih dalam keadaan polos dibalik bawah selimut.
__ADS_1
"Bentar, sayang. Aku masih ngantuk dan capek ini" ucap Aldo memberikan alasan.
"Semalam aja minta berhenti nggak mau, sekarang ngeluh capek. Buruanlah bangun. Aku lapar ini" ucap Lili menggerutu kesal.
Mendengar ucapan istrinya yang kelaparan, sontak saja Aldo langsung melepaskan pelukannya. Lili menghela nafasnya lega kemudian melihat kearah jam dinding yang terpasang. Matanya melotot saat melihat jam itu menunjukkan pukul setengah 1 siang.
"Astaga... Pantas saja aku lapar. Ini udah jam makan siang lho" serunya.
Aldo yang mendengar ucapan istrinya juga langsung melihat kearah jam dinding yang terpasang. Matanya menatap tak percaya kearah jam dinding itu. Ia meringis pelan melihat waktu yang sudah menunjukkan siang hari.
Lili segera memunguti pakaiannya yang berada di dekatnya kemudian memakainya kembali dengan asal. Lili langsung masuk kamar mandi dengan tertatih dan menahan rasa sakitnya. Sedangkan Aldo merasa kasihan pada istrinya namun ia harus menemui mamanya sebentar.
"Nanti kalau kesusahan buat keluar dari kamar mandi, teriak aja. Aku mau temui mama dulu biar nggak gedor-gedor pintu terus" seru Aldo dari luar kamar mandi.
"Iya" jawab Lili dari dalam kamar mandi.
Aldo langsung membuka pintu kamarnya dan terlihat kalau Mama Nei sudah berkacak pinggang. Aldo hanya meringis pelan melihat mamanya seperti seekor singa yang siap menerkamnya. Ia yakin kalau akan diceramahi panjang lebar oleh mamanya itu.
"Kamu apakan menantu mama? Main sekap semalaman hingga siang masih belum keluar. Emangnya kamu gempur semalaman apa?" tanya Mama Nei dengan kesal.
"Enggak, ma. Kita cuma lakuin beberapa kali aja kok. Ini kita bangun siang juga karena kecapekan. Lagian sekali-kalilah nggak kerja sama nungguin Kei sekolah. Kan sudah ada nenek dan omanya" ucap Aldo dengan santai.
"Dih... Enak benar ya kamu. Dipikir kami ini babysitternya apa? Kei itu ingin ditemani kedua orangtuanya. Apalagi besok Lili mulai sibuk lho, pikirkan anakmu juga" ucap Mama Nei dengan ketus.
Mama Nei segera saja pergi dari hadapan Aldo yang hanya bisa cengengesan. Aldo pun segera masuk kembali ke kamar dan merapikan tempat tidurnya. Bahkan Lili sudah selesai mandi dan segera masuk dalam walk in closet. Setelah melihat Lili selesai, Aldo yang bergantian masuk kamar mandi.
***
__ADS_1
"Mama napa balu banun?" tanya Kei yang sangat penasaran dengan mamanya itu.
"Mama sudah bangun sedari pagi kok. Cuma badan mama agak kecapekan saja, makanya lebih memilih istirahat di kamar. Maafkan mama ya Kei, nggak nungguin kamu di sekolah" ucap Lili dengan tatapan bersalahnya.
"Ndak papa, mama. Yang penting mama ndak cakit. Talo capek dan cakit, langcung istilahat caja mama. Kei kan nanak becal, cudah bica ditindal-tindal" ucap Kei dengan bangganya.
Melihat semangat dan rasa percaya diri dari Kei itu membuat Lili merasa sedikit bersalah. Apalagi ia memberikan alasan bohong kepada anaknya. Namun ia juga tak mungkin mengatakan yang sesungguhnya kalau Aldo yang menyekapnya semalaman.
Lili menganggukkan kepalanya kemudian memeluk Kei dengan erat. Setelah selesai bersiap tadi, Lili langsung saja keluar kamar untuk menemui Kei. Ternyata Kei sedang makan disuapi oleh Mama Nei. Lili langsung mengambil alih peran itu agar Mama Nei istirahat.
"Kei juga harus sehat. Kita semua harus sehat dan banyak istirahat" ucap Lili.
"Kei istilahat telus malah capek, mama. Kei celalu inin main lobot dan mobil-mobilan" ucap Kei sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tapi harus istirahat, Kei. Jangan main terus. Mana Kei juga harus belajar lagi" ucap Lili.
Kei hanya menganggukkan kepalanya setuju. Tentu saja ia akan menuruti keinginan mamanya itu. Setelah menghabiskan makanannya, Lili dan Kei segera ke ruang keluarga. Mereka melihat tontonan TV dengan kompaknya.
"Papa ndak kelja tuh juda talna capek?" tanya Kei yang melihat papanya melangkah mendekat kearahnya.
Aldo yang mendengar pertanyaan anaknya itu langsung melihat kearah Lili. Lili menganggukkan kepalanya membuat Aldo juga begitu. Tentu saja Kei percaya dengan ucapan papanya yang menyebalkan itu.
"Papa capek banyak duit soalnya" ucap Aldo dengan percaya dirinya.
"Talo papa capek duitna banak, mending dicumbanin ke olang-olang ndak mampu" ucap Kei memberi ide.
"Iya tuh, pa. Bagikan ke orang-orang nggak mampu. Kaya kita gini, siap menerima sumbangan uang buat beli es krim dan makanan" ucap Lili sambil menaikturunkan alisnya.
__ADS_1
Kei menganggukkan kepalanya setuju dengan Lili. Ia juga butuh uang untuk membeli mainan dan makanan kesukaannya. Bahkan Aldo yang biasanya sudah memberinya jatah liburan dan beli mainan, saat ini ia belum mendapatkannya.