
Kei sudah bangun sejak tadi, namun memilih tetap berada di atas kasur karena ada Lili yang masih tertidur pulas di sana. Bahkan sedari tadi Kei hanya terus memandang wajah Lili sambil mengelus lembut pipinya.
Ternyata Lili juga ikut tertidur pulas saat melihat Kei tidur. Tak lupa juga untuk Kei yang benar-benar pulas dan memeluk Lili dengan posesif. Tangannya terus memeluk erat tubuh Lili yang bahkan hanya bisa menyentuh seperempatnya saja.
"Tantikna Ante Lili. Talo umulna cama tayak Kei, ukan ladi dadi calon mama api pacalna atu" gumam Kei sambil terkekeh geli.
Sebenarnya Lili sedari tadi sudah bangun apalagi saat merasakan kalau Kei tengah menatap dirinya. Namun saat ia membuka sedikit matanya, Kei masih terus menatapnya intens dengan raut wajah lucunya. Hal ini membuatnya memilih untuk tetap berpura-pura masih tertidur pulas.
Apalagi setelah mendengar gumaman pelan dari Kei, dirinya sebisa mungkin menahan tawanya. Ada-ada saja ucapan dan tingkah Kei ini. Darimana pula Kei ini bisa mengetahui tentang pacaran segala di usianya yang masih kecil ini.
"Ante Lili, kecayanan Kei. Angun dong. Udah ciang lho, Kei lapal" ucap Kei dengan menggoyangkan bahu Lili.
Lili yang mendengar ucapan Kei kalau dirinya kelaparan pun segera membuka matanya. Ia sampai melupakan kalau Kei memang sudah sejak pagi berada di sini sehingga mungkin belum makan siang. Kei yang melihat Lili langsung terbangun pun langsung menyunggingkan senyum manisnya.
"Wah... Kei pintal kalna belhacil banunin Ante Lili engan epat" seru Kei bertepuk tangan.
"Lucunya..." gemas Lili yang kemudian menciumi kening Kei berulangkali.
Kei pun senang saja diciumi keningnya karena ia merasakan kasih sayang besar dari Lili kepadanya. Setelah selesai dengan acaranya di atas kasur, Lili segera saja bangun dari rebahannya kemudian menggendong Kei.
"Ayo kita makan siang, mungkin nenek sudah masak banyak makanan untuk kita" ucap Lili yang langsung mengajak Kei keluar dari kamarnya setelah membersihkan diri.
"Wah... Kei ndak cabal buwat matan banak-banak" seru Kei membuat Lili hanya bisa terkekeh pelan.
__ADS_1
Setelah keluar dari kamarnya, Lili segera saja menuju arah ruang makan. Saat sampai di sana, terlihatlah ada Mama Ningrum yang tengah menata semua makanan di atas meja makan. Lili melihat jam dinding yang ada di ruang makan itu yang ternyata sudah menunjukkan jam 12 siang. Ternyata tepat sekali untuknya dan Kei datang ke ruang makan ini.
Mama Ningrum juga sudah mengetahui tentang adanya Kei di rumahnya ini. Tadi ia diberitahu oleh salah satu ART nya mengenai kedatangan Aldo bersama Kei. Awalnya Mama Ningrum terkejut namun ia sedikit menghela nafas lega karena setelah itu Aldo langsung pergi dan hanya ada Kei di kamar.
"Siang, ma" sapa Lili pada mamanya.
Mama Ningrum yang mendengar suara anaknya langsung menghentikan kegiatannya. Ia melihat kearah anaknya yang sedang menggendong Kei. Kei juga tersenyum malu-malu kearahnya dan itu membuatnya gemas sendiri. Mungkin Kei juga masih malu ketika bertemu dengan orang asing dan sedikit takut.
"Siang juga, nak. Siang, Kei" ucap Mama Ningrum menyapa Kei.
Kei yang disapa hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Mereka segera saja duduk di kursi dengan Kei berada di atas pangkuan Lili. Lili segera mengambil makanan setelah diberikan instruksi oleh mamanya itu. Mama Ningrum senang karena melihat kedekatan Lili dan Kei yang sudah seperti anak dan ibu itu.
