Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Cuek


__ADS_3

Lili menggendong Kei saat mulai masuk dalam antrian. Setelah cukup lama mengantri, akhirnya giliran Kei dan Lili yang memesan. Mereka memesan beberapa makanan yang disukai untuk menu makan malam keduanya. Bahkan nereka melupakan Aldo yang mendelik kesal karena tak dipesankan makanan apapun.


"Hei... Sekalian saya dong. Masa kalian pesan cuma berdua saja" kesal Aldo yang kini sudah berada di samping keduanya.


"Mbak, tolong antar ini ke meja sana ya. Oh ya jangan lupa, untuk bayarnya nanti dibayar sama orang yang ada di sebelah saya ini. Dia suami saya kok" ucap Lili sambil menaikturunkan alisnya menggoda Aldo.


Lili bahkan langsung melenggang pergi dari sana kemudian duduk di dekat pintu. Sedangkan Aldo hanya bisa menghela nafasnya pasrah karena ternyata ia hanya dimanfaatkan oleh Lili. Lili menggunakan nama Aldo sebagai suaminya agar dibayari makan.


Dengan pasrah, Aldo mengeluarkan dompetnya sambil memesan makanan untuknya. Dibantu oleh beberapa pelayan di sana, Aldo membawakan makanan untuk Lili dan Kei. Aldo menatap sinis Lili dan Kei yang malah asyik bercanda. Padahal ia sudah kerepotan dalam membawa semua makanan yang ada di tangannya.


"Makasih, mbak. Besok lain kali kalau istri saya meminta untuk dibawakan dan dibayarkan makanannya, nggak usah digubris ya" ucap Aldo dengan sedikit menekankan kalimatnya pada saat mengucapkan "istri".


Pelayan itu hanya menganggukkan kepalanya dan menduga saja kalau dua orang itu merupakan pasangan suami istri yang tengah bertengkar. Bahkan Lili seakan cuek dengan apa yang diucapkan oleh Aldo itu. Saat ini posisi mereka sedang tidak berada di kampus, yang pasti status Lili bukanlah mahasiswa dari Aldo.


Hal ini juga yang membuat Lili acuh dan berani pada Aldo. Lagi pula Lili mengucapkan kata suami itu kareha hanya ingin menggoda Aldo saja. Lili yakin kalau Aldo takkan marah di tempat yang terbuka atau umum seperti ini. Ia tahu kalau Aldo sudah emosi, namun tak juga meluapkan emosinya.


"Ayo Kei, kita makan. Makan yang banyak, biar kuat menghadapi kenyataan kalau punya dosen pembimbing skripsi yang galak" ucap Lili dengan sedikit menyindir Aldo.


"Woh... Capa yang dalak, ante? Docen klipsi?" tanya Kei dengan begitu penasaran.


"Itu yang ada di depan kita. Dia kan galak" ucap Arlin sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


Mendengar hal itu tentunya membuat Kei langsung mengalihkan pandangannya kearah depan. Kei langsung melihat kalau di depannya ada sang papa yang menatap sinis kearah Lili. Namun Lili cuek saja dan memilih memakan makanan yang ada di depannya. Bahkan Lili dengan telatennya juga menyuapi Kei.


"Kenapa tingkah ini anak kaya Arlin kalau sudah menyuapi makan Kei? Ah... Jadi kaya dejavu dan pernah merasakan moment seperti ini" gumam Aldo pelan sambil sesekali melirik kearah Lili dan Kei.


Bahkan Lili dan Kei sama sekali tak mengajaknya bicara setelah perdebatan tadi. Mereka seakan mempunyai dunianya sendiri. Keduanya bahkan saling berbincang dan bercanda seakan di sini hanya ada mereka berdua. Aldo pun segera saja makan makanannya hingga tandas.


***


"Kei, tante pamit dulu ya. Ini sudah malam, tante harus segera pulang" ucap Lili berpamitan.


