Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Poli Anak


__ADS_3

Semakin siang, keadaan di poli anak semakin ramai. Ternyata poli anak sendiri menerima 80 orang pasien setiap harinya. Padahal jam buka praktik dokter hanya dua jam saja. Hal ini membuat keadaan sedikit ruwet.


"Sus, kenapa nggak 40 orang saja? Ini Dokter Linda sudah kuwalahan dan sebentar lagi jam praktik usai lho" tanya Mega pada perawat yang tengah mencari rekam medis pasien.


"Seharusnya ada dua dokter anak di sini, mbak. Tapi yang satunya resign karena harus ikut suaminya ke luar kota. Makanya semua pasien dialihkan pada Dokter Linda. Keadaan ini sudah terjadi 3 bulan ini" ucap perawat yang ada di sana.


"Memangnya belum ada dokter pengganti?" tanya Mega.


"Masih dicari. Apalagi adanya kasus Dokter Adnan kemarin, pihak rumah sakit pasti akan lebih ketat melakukan seleksi" ucap perawat itu.


Mega hanya menganggukkan kepalanya mengerti dan membantu perawat segera menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan Lili harus membantu Dokter Linda memeriksa pasien. Apalagi Lili ini termasuk mahasiswa yang cerdas sehingga cepat tanggap dalam pekerjaan.


"Mbak Lili, istirahat dulu sana. Pasti kamu capek kan harus menenangkan anak-anak yang aktif saat diperiksa" titah Dokter Linda sambil tersenyum.


"Lebih baik Bu Dokter saja yang istirahat. Saya kasihan sama ibu yang sudah tua itu, bahkan itu keringatnya juga dah banyak di dahi. Kalau tahu seperti ini, saya akan mengomeli Pak Aldo agar segera mencari dokter tambahan" ucap Lili dengan sedikit bercanda.


"Saya kan yang bertanggungjawab atas semua ini. Jadi nggak bisa asal istirahat dong, apalagi pasien masih lumayan banyak. Mungkin ada kali ya 30 pasien lagi" ucap Dokter Linda yang langsung mengusap dahi berkeringatnya dengan tisue.


"Kalau begitu biar saya dan Mega yang memeriksanya. Dokter Linda duduk dan menginstruksikan saja sama buat resep. Dokter Linda nggak usah gerak badannya" ucap Lili.


Dokter Linda bingung dengan usulan Lili itu. Ia memang sudah sangat lelah karena memeriksa pasien anak itu mempunyai tantangannya sendiri. Namun tubuh tuanya juga tak dapat dipungkiri sehingga ia membutuhkan waktu mengumpulkan tenaga lagi.


"Baiklah, saya akan duduk di sini dan melihat kalian bekerja. Nanti jika ada kesalahan, saya akan langsung menegurnya" ucap Dokter Linda memutuskan.


Lili menganggukkan kepalanya kemudian segera memanggil Mega agar segera membantunya. Butuh waktu satu jam lebih untuk menyelesaikan sisa pasien yang ada. Lili dan Mega langsung duduk di lantai dengan bersandar tembok setelah menyelesaikan praktiknya di sini.

__ADS_1


"Astaga... Lelah sekali" ucap Mega yang memejamkan mata sambil menghela nafasnya berulangkali.


"Lelah tapi juga senang karena kita bisa mengambil ilmu banyak dari Dokter Linda dan pasien" ucap Lili sambil menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih sudah membantu saya. Seharusnya ini memang tanggungjawab saya. Maafkan telah merepotkan kalian" ucap Dokter Linda dengan tatapan bersalahnya.


"Tak apa, dok. Lebih baik kita merapikan ini semua kemudian keluar untuk makan dan istirahat sebentar" ucap Lili sambil tersenyum.


Semua yang ada di sana menganggukkan kepalanya. Menyetujui saran dari Lili. Setelah semua beres dan ruangan juga jauh lebih rapi, mereka keluar bersama dari ruangan dokter. Mereka memutuskan untuk makan bersama.