"Makan yang banyak, Kei. Ini makanan, nenek buat khusus untuk kamu lho" ucap Mama Ningrum sambil tersenyum.
"Banak banet, nek. Pelut Kei tayakna ndak ukup talo makan cemuana" ucap Kei yang langsung melihat kearah perutnya yang kecil itu.
Kei hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Kei makan dengan disuapi oleh Lili. Makannya begitu lahap, padahal sedari kemarin ia sama sekali malas untuk makan. Lili pun dengan telatennya menyuapi dan mengambilkan makan untuk Kei hingga bocah kecil itu kenyang.
***
Setelah makan siang berakhir, Lili mengajak Kei dan Mama Ningrum untuk berada di belakang rumah. Rerumputan hijau dengan banyaknya pohon yang ada di sana membuat Lili betah berada di belakang rumah itu. Apalagi di sana ada wahana permainan untuk anak kecil.
Ayunan dan seluncuran tersedia di sana karena memang Mama Ningrum dan Papa Dedi sangat menyukai dua permainan itu. Walaupun untuk anak kecil, namun dengan besarnya dua permainan itu tentu bisa digunakan juga buat orang dewasa.
__ADS_1
"Wah... Kei mawu aik ayun" seru Kei yang langsung berlari kecil menuju ayunan itu.
Lili dan Mama Ningrum hanya mengikuti dari belakang. Keduanya tersenyum karena melihat antusiasnya Kei saat melihat dua buah wahana permainan itu. Bahkan Kei langsung mencoba duduk di atas ayunan itu namun tak bisa karena terlalu tinggi.
"Ante, nek... Dantuin Kei dong. Cucah kali ini aikna" seru Kei sambil melambaikan tangannya kearah Lili dan Mama Ningrum.
Lili pun mempercepat langkahnya untuk segera menuju pada Kei. Setelah sampai di sana, Lili langsung menggendong Kei kemudian meletakkannya di kursi ayunan itu.
"Pegangan, Kei" titah Lili pada Kei.
Kedua tangan Kei langsung memegang erat pegangan besi yang ada di kanan dan kirinya ia duduk. Lili mengayunkan ayunan itu dengan pelan membuat Kei memekik senang. Sungguh ia tak menyangka kalau akan bermain seperti ini karena di rumahnya hanya ada permainan lego dan mobil-mobilan saja.
"Wah... Celu. Kei mau inggal di cini caja bial bica main ni telus. Boleh tan, ante?" seru Kei saat merasa tubuhnya melayang.
"Harus ijin dulu sama papa, oma, dan opamu dulu, Kei" seru Lili agar Kei bisq mendengar ucapannya.
"Kei batalan inta ijin tok cama meleka. Ante enang caja" seru Kei.
Keduanya saling berseru karena memang takkan terdengar jika hanya berbincang biasa. Setelah puas dengan permainan ayunan itu, Kei beralih pada papan seluncuran. Di atas sudah ada Lili yang membantu Kei naik, sedangkan di bawah ada Mama Ningrum yang siap menangkap bocah cilik itu.
"Kei meluncur..." seru Kei dengan merentangkan kedua tangannya.
Tawa Kei benar-benar lepas, seakan tak ada kesedihan dalam hidupnya. Ia tak menyangka kalau hanya dengan permainan sederhana ini saja sudah membuat Kei bahagia. Mama Ningrum dan Lili pun tak hentinya menyunggingkan senyuman manisnya. Keduanya juga bahagia melihat Kei bisa seperti ini.
__ADS_1
Ketiganya seperti tak mempunyai beban apapun dalam kehidupannya. Tanpa mereka bertiga sadari, sejak tadi ada seorang laki-laki yang tengah mengintip di balik pintu belakang rumah. Dia adalah Papa Dedi yang sengaja pulang untuk makan siang namun malah mendapati anak dan istrinya itu berada di belakang rumah.
"Bahagia terus, kalian" gumam Papa Dedi sambil tersenyum.