"Huh... Ninep di lumahna Kei aja yuk, ante. Kei cendili lho ini" ucap Kei dengan tatapan penuh harap.


Namun Aldo tentu tak mau mengucapkan kalimat apapun untuk membantu Lili. Ia tak ingin kalau Lili sampai terlalu percaya diri karena mendapatkan bantuan darinya. Ia tak mau dianggap terlalu peduli dan perhatian kepada gadis itu. Padahal kini Lili sudah menatap kearah Aldo untuk meminta bantuan.


"Bukannya tante mau nolak, Kei. Untuk saat ini tante nggak bisa kalau nginap di rumah Kei. Ini karena..."


"Karena dia belum jadi istri papa dan ibu sambung buat kamu Kei" ucap Aldo yang langsung memotong ucapan Lili.


Lili kesal bukan main bahkan langsung menginjak kaki Aldo dengan sangat kencang. Aldo yang kakinya diinjak itu memelototkan matanya dan menahan rasa sakitnya untuk tak berteriak. Pasalnya kali ini dia tidak menggunakan sepatu, melainkan sandal saja datang ke sini.


"Kalau ngomong suka sembarangan. Mana di depan anak kecil lagi" kesal Lili dengan mendesis dan memelototkan matanya.

__ADS_1


Kei yang mendengar ucapan yang dilontarkan oleh papanya itu sontak saja membuat matanya berbinar cerah. Bahkan kini Kei langsung menatap kearah Lili yang langsung gelagapan. Lili tak menyangka kalau pandangan Kei terlihat sangat berharap akan keinginannya yang harus dikabulkan.


"Wah... Adi papa cama ante halus ikah bulu? Talo mau ante inggal cama Kei. Talo ditu, papa dan ante ikah caja bial Kei ada yang emani cepelti bulu caat da mama" ucap Kei dengan melirihkan ucapannya pada kalimat terakhirnya.


Lili gelagapan sendiri mendengar apa yang diucapkan oleh Kei itu. Sedangkan Aldo tak menyangka kalau ucapannya malah menjadi boomerang untuknya. Pasalnya tadi ia hanya berniat untuk menggoda Lili saja namun oleh Kei malah dianggapnya serius.


"Sudah ayo pulang. Besok kan papa harus kerja, jadi kita harus segera pulang dan istirahat" ucap Aldo dengan mengalihkan pembicaraan.


"Ish... Adi tapan papa dan ante ikah? Bial anti Kei dilang cama oma dan opa" seru Kei yang dengan keras kepalanya ingin tetap membahas masalah ini.


"Kami pamit" ketus Aldo berpamitan pada Lili tanpa mengindahkan ucapan dari anaknya.


Bahkan Kei langsung digendong oleh Aldo kemudian diajak berjalan pulang ke rumah. Kei melambaikan tangannya kearah Lili yang masih shock dengan pembicaraan tadi. Sungguh ia tak menyangka kalau candaan itu malah membuatnya pusing.


Lili balas melambaikan tangannya kearah Kei dengan canggung. Ia segera berbalik badan kemudian pergi berlalu untuk pulang. Ia sudah memesan taksi online yang kemungkinan tengah menunggu di depan mall.


"Stress... Bisa depresi ini kalau yang dibahas tentang nikah gitu" gumam Lili dengan bergidik ngeri.


Apalagi menikahnya dengan Aldo yang notabene orang yang tak ia sukai. Walaupun ia pernah merasakan kelembutan dari sosok Aldo, namun itu bukanlah untuk dirinya. Aldo hanya akan takluk atau mempunyai perasaan kepada Arlin. Seandainya Aldo tahu kalau yang waktu itu masuk dalam tubuh Arlin adalah dia, pasti sudah dimaki-maki.


Lili bahkan tak menyadari kalau dirinya tidak berbelanja kebutuhan bulanannya. Perdebatan dengan Aldo, membuat ia lupa semuanya. Terlebih yang diinginkannya adalah segera pulang dan tak bertemu dengan Aldo.

__ADS_1


__ADS_2