"Biar saya yang traktir kali ini. Kemarin saya sudah ditraktir sama suster Mia, jadi hari ini giliran saya" ucap Lili.


"Apa tidak apa, mbak? Soalnya kami tak enak kalau ditraktir sama istri atasan" ucap Mia tak enak hati.


"Nggak papa udah. Lagian status Lili saat ini kan mahasiswa magang atau praktik di sini. Rejeki nggak boleh ditolak" ucap Mega langsung menyela.


Beberapa makanan telah dipesan. Bahkan Mega tak sungkan-sungkan untuk menawarkan yang lainnya makanan. Pasalnya mereka hanya memesan sedikit makanan seperti orang diet.


"Jangan sungkan-sungkan. Mau habis berapa saja pasti akan saya bayar. Lagian habis ini kita butuh tenaga lebih terutama para perawat. Kalau Dokter Linda kan habis ini pulang dan bisa istirahat, sedangkan kalian masih bekerja. Jadi makanlah sepuasnya" ucap Lili yang melihat wajah canggung mereka.


"Terimakasih, Mbak Lilian" ucap Mia sambil tersenyum tipis.


Semua makan dengan lahap bahkan beberapa kali Mega menambah baksonya. Mereka juga berbincang seru untuk menghabiskan waktu istirahat itu. Setelah semua kenyang, segera saja Lili membayar makanan yang dipesan. Mereka kembali pada ruangannya masing-masing untuk melanjutkan tugas.


***

__ADS_1


"Mana sih ini Aldo?" gumam Lili sambil terus melihat kearah jam tangannya.


Apalagi kini Lili hanya ditemani oleh satpam yang berjaga di rumah sakit itu. Mega tadinya ingin menemani, hanya saja ia sudah disuruh pulang orangtuanya. Dua satpam juga begitu teliti dalam mengawasi Lili karena sudah mendapatkan pesan dari Aldo.


"Mbak Lili, lebih baik tunggu di dalam saja. Di situ masih agak panas lho" ajak seorang satpam agar bisa menunggu di dalam pos.


"Iya, mbak. Biar kami yang keluar kalau Mbak Lili nggak nyaman" ucap satpam satunya.


"Nggak usah, pak. Saya di sini saja. Lagian mungkin Aldo sebentar lagi juga bakalan jemput kok" ucap Lili dengan senyum tipisnya.


Padahal Lili tengah menyembunyikan kecemasannya. Ia sedikit takut dengan tak adanya orang dekatnya di sini. Walaupun ada satpam, namun itu juga tak membuatnya tenang. Ingin sekali dirinya tadi mencegah Mega pulang, namun ia merasa tak enak hati.


"Kalau mau tunggu di dalam, bilang saja ya. Kami nggak ngapa-ngapain kok" ucap satpam itu.


Lili hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya mobil milik Aldo memasuki halaman rumah sakit. Lili yang sedari tadi duduk pun langsung saja berdiri. Jendela mobil milik Aldo terbuka menampilkan laki-laki itu yang tersenyum kepadanya.


"Ayo pulang. Maaf ya karena terlambat jemput. Tadi ada masalah sedikit di kampus" ucap Aldo.


Lili hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Lili segera masuk dalam mobil dan menghela nafasnya pelan. Ia merasa sedikit lega karena akhirnya bisa melewati ini. Aldo yang melihat raut wajah Lili seperti cemas pun langsung memegang telapak tangannya.


"Kok dingin sekali ini tangannya? Kamu pasti cemas dan panik kan karena rumah sakit sudah sepi" tanya Aldo sambil melajukan mobilnya.


"Iya. Walaupun ada satpam yang kamu suruh buat jaga aku, tetap saja begini. Mungkin karena aku nggak dekat sama satpam itu" ucap Lili yang kini mencoba menenangkan pikirannya.


"Tenang ya. Tarik nafas berulangkali sampai tenang" ucap Aldo memberi instruksi.

__ADS_1


Lili melakukan semua yang diperintahkan oleh Aldo itu. Ia sedikit merasa tenang setelah tangannya terus dipegang begitu erat oleh Aldo.


__ADS_2